JAKARTA (Suara Karya): Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) meluncurkan gerakan pelatihan satu juta guru mahir Artificial Intelligence (AI) dan coding, sebagai langkah strategis mempercepat transformasi pendidikan nasional di era digital.
Ketua Umum PGRI, Unifah Rosyidi, menegaskan, program ini merupakan komitmen nyata organisasi dalam meningkatkan kualitas dan kompetensi guru agar adaptif terhadap perkembangan teknologi.
“Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya strategis PGRI dalam mendorong transformasi pendidikan nasional di era digital,” kata Unifah dalam Konferensi Kerja Nasional (Konkernas) II PB PGRI di Jakarta, Kamis (16/4/26) malam.
Hadir dalam kesempatan itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti; Jaksa Agung ST Buharnuddin; Wamendikdasmen Atif Latifulhayat; serta Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Uus Kuswanto.
Unifah menjelaskan, inisiatif tersebut sebenarnya bukan hal baru. PGRI telah lebih dulu aktif menggelar berbagai pelatihan digital, termasuk learning series yang melibatkan akademisi dan praktisi pendidikan, pada masa pandemi untuk mengatasi ‘learning loss’.
Antusiasme tinggi terlihat dari partisipasi lebih dari seribu guru dari berbagai daerah yang hadir secara mandiri dalam kegiatan tersebut.
“Guru-guru ini datang dengan biaya sendiri. Ini menunjukkan semangat luar biasa untuk terus belajar dan berkembang,” katanya.
Program pelatihan akan dilaksanakan melalui berbagai metode, mulai dari pelatihan daring, seminar, hingga kolaborasi dengan pemerintah daerah dan mitra swasta. Pendekatan digital dinilai menjadi kunci untuk menjangkau target besar satu juta guru di seluruh Indonesia.
Di sisi lain, pemerintah juga ikut memperkuat arah kebijakan peningkatan kompetensi guru. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti dalam sambutan daringnya menyampaikan, AI dan coding saat ini masih menjadi mata pelajaran pilihan, namun ke depan akan diarahkan menjadi mata pelajaran wajib.
“AI dan coding akan menjadi mata pelajaran wajib ketika jumlah guru dan sarana pendukung sudah memadai,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia menekankan, peran guru tidak hanya sebagai agen pembelajaran, tetapi juga sebagai agen peradaban yang membentuk karakter dan masa depan bangsa. Karena itu, peningkatan kompetensi guru menjadi prioritas utama pemerintah.
“Kemendikdasmen saat ini menjalankan sejumlah program strategis, antara lain peningkatan kualifikasi guru melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi 150 ribu guru, serta lima pelatihan utama mencakup deep learning, peran guru sebagai wali, STEM, AI dan coding, serta bahasa Inggris,” katanya.
Program tersebut sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Wakil Menteri Pendidikan, Atif Latifulhayat menambahkan, teknologi seperti AI tidak akan menggantikan peran guru. Sebaliknya, teknologi harus dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk memperkuat kualitas pembelajaran.
“AI akan memberi respons sesuai kualitas instruksi yang diberikan. Karena itu, kapasitas guru tetap menjadi kunci,” ujarnya.
Sementara itu, Jaksa Agung RI, ST Burhanuddin menegaskan, pentingnya peran guru sebagai arsitek peradaban. Ia juga menekankan perlunya perlindungan hukum agar guru dapat menjalankan tugas secara profesional tanpa rasa takut.
“Guru adalah ujung tombak dalam membangun karakter bangsa. Tanpa pendidikan yang kuat, akan sulit mewujudkan keadilan,” katanya.
Selain dukungan pemerintah pusat, komitmen juga datang dari pemerintah daerah. Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Uus Kuswanto, memastikan, sektor pendidikan tetap menjadi prioritas meski terjadi tekanan anggaran.
Dengan sinergi antara PGRI, pemerintah pusat, dan daerah, gerakan satu juta guru mahir AI dan coding diharapkan mampu melahirkan tenaga pendidik yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga mampu mengintegrasikannya dalam pembelajaran yang lebih mendalam dan bermakna. (Tri Wahyuni)
