JAKARTA (Suara Karya): Sejumlah pengusaha rumah potong hewan dan penggemukan sapi, mengeluh masuknya daging impor beku ke Indonesia. Sebab, selain memukul harga daging sapi lokal, kondisi tersebut berimbas kepada hancurnya bisnis pengusaha lokal.
Teten, salah seorang suplayer di Jakarta mengatakan bahwa perusahaannya biasa menyuplai daging sapi segar keberbagai daerah di Indonesia, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan Banten. Tetapi, sejak derasnya impor daging beku dari India, menjadikan harga daging sapi di Indonesia menjadi tidak kompetitif.

Teten mengakui, jika harga daging sapi lokal memang sedikit lebih mahal dibandingkan dengan harga daging beku impor dari India. Tetapi, secara kualitas tentunya daging lokal jauh lebih baik.
“Daging sapi lokal masih segar, karena baru keluar dari rumah potong hewan dan langsung didistribusikan ke pasar. Jadi wajar jika harganya sedikit lebih mahal,” kata Teten, saat acara buka puasa bersama dengan jurnalis dan PT GGL di Jakarta, Sabtu (8/4/2023) malam.
Lebih jauh dia mengungkapkan, efek positif yang ditimbulkan dari penggunaan daging sapi lokal tentunya sangat banyak. Karena, selain membantu pemerintah mencukupi sumber protein hewani bagi masyarakat, ada banyak sekali tenaga kerja yang terlibat pada peternakan sapi hingga tempat pemotongan.

“Tentunya ini juga membantu program pemerintah dalam menyerap angka pengangguran,” katanya.
Hal senada juga dikatakan Didi, pelaku usaha yang terjun langsung menyuplai daging sapi segar kepada pedagang pasar di Kota Depok, Jawa Barat. Menurutnya, pemerintah harus mengerem impor daging asal India jika tidak ingin melihat banyak pelaku usaha persapian terus berguguran.
“Banyak suplayer daging yang sudah tiarap, karena harga jual dagingnya malah turun sedangkan mereka beli sapinya dengan harga yang tinggi. Ini faktor guyuran daging impor beku yang bikin rusak pasar,” kata Didi.
Dia berharap, pemerintah jangan hanya melihat bisa menjual harga daging kemasyarakat dengan murah, tetapi harus dipikirkan juga imbas yang terjadi kepada petani sapi serta jenis usaha turunannya.

“Banyak sekali masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari persapian nasional ini, mereka sebagian besar peternak dan pedagang kecil,” ujarnya.
Sekadar informasi, saat ini sebanyak 6 pengusaha penggemukan sapi raksasa di berbagai daerah di Indonesia gulung tikar. Kabarnya, itu terjadi imbas dari derasnya pasokan daging impor asal India.
Ditanya masalah pasokan dan harga daging sapi jelang lebaran ini, Didi mengungkapkan bahwa kemungkinan harga masih relatif stabil berkisar Rp 140.000/Kg.
“Kemungkinan pasokan daging Lebaran tahun ini masih aman, karena pemerintah juga masih memasukan daging impor beku,” ujarnya.
PASOKAN SAPI GGL
Salah satunya, PT Great Giant Livestock (GGL). Perusahaan di bidang ternak sapi di Indonesia turut serta memasok kebutuhan sapi hidup di wilayah Jabodetabek dan Sumatera sebanyak 10.000 ekor pada Lebaran 2023.
Direktur Corporate Affair Great Giant Foods Welly Soegiono mengatakan, pasokan sapi hidup tersebut sudah disiapkan pihaknya untuk mensuplai kebutuhan daging sapi kepada masyarakat.
“Sudah disiapkan sebanyak 10.000 yang akan didistribusikan kepada pemasok kami,” kata Welly dalam acara Buka Puasa Bersama Media, di Jakarta, Sabtu (8/4/2023).

Welly menuturkan, kebutuhan sapi hidup pihaknya meningkat dibandingkan tahun lalu. Di mana pasokan sapi hidup tahun lalu untuk kebutuhan masyarakat sebesar 9.000 ekor.
Adapun harga daging sapi yang dijual pihaknya terjangkau di kisaran harga Rp 103 ribu per kg. dibandingkan harga tahun 2022 sebesar Rp 112 ribu per kg.
Sebagai informasi, PT Great Giant Livestock (GGL) merupakan salah satu feedloter terbesar di Indonesia yang didirikan sejak tahun 1990 di Provinsi Lampung bagian selatan.
Feedloter ini terletak di dalam perkebunan Great Giant Pineapple di Lampung Tengah yang sibuk mengelola kulit nanas dan limbah tapioka untuk dijadikan sebagai pakan ternak. (Boy)
