JAKARTA (Suara Karya): Klinik dr Yanti Stem Cell Mangkuluhur merayakan dua tahun perjalanan operasionalnya dengan menegaskan komitmen untuk terus mengembangkan layanan terapi regeneratif berbasis stem cell, biohacking, wellness, dan estetika.
Dalam perayaan yang digelar di Jakarta, Minggu (14/6/26), Founder Klinik dr Yanti Stem Cell, dr Yanti Khusmiran menjelaskan, kliniknya kini tak hanya berkembang di Indonesia, tetapi juga di tingkat internasional.
“Perjalanan dua tahun ini telah membuktikan eksistensi kehadiran Klinik dr Yanti Stem Cell di Indonesia. Kami satu-satunya klinik stem cell asal Indonesia yang memiliki cabang di Dubai, Uni Emirat Arab, dan cabang kedua di kota Cancun, Meksiko,” tuturnya.
Ia menilai ekspansi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia dalam industri kesehatan global, sekaligus mendukung pengembangan sektor medical tourism.
“Kami ingin membantu pemerintah mengurangi devisa yang keluar karena masyarakat berobat ke luar negeri, sekaligus mendatangkan devisa melalui program medical tourism yang mulai dijalankan di Jakarta dan Bali,” katanya.
Dalam kesempatan itu, manajemen Klinik dr Yanti Stem Cell juga memaparkan tujuh pilar strategi pengembangan perusahaan.
Ke-7 pilar tersebut meliputi penguatan branding, positioning sebagai bagian dari jaringan internasional terapi stem cell melalui keanggotaan ISSCA (International Society for Stem Cell Application).
Selain juga peningkatan reputasi dokter yang telah tersertifikasi internasional, pengembangan layanan berdasarkan demografi pasien, penguatan daya tarik medical tourism, peningkatan pengalaman pasien, serta penerapan protokol terapi yang disebut semakin canggih dan terstandarisasi.
Klinik dr Yanti Stem Cell diketahui merupakan mitra dari Global Stem Cell Group yang berbasis di Amerika Serikat dan menjadi anggota ISSCA.
Menurut manajemen, kolaborasi internasional tersebut menjadi dasar untuk meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus memperkuat kegiatan riset dan pengembangan, guna meningkatkan hasil terapi bagi pasien.
Selama dua tahun terakhir, Klinik dr Yanti Stem Cell klinik telah menangani lebih dari 100 pasien dengan berbagai kasus kesehatan, mulai dari diabetes, stroke, gangguan jantung, autoimun, hingga gangguan neurologis seperti autisme.
“Diabetes tipe 2 menjadi kasus yang paling banyak ditangani selama dua tahun terakhir,” ungkapnya.
Menurutnya, diabetes tidak hanya berkaitan dengan kadar gula darah, tetapi juga berdampak pada kerusakan pembuluh darah yang pada akhirnya memicu komplikasi di berbagai organ vital.
“Diabetes merupakan akar dari banyak penyakit, karena komplikasinya bisa ke otak, jantung, ginjal, paru-paru, hingga mata,” ujarnya.
Ia menjelaskan, terapi stem cell yang dilakukan di kliniknya difokuskan pada perbaikan jaringan dan organ yang mengalami kerusakan, bukan hanya mengurangi gejala penyakit.
“Kami tidak mengobati simptomnya, tetapi organ yang sakit. Kalau diabetes, yang diperbaiki adalah pankreasnya. Jika fungsi pankreas membaik, maka pasien tidak perlu obat-obatan lagi,” ujarnya.
Menurut dr. Yanti, proses pemulihan pasien berbeda-beda tergantung tingkat kerusakan organ dan komplikasi yang dialami.
“Rata-rata mulai terlihat perbaikan dalam satu hingga tiga bulan, tetapi pada kasus yang sudah kronis dan mengalami komplikasi bisa membutuhkan waktu lebih dari satu tahun,” tuturnya.
Selain stem cell, Klinik dr Yanti juga memperkenalkan program biohacking yang menjadi salah satu inovasi terbaru. Biohacking merupakan pendekatan bioteknologi yang bertujuan memberi nutrisi dan dukungan pada sel, jaringan, serta organ yang mengalami penurunan fungsi.
Melalui pendekatan tersebut, pasien tak hanya menjalani terapi regeneratif, tetapi juga mendapat intervensi untuk memperbaiki kualitas hidup dan mendorong perubahan gaya hidup.
“Biohacking pada dasarnya memberi nutrisi kepada sel-sel yang mengalami kerusakan sehingga organ dapat kembali bekerja lebih optimal,” jelasnya.
Ia menilai perubahan pola hidup masyarakat modern menjadi tantangan besar dalam pencegahan penyakit degeneratif.
“Anak muda sekarang banyak yang usia 30 tahun sudah terkena diabetes. Bahkan ada yang usia 21 tahun. Pola makan tinggi gula dan kurang aktivitas menjadi penyebab utama,” katanya.
Dalam perayaan ulang tahun kedua tersebut, Klinik dr Yanti juga memperkenalkan program Ultra Luxury Stem Cells Medical Tourism, sebuah paket layanan eksklusif selama 4 hari yang menggabungkan terapi stem cell, biohacking, anti-aging, longevity, serta preventive medicine.
Paket tersebut mencakup konsultasi medis, pemeriksaan biomarker, akomodasi mewah, layanan pendampingan medis, hingga fasilitas VIP airport assistance.
Program itu ditujukan untuk pasien domestik maupun mancanegara yang ingin mendapat layanan kesehatan sekaligus menikmati pengalaman wisata di Indonesia.
“Kami ingin menjadikan Indonesia sebagai destinasi medical tourism yang mampu bersaing dengan negara lain seperti Malaysia dan Singapura,” katanya.
Dr Yanti mengklaim sekitar 80 persen pasien yang mengikuti terapi secara lengkap menunjukkan hasil yang baik.
“Kalau pasien mengikuti seluruh protokol terapi dan edukasi yang kami berikan, hasilnya sangat baik. Kendalanya, justru pada pasien tidak melanjutkan terapi atau tidak disiplin dalam menjalankan pola hidup sehat,” ujarnya.
Selain diabetes, kasus yang banyak ditangani meliputi autoimun, stroke, gangguan jantung, gangguan saraf, hingga terapi pendukung untuk pasien kanker melalui pendekatan imunoterapi berbasis sel.
Menutup paparannya, dr Yanti berharap pemerintah dapat memberi dukungan lebih besar terhadap pengembangan terapi stem cell di Indonesia.
Ia meyakini teknologi regeneratif akan menjadi bagian penting dari masa depan layanan kesehatan, terutama dalam menangani penyakit degeneratif yang terus meningkat.
“Kami berharap pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dapat memberi dukungan yang positif terhadap pengembangan terapi stem cell, sehingga manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Dengan ekspansi ke Dubai dan Meksiko serta pengembangan layanan medical tourism, Klinik dr Yanti Stem Cell menargetkan dapat menjadi salah satu pionir terapi regeneratif asal Indonesia yang mampu bersaing di pasar kesehatan internasional. (Tri Wahyuni)
