JAKARTA (Suara Karya): Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi DKI Jakarta mencatat laju inflasi di ibu kota melambat pada Mei 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi bulanan DKI Jakarta tercatat sebesar 0,12 persen, lebih rendah dibandingkan April 2026 yang mencapai 0,21 persen.
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi DKI Jakarta Iwan Setiawan mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan stabilitas harga di Jakarta tetap terjaga di tengah berbagai tantangan perekonomian global. Menurutnya, sinergi pengendalian inflasi yang dilakukan bersama pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan terus membuahkan hasil positif.
“Inflasi DKI Jakarta tetap terkendali dan berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional,” ujar Iwan dalam siaran persnya di kutip, Rabu (3/5/2026).
Secara tahunan, inflasi DKI Jakarta pada Mei 2026 tercatat sebesar 2,49 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,08 persen dan menjadi yang terendah di antara seluruh provinsi di Pulau Jawa. Capaian ini mencerminkan kondisi harga yang relatif stabil di wilayah ibu kota.
BI DKI Jakarta menjelaskan bahwa kelompok transportasi menjadi penyumbang utama inflasi pada Mei 2026. Kenaikan tarif angkutan udara dipengaruhi meningkatnya biaya avtur serta tingginya permintaan masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha dan libur panjang Waisak. Meski demikian, tekanan inflasi dari kelompok tersebut lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.
Selain transportasi, inflasi juga didorong oleh kenaikan harga bahan bakar rumah tangga nonsubsidi. Penyesuaian harga LPG nonsubsidi yang mulai berlaku sejak April 2026 menyebabkan kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mencatat kenaikan harga pada Mei.
Di sisi lain, tekanan inflasi berhasil diredam oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan. Harga daging ayam ras, tomat, dan cabai rawit mengalami penurunan seiring membaiknya pasokan dan meningkatnya produksi di sejumlah daerah. Kondisi tersebut membantu menjaga laju inflasi tetap terkendali.
Faktor penahan inflasi lainnya berasal dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Penurunan harga emas perhiasan yang mengikuti pergerakan harga emas global mendorong terjadinya deflasi pada kelompok tersebut selama Mei 2026.
Iwan menegaskan BI DKI Jakarta bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas harga. Langkah yang ditempuh antara lain melalui penguatan pasokan pangan strategis, penyelenggaraan pasar murah, distribusi pangan bersubsidi, serta mitigasi risiko gangguan produksi menjelang musim kemarau.
Ia optimistis inflasi Jakarta tetap berada dalam rentang sasaran 2,5±1 persen sepanjang 2026. Menurutnya, penguatan strategi pengendalian inflasi melalui aspek ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif akan menjadi kunci menjaga stabilitas harga di ibu kota. (Boy)
