JAKARTA (Suara Karya): Inflasi tahunan DKI Jakarta pada Oktober 2026 tercatat sebesar 2,52 persen (year-on-year/yoy), terendah dibandingkan seluruh provinsi di Indonesia. Capaian tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,23 persen dan masih berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta Iwan Setiawan mengatakan, inflasi Jakarta secara bulanan pada Oktober 2026 tercatat sebesar 0,13 persen (month-to-month/mtm), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 0,22 persen.
“Inflasi Jakarta pada Oktober 2026 tercatat stabil sebesar 0,13 persen (mtm). Sementara itu, secara tahunan inflasi Jakarta mencapai 2,52 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,23 persen dan merupakan yang terendah di antara seluruh provinsi di Indonesia,” ujar Iwan dalam keterangan resmi Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, dikutip Selasa (3/11/2026).
Iwan menjelaskan, berdasarkan kelompok pengeluaran, Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran menjadi penyumbang utama inflasi Jakarta pada Oktober 2026. Kelompok ini mencatat inflasi sebesar 0,28 persen (mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,05 persen.
Kenaikan tersebut terutama didorong oleh meningkatnya harga sejumlah makanan jadi, antara lain sate, martabak, dan pizza.
Selain itu, kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga mencatat inflasi sebesar 0,12 persen (mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,03 persen. Kenaikan tarif kontrak rumah menjadi faktor utama yang mendorong inflasi kelompok tersebut.
Sementara itu, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau mengalami inflasi sebesar 0,02 persen (mtm). Angka ini melandai dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 0,46 persen.
Menurut Iwan, tekanan inflasi pada kelompok tersebut terutama dipengaruhi kenaikan harga cabai merah akibat penurunan produksi di sejumlah sentra pangan di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur seiring kondisi kemarau.
Kondisi cuaca yang kurang kondusif juga memengaruhi produksi tomat serta hasil tangkapan ikan kembung dan ikan mas.
Namun, tekanan inflasi lebih lanjut tertahan oleh penurunan harga daging ayam ras sejalan dengan koreksi harga live bird di tengah permintaan yang relatif stabil. Penurunan harga minyak goreng akibat pelemahan harga CPO global, serta koreksi harga pepaya dan bawang merah, turut meredam tekanan inflasi kelompok tersebut.
“Tekanan inflasi pada kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau relatif melandai dibandingkan bulan sebelumnya. Meskipun terdapat kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, penurunan harga daging ayam ras, minyak goreng, pepaya, dan bawang merah turut menahan tekanan inflasi,” jelasnya.
Tekanan inflasi lainnya berasal dari kelompok Kesehatan yang mencatat inflasi sebesar 0,67 persen (mtm), sedikit meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,63 persen. Kenaikan tarif rumah sakit menjadi faktor utama pendorong inflasi kelompok tersebut.
Kenaikan upah asisten rumah tangga (ART) dan tarif jasa servis AC juga memberikan tekanan inflasi pada kelompok Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga.
Di sisi lain, tekanan inflasi tertahan oleh deflasi kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya sebesar 0,03 persen (mtm), setelah pada bulan sebelumnya mencatat inflasi sebesar 0,08 persen.
Deflasi tersebut terutama dipengaruhi penurunan harga emas perhiasan sejalan dengan berlanjutnya tren pelemahan harga emas global.
TPID Perkuat Strategi 4K
Untuk menjaga stabilitas harga, Iwan menyampaikan bahwa Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi melalui implementasi strategi 4K sepanjang Oktober 2026.
Strategi tersebut mencakup Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.
Dari sisi Keterjangkauan Harga, upaya dilakukan melalui Program Pangan Bersubsidi, pasar murah, serta Gerakan Cabai Harga Terjangkau.
Pada aspek Ketersediaan Pasokan, penguatan dilakukan melalui panen padi dan pengawasan keamanan pangan.
Sementara itu, Kelancaran Distribusi didukung optimalisasi distribusi pangan BUMD, termasuk melalui layanan truk keliling dan penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Adapun Komunikasi Efektif diperkuat melalui peningkatan koordinasi dan kapasitas TPID, serta penguatan sinergi dan pertukaran praktik terbaik antardaerah.
“Sepanjang Oktober 2026, TPID Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi melalui implementasi strategi 4K. Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai program untuk menjaga keterjangkauan harga, memastikan ketersediaan pasokan, memperlancar distribusi, serta memperkuat komunikasi dan koordinasi antardaerah,” kata Iwan.
Ke depan, sinergi pengendalian inflasi melalui strategi 4K akan terus diperkuat untuk mengantisipasi risiko tekanan inflasi global maupun domestik.
Dari sisi global, ketidakpastian geopolitik menjadi salah satu risiko yang dapat memengaruhi tekanan inflasi. Sementara dari sisi domestik, gangguan produksi pangan akibat kondisi cuaca kering dan fenomena El Nino perlu diantisipasi.
Iwan menegaskan, penguatan koordinasi TPID bersama seluruh pemangku kepentingan menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas harga di Jakarta. (Boy)

