Suara Karya

TSG 2026, Menaker Yassierli Dorong Generasi Muda Jadi Penggerak Inovasi

JAKARTA (Suara Karya): Menteri Ketenagakerjaan, Prof Yassierli PhD mengajak generasi muda Indonesia untuk menjadi motor penggerak inovasi, guna mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Karena sumber daya manusia (SDM) yang memiliki semangat, pola pikir, dan kemampuan berinovasi adalah kunci bagi Indonesia untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia.

Ajakan tersebut disampaikan Yassierli saat menjadi pembicara dalam Tanoto Scholars Gathering (TSG) 2026 di Pangkalan Kerinci, Riau, Sabtu (22/7/26).

Di hadapan ratusan penerima beasiswa Tanoto Foundation, Yassierli kembali menekankan, inovasi tak lagi menjadi pilihan, tetapi kebutuhan bagi bangsa yang ingin bersaing di tingkat global.

Ia mengutip The World in 2050 Report terbitan PricewaterhouseCoopers (PwC), yang memproyeksikan Indonesia akan menjadi ekonomi terbesar ke-4 di dunia setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat.

Prediksi tersebut dinilai sejalan dengan target pemerintah mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Meski demikian, Yassierli mengingatkan, cita-cita tersebut hanya dapat dicapai jika Indonesia mampu meningkatkan kualitas SDM, terutama dalam melahirkan generasi yang inovatif.

“Kata kunci yang menjadi tantangan kita adalah inovasi. Saya yakin para Tanoto Scholar memiliki kompetensi untuk menjadi pemimpin yang mampu berkontribusi mewujudkan Indonesia Emas 2045,” ujarnya.

Yassierli mengakui posisi Indonesia dalam pemeringkatan inovasi global masih perlu ditingkatkan. Hal itu merujuk pada Global Innovation Index 2025, yang menempatkan Indonesia di peringkat ke-55, masih jauh tertinggal dari sejumlah negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam.

Meski demikian, Yassierli optimistis Indonesia dapat bertransformasi menjadi ‘innovation nation’ apabila mampu mencetak lebih banyak pemimpin muda yang memiliki kemampuan menciptakan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.

Dalam paparannya, Yassierli menegaskan, inovasi tidak selalu berarti menciptakan produk baru. Inovasi adalah kemampuan menghadirkan nilai baru, baik dalam bentuk barang, jasa, maupun model layanan.

Ia menilai inovasi selalu berangkat dari empati terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat. Sebagai contoh, ia menyinggung lahirnya aplikasi transportasi daring yang muncul dari kebutuhan masyarakat atas transportasi yang cepat dengan menggunakan kendaraan roda dua.

“Dengan empati, kita memiliki perhatian terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat. Banyak inovasi besar lahir dari kepedulian tersebut,” katanya.

Selain empati, inovasi juga didorong keinginan untuk terus memperbaiki keadaan. Hadirnya berbagai platform digital hingga perkembangan artificial intelligence (AI) menunjukkan bagaimana inovasi terus berkembang untuk mempermudah kehidupan manusia.

Yassierli mengingatkan generasi muda agar tidak berhenti menjadi pengguna teknologi semata. Setelah itu, berkembanglah menjadi developer, kemudian orchestrator, hingga akhirnya menjadi leader.

“Pola pikir inovatif atau innovation mindset harus dimiliki calon pemimpin masa depan. Cara pandang tersebut mendorong seseorang untuk melihat peluang melalui pendekatan, teknologi, material, maupun proses kerja yang berbeda,” ucapnya.

Pada kesempatan itu, Yassierli juga mengajak mahasiswa menghindari fixed mindset, yakni pola pikir yang membuat seseorang enggan keluar dari zona nyaman, mudah menyerah, serta merasa terancam oleh keberhasilan orang lain.

Sebaliknya, ia mendorong generasi muda untuk menumbuhkan growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dan pengetahuan dapat terus berkembang melalui proses belajar dan latihan.

Ia menyarankan mahasiswa untuk aktif mencari mentor atau pelatih yang dapat menjadi teladan dalam menghadapi tantangan. “Belajarlah dari mentor atau coach. Lihat bagaimana mereka bertahan, berkembang, dan tidak menyerah menghadapi berbagai hambatan,” tuturnya.

Selain belajar dari mentor secara langsung, Yassierli juga mengajak peserta membaca kisah hidup para tokoh dunia yang dinilai sebagai the greatest of all time (GOAT) untuk memperoleh inspirasi kepemimpinan dan inovasi.

“Inovator besar selalu berorientasi memberikan solusi bagi masyarakat, bukan sekadar menghasilkan produk,” ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Yassierli memaparkan tantangan kualitas angkatan kerja Indonesia. Saat ini, baru sekitar 14 persen dari 155 juta angkatan kerja yang memiliki kesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Sedangkan sisanya, 86 persen lain memiliki tingkat pendidikan maksimal SMA atau SMK.

Karena itu, pemerintah terus memperluas berbagai program peningkatan kompetensi tenaga kerja, salah satunya melalui Program Pemagangan Nasional yang menyediakan kuota 150 ribu lulusan baru untuk magang selama satu tahun di berbagai perusahaan.

“Program ini mendapat respon yang baik. Karena sekitar 30 persen peserta telah mendapat tawaran pekerjaan, bahkan sebelum masa magang selesai,” ucapnya.

Di bagian akhir pemaparannya, Yassierli mengapresiasi kontribusi Tanoto Foundation melalui Program Beasiswa TELADAN (Transformasi Edukasi untuk Melahirkan Pemimpin Masa Depan) yang tak hanya memberi bantuan biaya pendidikan, tetapi juga membekali mahasiswa dengan pelatihan kepemimpinan, pengembangan karakter, dan peningkatan kapasitas.

Menurut Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut, beasiswa menjadi harapan besar bagi banyak mahasiswa dan keluarganya untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Ia meyakini komitmen Tanoto Foundation dalam melahirkan pemimpin muda dan inovator akan menjadi modal penting bagi Indonesia menuju bangsa yang maju.

“Indonesia akan menjadi negara besar pada 2045 apabila mampu menjadi innovation nation. Inovasi akan membantu menyelesaikan berbagai persoalan, termasuk keterbatasan lapangan kerja,” tegasnya.

Sekadar informasi, Tanoto Foundation masih membuka kesempatan untuk pendaftaran Program Beasiswa dan Pengembangan Kepemimpinan TELADAN Cohort 2027 hingga 7 September 2026.

Program tersebut ditujukan bagi mahasiswa semester pertama jenjang sarjana (S1) di 10 perguruan tinggi mitra, yakni IPB University, Universitas Diponegoro, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, Universitas Indonesia, Universitas Sumatera Utara, Institut Teknologi Bandung, Universitas Hasanuddin, Universitas Mulawarman, dan Universitas Riau.

Program tersebut memadukan bantuan biaya kuliah, tunjangan hidup, serta pembinaan kepemimpinan secara terstruktur selama 3,5 tahun. (Tri Wahyuni)

Related posts