Lewat ‘Si Kompeten’, Uji Kompetensi Keahlian Kini jadi Lebih Mudah

0

JAKARTA (Suara Karya): Uji kompetensi keahlian kini jadi lebih mudah lewat aplikasi bernama Si Kompeten. Uji kompetensi ini tak hanya berlaku bagi lulusan sekolah vokasi, kursus atau pelatihan, tetapi juga masyarakat umum yang ingin mencari sertifikat kompetensi atas keahliannya.

“Kalau ada ibu rumah tangga yang ingin cari sertifikat kompetensi memasak, bisa mendaftar ke Si Kompeten,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek), Wikan Sakarinto dalam Bincang Pendidikan secara daring, Jumat (3/9/21).

Ditambahkan, sertifikasi kompetensi terutama diperlukan bagi lulusan kursus dan pelatihan yang akan masuk dunia kerja. Sertifikasi itu harus memiliki standar yang sesuai dengan kebutuhan industri.

“Kompetensi keahlian yang diujikan harus benar-benar memenuhi prinsip dasar link and match,” ucap Wikan menegaskan.

Wikan menyebut 3 hal yang menjadi latar belakang pengembangan ‘Si Kompeten’, yaitu komitmen Kemdikbudristek dalam penjaminan mutu lulusan, peningkatan mutu lulusan, dan digitalisasi dengan mengoptimalkan teknologi untuk memudahkan cara kerja.

Pernyataan senada dikemukakan Direktur Kursus dan Pelatihan, Ditjen Diksi, Kemdikbudristek, Wartanto. Si Kompeten dibuat untuk menjawab tantangan digitalisasi yang terjadi saat ini. Aplikasi tersebut diharapkan dapat menjangkau sumber daya manusia (SDM) di seluruh Indonesia.

“Peserta didik dapat mendaftar tanpa perlu hadir ke tempat uji kompetensi (TUK),” ujarnya.

Ditambahkan, sistem pada ‘Si Kompeten’ bekerja secara otomatis, transparan dan terpercaya. Sehingga hasil uji dapat segera diketahui. Aplikasi dapat diakses melalui laman kursus.kemdikbud.go.id/ujk.

“Sistem ini memberi solusi pada SDM yang menginginkan sertifikasi atas kompetensi yang mereka miliki secara lebih mudah dan terintegrasi,” katanya.

Wartanto menambahkan, jika ingin menggunakan ‘Si Kompeten’, peserta harus masuk ke aplikasi terlebih dahulu untuk mendaftar. Setelah itu, peserta disilakan mengikuti petunjuk yang tersedia.

“Aplikasi itu tak hanya untuk peserta didik program bantuan uji kompetensi dari pemerintah, tetapi juga bisa dimanfaatkan oleh peserta yang daftar secara mandiri.

“Lewat ‘Si Kompeten’, peserta didik kini bisa lebih mudah mendapat sertifikat sesuai bidang keahliannya. Sertifikat kompetensi itu dapat meningkatkan percaya diri untuk mencari kerja,” ucapnya.

Ditanya soal persentase kelulusan Si Kompetensi saat ini, Wartanto mengatakan, sekitar 70 persen. Kendati demikian, peserta yang tidak lulus dapat kesempatan untuk mendaftar kembali. “Materi uji kompetens ini tidak sama dengan materi yang diajarkan di sekolah. Kita berbicara kompetensi dunia kerja, tentu saja materinya terkait dengan hal itu,” katanya menegaskan.

Dirjen Diksi menambahkan, sertifikasi adalah penilaian terhadap kompetensi seseorang secara komprehensif melalui uji kompetensi, yang diselenggarakan lembaga-lembaga sertifikasi. Pelaksanaan uji kompetensi di beberapa bidang tak hanya dilaksanakan di dalam negeri saja, tetapi juga di luar negeri, yaitu Singapura dan Hongkong.

“Pemerintah akan terus memfasilitasi dan penyelenggaraan uji kompetensi, yang akan memudahkan masyarakat memiliki sertifikasi kompetensi,” kata Wikan.

Di Indonesia, ada lebih dari 17.533 Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) yang melayani puluhan ribu peserta didik uji kompetensi setiap tahunnya. Uji kompetensi juga bisa diselenggarakan oleh lembaga sertifikasi kompetensi.

“Uji kompetensi untuk mengukur pencapaian kompetensi yang dikuasai peserta didik di satuan pendidikan kursus, satuan pendidikan lainnya, serta masyarakat yang belajar mandiri. Uji kompetensi ini mengacu pada standar kompetensi lulusan (SKL) yang ditetapkan,” ujarnya.

Adapun SKL kursus dan pelatihan merupakan kriteria minimal yang mencakup kesatuan sikap, keterampilan, dan pengetahuan, yang menunjukkan capaian kemampuan peserta didik dari hasil pembelajarannya di akhir jenjang pendidikan.

SKL dikembangkan bersama organisasi profesi, akademisi, dunia kerja dan pemerintah teknis bidang terkait. Kompetensi pada SKL sendiri mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), Standar Kompetensi Khusus (SKK) dan Standar Kompetensi Internasional (SKI).

Sertifikasi kompetensi memastikan SDM tersebut memiliki kredibilitasnya dalam melakukan pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. SKL Kursus dan Pelatihan disusun berbasis KKNI sesuai dengan amanat Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) Nomor 20 Tahun 2003.

UU tersebut menekankan pentingnya pemenuhan target, kualitas, proses maupun output dari sebuah program pendidikan.

SKL kursus dan pelatihan juga memperhatikan Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang mengatur jenjang kualifikasi sumber daya manusia Indonesia berdasarkan capaian dari pendidikan.

Data uji kompetensi melalui Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK) menunjukkan jumlah peserta uji kompetensi selama 2009 hingga 2021 sebanyak 603.245 orang. Jumlah peserta yang lulus atau memperoleh sertifikat kompetensi sebanyak 446.697 orang.

“Tingkat kelulusan uji kompetensi sebesar 74 persen selama kurun waktu 12 tahun terakhir ini. Mudah-mudahan aplikasi ‘Si Kompeten’ bisa benar-benar dimanfaatkan secara luas,” kata Wikan.

Peserta uji kompetensi yang telah menerima sertifikat kompetensi terdiri dari 26 bidang, yakni Bahasa Inggris, Penyehatan Tradisional Ramuan Indonesia, Pemasaran Digital, Ekspor Impor, Elektronika, Master of Ceremony, Membatik, Mengemudi Kendaraan Bermotor, Otomotif Teknik Kendaraan Ringan dan Otomotif Teknik Sepeda Motor.

Selain itu masih ada Pekarya Kesehatan, Pendidik PAUD, Pengasuh Anak, Penyiaran, Perhotelan dan Kapal Pesiar, Pijat Refleksi Indonesia, Pijat Tradisional, Sekretaris, Senam Indonesia, Sinshe, Spa, Tata Boga, Tata Busana, Tata Kecantikan, Tata Rias Pengantin, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi.

Aji Syamsurijal selaku Ketua Forum Lembaga Sertifikasi Kompetensi mendukung kehadiran ‘Si Kompeten’. Ia menilai, platform tersebut merupaka gebrakan luar biasa dalam pelaksanaan uji kompetensi.

“Lewat uji kompetensi yang semakin memudahkan, maka LKP dan SMK akan lebih berminat melakukan sertifikasi kompetensi,” ujarnya.

Menurut Aji, sertifikat kompetensi setara dengan ijazah kelulusan bagi yang peserta didik vokasi. Keuntungan bagi peserta didik bisa langsung tahu apakah ia sudah kompeten atau belum. Bagi masyarakat, khususnya dunia kerja dan dunia industri (DUDI) bisa mengidentifikasi kemampuan dari lulusan vokasi.

Sementara itu, Gina Salma, peserta LKP Royal Marine merasa terbantu dengan adanya ‘Si Kompeten’. “Meski sekarang saya sudah bekerja di Dubai, saat ingin menguji kompetensi untuk level yang lebih tinggi, bisa saya lakukan di tempat kerja. Saya bisa menyelesaikan tes itu dalam 15 menit,” kata tersebut, di mana saja dan kapan saja,” kata Gadis kelahiran Cianjur yang menjadi major staff di salah satu hotel ternama di Dubai.

Gina merasa bersyukur karena hasil uji kompetensinya menyatakan ia layak untuk naik ke level berikutnya. Hasil uji kompetensi yang langsung keluar setelah tes, diapresiasi oleh perusahaan dan membuatnya dipromosikan untuk menjadi premiere staff. (Tri Wahyuni)