JAKARTA (Suara Karya): Keterbatasan geografis tak menjadi alasan bagi pelajar di Kabupaten Kepulauan Seribu untuk tertinggal. Karena itu, kesempatan untuk berkompetisi dan mengembangkan potensi diri dinilai menjadi kunci agar anak-anak di wilayah kepulauan mampu bersaing dengan pelajar dari daerah lain.
Kepala Suku Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Seribu, Muhammad Thohari mengatakan, tantangan pendidikan di wilayah kepulauan saat ini bukan semata persoalan sarana maupun akses pendidikan dasar, melainkan bagaimana membuka lebih banyak ruang bagi peserta didik untuk menunjukkan kemampuan mereka.
“Kalau saya melihat, kondisi pendidikan di sini sebenarnya masih normatif seperti sekolah-sekolah lain. Yang penting anak-anak kita sering diberi kesempatan untuk berkreasi dan mengeksplorasi kemampuan mereka,” kata Thohari, di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Kamis (25/6/26).
Menurutnya, jika anak hanya berkutat di lingkungan pulau, pengalaman dan wawasan mereka akan terbatas. Karena itu, Sudin Pendidikan Kepulauan Seribu terus mendorong siswa mengikuti berbagai ajang kompetisi secara berjenjang, mulai dari tingkat kabupaten hingga provinsi.
“Menang atau tidak, bukan yang utama. Yang penting mereka punya pengalaman dan keberanian untuk tampil. Buktinya, kemarin ada siswa SMP dari Kepulauan Seribu yang berhasil merebut juara tiga tingkat Provinsi DKI Jakarta. Artinya, anak pulau mampu bersaing,” katanya.
Selain memperluas kesempatan berprestasi, Thohari memastikan seluruh layanan pendidikan negeri di Kepulauan Seribu diberikan secara gratis, termasuk fasilitas asrama bagi siswa SMA dan SMK yang berasal dari pulau-pulau lain.
Pemerintah juga menyediakan transportasi laut gratis bagi peserta didik yang tinggal di pulau-pulau kecil. Kapal milik masyarakat disewa untuk mengantar dan menjemput siswa setiap hari, sehingga mereka dapat bersekolah tanpa terkendala jarak.
“Anak-anak dari pulau kecil diantar pagi dan dijemput kembali setelah pulang sekolah. Semua difasilitasi secara gratis, agar mereka tetap bisa mengakses pendidikan,” tegasnya.
Dalam pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026, Thohari menjelaskan, jalur prestasi untuk SMA dan SMK diprioritaskan bagi anak-anak Kepulauan Seribu.
Pendaftar dari wilayah daratan tetap dapat mengikuti seleksi, namun akan bergeser apabila terdapat calon peserta didik dari kepulauan yang memenuhi persyaratan.
Di jalur afirmasi, pemerintah memberi prioritas kepada kelompok tertentu, seperti anak tenaga kesehatan yang menjadi korban pandemi Covid-19, pemegang Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus, anak pengemudi JakLingko, dan penyandang disabilitas.
Thohari juga menyampaikan, pelaksanaan SPMB secara daring di Kepulauan Seribu berjalan lancar karena didukung jaringan internet yang relatif baik di hampir seluruh wilayah. Kendala sinyal hanya ditemui pada beberapa titik perairan saat perjalanan antarpulau.
Di sisi lain, ia mengakui kebutuhan guru masih menjadi tantangan, meski hingga kini proses pembelajaran tetap berjalan dengan baik. Sejumlah guru berstatus ASN maupun PPPK telah ditempatkan di sekolah-sekolah kepulauan, sementara sebagian lainnya masih berasal dari tenaga non-ASN.
“Yang terpenting adalah bagaimana kita terus membuka kesempatan bagi anak-anak Kepulauan Seribu. Kalau kesempatan itu diberikan, maka saya yakin mereka bisa menunjukkan bahwa kualitasnya tidak kalah dengan siswa di daratan,” ucap Thohari menandaskan. (Tri Wahyuni)
