Suara Karya

Raih IPK di Bawah 2,75, Penerima Beasiswa SDM Sawit Terancam Kehilangan Bantuan

JAKARTA (Suara Karya): Penerima Program Beasiswa SDM Sawit 2026 harus menjaga prestasi akademiknya selama menempuh pendidikan. Kareba mahasiswa yang memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di bawah 2,75 berisiko kehilangan bantuan pendidikan yang diterimanya.

“Jika IPK di bawah 2,75, beasiswa akan dihentikan. Mahasiswa tetap bisa melanjutkan kuliah, tetapi pembiayaan ditanggung sendiri,” kata Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Mohammad Alfansyah dalam Media Briefing Beasiswa SDM Sawit 2026 di Jakarta, Selasa (2/6/26).

Selain prestasi akademik, penerima beasiswa juga wajib mematuhi seluruh aturan kampus. Mahasiswa yang dikeluarkan dari perguruan tinggi karena pelanggaran akademik maupun disiplin, otomatis kehilangan status sebagai penerima beasiswa.

Meski menerapkan aturan ketat, BPDP memastikan tidak akan meminta mahasiswa untuk mengembalikan dana yang telah diterima, jika gagal menyelesaikan pendidikan.

“Kami memahami sebagian besar peserta berasal dari keluarga pekebun dan masyarakat yang membutuhkan dukungan pendidikan. Karena itu tidak ada kewajiban mengembalikan dana beasiswa yang sudah diterima,” ujarnya.

Menurut Alfansyah, kebijakan tersebut diambil karena biaya pendidikan yang telah dibayarkan tetap memberi manfaat berupa ilmu dan pengalaman yang diperoleh mahasiswa selama menjalani perkuliahan.

BPDP juga telah mengubah mekanisme penyaluran uang saku mahasiswa. Jika sebelumnya diberikan dalam periode tertentu, kini bantuan biaya hidup disalurkan setiap bulan.

“Langkah itu dilakukan untuk meningkatkan akuntabilitas penggunaan dana sekaligus mengantisipasi kemungkinan mahasiswa berhenti kuliah di tengah jalan,” tuturnya.

Data BPDP menunjukkan angka mahasiswa yang tidak menyelesaikan pendidikan relatif kecil. Namun, berbagai risiko seperti pelanggaran akademik, mengundurkan diri, hingga meninggal dunia tetap menjadi pertimbangan dalam pengelolaan program.

Pernyataan itu disampaikan terkait pendaftaran Program Beasiswa SDM Sawit 2026 mulai 3 Juni hingga 30 Juni melalui laman resmi BPDP. Tersedia kuota hingga 5000 orang.

Program yang telah berjalan sejak 2016 itu ditujukan untuk mencetak sumber daya manusia unggul bagi sektor perkebunan kelapa sawit. Penerima beasiswa tak hanya mendapat dukungan biaya pendidikan, tetapi juga pembekalan keterampilan, magang industri, hingga penguatan karakter dan kepemimpinan.

Program ini diperuntukkan bagi mahasiswa jenjang Diploma dan Sarjana (S1) di 42 perguruan tinggi mitra yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Ditanya apalah program beasiswa mengajak kampus ternama sebagai mitra, Alfansyah mengatakan, tidak semua perguruan tinggi ternama otomatis bisa menjadi mitra Program Beasiswa SDM Sawit.

Bagi BPDP, yang terpenting bukan reputasi kampus di atas kertas, melainkan kemampuan mencetak lulusan yang siap bekerja dan bertahan di lapangan.

“Ada sejumlah perguruan tinggi yang mengajukan diri sebagai mitra program beasiswa tahun 2026. Namun, tidak semuanya dapat diakomodasi karena harus kebutuhan SDM di industri sawit yang sangat spesifik,” tegasnya.

Menurutnya, perguruan tinggi dengan peringkat akademik tinggi belum tentu cocok dengan kebutuhan program. Sebab, BPDP menginginkan kampus yang tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga aktif mendampingi mahasiswa hingga mendapat tempat magang dan pengalaman kerja lapangan.

“Yang kami butuhkan adalah lulusan yang tangguh di lapangan. Mahasiswa harus siap ditempatkan di kebun, pabrik, maupun lokasi kerja yang menuntut ketahanan fisik dan mental,” ujarnya.

Karena itu, selain pembelajaran akademik, peserta beasiswa juga mendapat pembinaan mental dan kepemimpinan. BPDP bahkan menggandeng unsur TNI untuk memberi pelatihan karakter dan penguatan mental kepada mahasiswa sebelum menjalani praktik kerja lapangan.

Langkah tersebut dinilai penting karena banyak lulusan nantinya akan memimpin tim kerja di perkebunan pada usia yang relatif muda.

“Usia mereka mungkin baru 21 atau 22 tahun, tetapi harus mampu memimpin puluhan pekerja di lapangan. Karena itu kemampuan kepemimpinan dan mental menjadi sangat penting,” katanya.

Sementara itu, Direktur Politeknik CWE, St. Nugroho Kristono menegaskan, pendidikan sawit saat ini jauh dari kesan tradisional. Berbagai teknologi mutakhir telah masuk ke dalam kurikulum untuk menjawab kebutuhan industri modern.

Mahasiswa kini dibekali kemampuan mengoperasikan drone, Internet of Things (IoT), Geographic Information System (GIS), hingga pengembangan perangkat lunak yang dirancang khusus untuk mendukung operasional perkebunan.

“Bahkan beberapa minggu lalu kami bekerja sama dengan perusahaan drone ternama untuk melatih dosen dan mahasiswa menggunakan drone penyemprotan. Teknologi seperti ini sudah menjadi kebutuhan industri saat ini,” ujarnya.

Selain itu, kampus juga menggandeng berbagai perusahaan teknologi untuk mengembangkan sistem digital yang mampu memantau produksi perkebunan secara real time. Berbagai inovasi mahasiswa pun langsung diuji di kebun pendidikan maupun perusahaan sawit mitra.

Menurut Nugroho, kolaborasi dengan industri menjadi kunci agar pendidikan mampu mengikuti perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

“Kalau kampus berjalan sendiri akan sulit mengikuti semua perkembangan teknologi. Karena itu kami membuka kolaborasi dengan berbagai perusahaan agar mahasiswa memperoleh pengalaman langsung sesuai kebutuhan industri,” katanya. (Tri Wahyuni)

Related posts