JAKARTA (Suara Karya): Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi DKI Jakarta mulai serius menggarap sektor ekonomi kreatif sebagai salah satu sumber pertumbuhan baru ibu kota. Salah satu langkah yang kini didorong yakni melalui penyelenggaraan Jakarta Youth Film Festival (JYFF) 2026.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan, mengatakan festival tersebut bukan sekadar ajang perfilman anak muda, melainkan bagian dari strategi memperkuat ekosistem ekonomi kreatif Jakarta di tengah tantangan ekonomi global.
Pernyataan itu disampaikan Iwan dalam kegiatan Bincang Bareng Media (BBM) di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
“JYFF menjadi bagian dari upaya mendorong sumber pertumbuhan ekonomi baru berbasis ekonomi kreatif,” kata Iwan.
Ia menjelaskan, Jakarta memiliki kekuatan besar di sektor kreatif, terutama karena ditopang generasi muda, perkembangan teknologi digital, serta tingginya aktivitas industri jasa dan hiburan di ibu kota. Karena itu, BI DKI Jakarta menilai sektor kreatif perlu terus diperluas agar memberi dampak ekonomi yang lebih besar.
JYFF 2026 sendiri akan menjadi bagian dari rangkaian Jakarta Economic Forum (JEF) dan Jakarta Kreatif Festival (JKF). Festival ini diharapkan mampu membuka ruang kolaborasi bagi pelaku industri kreatif, komunitas film, kreator muda, hingga pelaku usaha pendukung lainnya.
Menurut Iwan, penguatan ekonomi kreatif penting dilakukan agar struktur ekonomi Jakarta tidak hanya bertumpu pada sektor perdagangan dan jasa konvensional. Industri kreatif dinilai memiliki potensi besar menciptakan lapangan kerja baru sekaligus meningkatkan daya saing Jakarta sebagai kota global.
Selain itu, BI DKI Jakarta juga melihat geliat ekonomi digital yang terus tumbuh di Jakarta menjadi modal kuat bagi pengembangan industri kreatif, termasuk perfilman dan konten digital. Hal itu tercermin dari tetap kuatnya pertumbuhan sektor informasi dan komunikasi pada awal tahun ini.
Iwan menegaskan, pihaknya akan terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan berbagai pemangku kepentingan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, termasuk melalui pengembangan sektor kreatif yang lebih inklusif dan berkelanjutan. (Boy)
