Wamenag: Belajar Agama Jangan Cuma lewat Internet dan Medsos

0

JAKARTA (Suara Karya): Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi menyambut baik tumbuhnya semangat (ghirah) masyarakat untuk belajar agama dalam beberapa tahun terakhir ini. Namun, ghirah tersebut hendaknya tak berhenti di internet dan media sosial (medsos) saja.

“Jika belajar lewat dua saluran itu, sulit dipastikan kesesuaian metode belajar, sanad keilmuan dan kapasitas pengajar agamanya,” kata Zainut dalam sambutan pada wisuda SMP dan SMA Pesantren Modern Internasional Dea Malela di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (1/4/2021).

Hadir dalam kesempatan itu, Pengasuh Pesantren Modern Internasional Dea Malela, Prof Din Syamsuddin dan Bupati Sumbawa, Mahmud Abdullah.

Karena itu, Wamenag mengusulkan, pendidikan model pesantren sebagai solusi atas semangat masyarakat untuk belajar agama saat ini.

“Pembelajaran agama yang keliru, terbukti berpengaruh atas munculnya eksklusivisme beragama dan intoleransi. Selain juga berpotensi konflik di tengah masyarakat, serta mengancam kesatuan bangsa dan nilai-nilai kemanusiaan,” ujarnya.

Ditambahkan, pesantren sebagai institusi pendidikan warisan para ulama, terbukti berhasil melahirkan banyak individu unggul di berbagai bidang, serta mengamalkan nilai ajaran Islam dengan tetap mengedepankan ilmu dan akhlak, berjiwa mandiri, seimbang dan moderat.

Bahkan, kata Wamenag, jauh sebelum kemerdekaan, masyarakat pesantren telah berkontribusi dalam bidang dakwah, pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. “Lewat perjuangan dan kepemimpinan para ulama, pesantren mampu memberi kontribusi besar dalam pendririan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.

Menurut Wamenag, keberhasilan pesantren dalam kontribusi positif kepada bangsa dan negara penting untuk terus dipertahankan. Termasuk tugas pesantren yang tak kalah penting, yaitu menjaga dan mengawal moral, akhlak bangsa dan menebarkan pemahaman beragama yang toleran, moderat, seimbang, adil dan berkemajuan.

Wamenag yakin, pesantren bisa menjadi tonggak utama dalam mengawal moderasi beragama. Hal itu menjadi solusi antara dua ekstremitas beragama, yaitu ekstremitas ultrakonservatif dan ekstremitas liberal.

Pesan senada disampaikan pengasuh pesantren, Prof Din Syamsuddin. Ia mengingatkan para santri untuk memegang teguh ikrar. Para santri juga diminta terus menebarkan ajaran Islam sebagai agama rahmat ‘din ar-rahmah’ untuk sekalian alam.

Para santri juga diminta menjadi bagian dari ‘ummatan wasathan’, umat yang adil dan pilihan agar menjadi saksi atas perbuatan manusia.

Kepada para pengurus, Din berharap Pesantren Modern Internasional (PMI) Dea Malela bisa menjadi lembaga pendidikan berkeunggulan di tingkat global dalam melahirkan sumber daya insani beriman yang mandiri, kreatif, inovatif dan kompetitif. (Tri Wahyuni)