Suara Karya

SCG Salurkan Beasiswa untuk 412 Pelajar dan Mahasiswa, Perkuat Talenta Muda Indonesia

JAKARTA (Suara Karya): PT SCG Indonesia kembali memperkuat komitmennya dalam pengembangan generasi muda di Indonesia melalui program beasiswa, SCG Sharing The Dream. Tahun ini, beasiswa diberikan kepada 412 pelajar dan mahasiswa.

Prosesi pemberian beasiswa dilaksanakan di Kantor Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Senayan, Jakarta, pada Selasa (11/8/26).

Beasiswa diberikan secara simbolik oleh Vice President Corporate Administration SCG, Paramate Nisagornsen, dan President Director SCG Indonesia, Pattarophon Charttongkum.

Hadir dalam kesempatan yang sama, Duta Besar Thailand untuk Indonesia, HE Prapan Disyatat; Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq; Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kemendikdasmen Maria Veronica Irene Herdjiono; dan Founder Ancora Foundation Gita Wirjawan.

Vice President Corporate Administration SCG, Paramate Nisagornsen dalam sambutannya menjelaskan, program beasiswa telah dijalankan secara konsisten di Indonesia sejak 2012, karena perusahaan menyadari investasi pada generasi muda adalah investasi untuk masa depan.

“Karena nilai sejati dari pendidikan itu tidak diukur dari prestasi akademik semata, tetapi bagaimana pendidikan memberi dampak positif bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat,” ujarnya.

Untuk itu, Paramate meminta kepada para penerima beasiswa perlu terus mengembangkan diri, agar memiliki kemampuan dalam beradaptasi, berjiwa tangguh, memiliki pola pikir kritis, dan berani melakukan perubahan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

“SCG Sharing The Dream bukan sekadar bantuan finansial. SCG memberi pengalaman yang sesungguhnya kepada generasi muda agar memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri, sekaligus mampu memberi dampak nyata bagi lingkungan sekitar,” tegasnya.

Ia mencontohkan salah satu inisiatif yang dijalankan penerima beasiswa, berupa community project. Guru juga dilibatkan melalui program upskilling. “Guru dilibatkan, karena mereka masuk dalam ekosistem pendidik yang akan memberi dampak nyata bagi para siswa,” katanya.

Program Sharing The Dream tak hanya di Indonesia. Program ini kami kembangkan pula di sejumlah negara ASEAN, antara lain Kamboja, Laos PDR, Filipina, dan Vietnam.

“Kontribusi generasi muda dari setiap negara menjadi faktor penting untuk memperkuat pertumbuhan dan daya saing di kawasan ASEAN,” ujarnya.

Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq dalam sambutannya mengatakan, beasiswa yang diberikan SCG merupakan kesempatan istimewa, yang tidak semua anak Indonesia bisa dapatkan.

Karena itu, ia meminta agar penerima beasiswa tak hanya mampu menuntaskan pendidikan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk kelak memberi manfaat ke masyarakat.

“Akses terhadap pendidikan yang baik menjadi salah satu kunci bagi anak-anak untuk mewujudkan mimpi, dan meningkatkan peluang mereka menjadi pemimpin yang lebih baik di masa depan,” tuturnya.

Fajar mengapresiasi PT SCG Indonesia yang secara konsisten memberi beasiswa kepada siswa Indonesia dalam 14 tahun terakhir ini. “Satu komitmen yang luar biasa, kami sangat menghargai,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi peran Ancora Foundation yang jadi penghubung dalam pelaksanaan program beasiswa. Peran lembaga tersebut penting guna memastikan dukungan yang diberikan SCG disalurkan kepada penerima yang tepat.

“Beasiswa SCG ini bisa menjadi contoh, bagaimana kolaborasi antara dunia usaha, lembaga sosial, dan pemerintah dapat memperluas akses pendidikan, terutama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu secara ekonomi,” pungkasnya.

Libatkan Guru dan Komunitas

Kepada media, President Director PT SCG Indonesia, Pattarophon Charttongkum menjelaskan, Program Sharing The Dream dalam pelaksanaannya melibatkan pelajar, mahasiswa, guru, dan komunitas.

“Pendekatan ini sejalan dengan komitmen SCG terhadap prinsip Environmental, Social and Governance (ESG),” katanya.

Pattarophon mengatakan generasi muda perlu dibekali pemahaman mengenai ESG agar mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari maupun di lingkungan keluarga.

“Kita ingin dunia menjadi lebih berwarna hijau. Salah satu program yang kami coba berikan untuk pelajar tentang green mindset melalui ESG. Karena pembangunan tak bisa dilakukan jika hanya mengandalkan dunia usaha. Perusahaan harus berkembang bersama komunitas,” ucapnya.

Soal dana beasiswa, Pattarophon mengungkapkan, dukungan finansial SCG melalui Sharing The Dream selama 14 tahun mencapai Rp22 miliar.

Sementara itu, program community project yang sejauh ini menghasilkan sekitar 12 proyek diperkirakan memberi dampak kepada sekitar 7.600 orang.

“Dampak terus meluas, karena para penerima manfaat kemudian menularkan pengetahuan dan pengalaman ke anak-anak lainnya baik di komunitas maupun lingkungan sekitar,” ujarnya.

SCG yang bergerak di industri semen, peralatan elektronik, kimia, dan investasi memiliki sekitar 6.000 karyawan di Indonesia, dengan total aset mencapai sekitar 3,5 miliar dolar Amerika.

Dukung Talenta Nasional

Kepala Puspresnas Kemendikdasmen, Maria Veronica Irene Herdjiono mengapresiasi program Sharing The Dream, karena hal itu dinilai sejalan dengan pengembangan manajemen talenta nasional.

Grand design manajemen talenta nasional mencakup 5 tahapan, yaitu identifikasi talenta, pengembangan talenta, aktualisasi talenta, apresiasi talenta, dan kapitalisasi talenta.

“Program SCG dapat mengisi ruang kapitalisasi talenta dengan mendorong anak muda mengubah kemampuan dan pengetahuan menjadi karya untuk menyelesaikan persoalan di lapangan,” katanya.

Irene mengatakan, anak-anak yang memiliki talenta dan prestasi tidak hanya membutuhkan beasiswa, tetapi juga kesempatan untuk terus mengembangkan diri.

“Riset kecil yang dilakukan Puspresnas sekitar 2 tahun lalu menunjukkan, beasiswa menjadi salah satu kebutuhan utama anak-anak bertalenta dan berprestasi, disusul kebutuhan terhadap pengembangan diri,” ungkapnya.

Irene menilai generasi muda Indonesia memiliki resiliensi dan kemampuan belajar yang tinggi. Modal tersebut perlu diperkuat dengan kemampuan adaptasi, berpikir kritis, kepemimpinan, dan problem solving.

Kembangkan Desa Wisata

Dampak program Sharing The Dream dirasakan alumni SCG, Lulita Sauman, yang mengembangkan Wanoja Green Academy di Desa Sukaweni, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Lulita mengatakan, program itu dibuka dari keprihatinannya terhadap keterbatasan akses anak muda di daerahnya untuk mengembangkan potensi, keterampilan, dan kepercayaan diri.

Lulita kemudian memberdayakan sekitar 50 anak muda melalui Wanoja Green Academy untuk belajar bahasa Inggris. Program tersebut dikembangkan sekaligus untuk mendorong potensi desa wisata dan ekowisata.

Masyarakat juga dilibatkan dalam mengolah sampah plastik menjadi suvenir bagi wisatawan. Hasilnya, program tersebut berhasil mengundang sekitar 20 wisatawan internasional dari 12 negara ke Desa Sukaweni.

Anak-anak muda yang telah mendapat pelatihan bahasa Inggris kemudian dilibatkan sebagai pemandu wisata.

Bagi Lulita, Sharing The Dream tidak hanya memberi bantuan pendidikan, tetapi juga mengubah pola pikirnya tentang kepemimpinan. (Tri Wahyuni)

Related posts