Suara Karya

Kuliah Fleksibel Kian Diminati, Mahasiswa UT Jakarta Tembus 100 Ribu Orang

JAKARTA (Suara Karya): Tren kuliah fleksibel berbasis pembelajaran jarak jauh semakin diminati masyarakat, terutama kalangan Generasi Z yang ingin tetap mengembangkan kompetensi tanpa meninggalkan pekerjaan maupun aktivitas produktif lainnya.

Kondisi itu tercermin dari jumlah mahasiswa baru Universitas Terbuka (UT) Jakarta yang kini berhasil menembus angka 100 ribu. Jumlahnya, bahkan diperkirakan lebih dari itu, karena proses registrasi semester baru masih berlangsung.

Rektor Universitas Terbuka (UT), Prof Dr Ali Muktiyanto, SE, MSi mengatakan, perubahan pola belajar masyarakat menjadi salah satu faktor meningkatnya minat terhadap UT. Saat ini sekitar 82 persen mahasiswa UT merupakan Generasi Z, dimana 80 persen di antaranya telah bekerja.

Menurut Ali, generasi muda saat ini tidak lagi memandang kuliah hanya sebagai jalan memperoleh ijazah, tetapi sebagai sarana ‘reskilling’ dan ‘upskilling’ untuk meningkatkan kompetensi, kemampuan beradaptasi, dan jenjang karier.

“Para Gen-Z ini tak sekadar mencari ijazah, tetapi ingin meningkatkan kemampuan agar lebih adaptif, inovatif, dan berdaya saing di dunia kerja,” kata Prof Ali Muktiyanto di sela acara Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) dan Klinik Ujian (KU) UT Jakarta, di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Minggu (26/7/26).

Ia menjelaskan, sistem pembelajaran terbuka dan jarak jauh memungkinkan mahasiswa tetap kuliah tanpa harus meninggalkan pekerjaan. Banyak mahasiswa UT merupakan pekerja profesional, pelaku usaha, hingga kreator digital yang membutuhkan fleksibilitas dalam belajar.

Transformasi digital juga menjadi kekuatan utama UT. Perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN-BH) tersebut memanfaatkan Teknologi Informasi, salah satunya Artificial Intelligence (AI) untuk pembelajaran.

Teknologi AI dimanfaatkan mulai dari proses admisi, verifikasi identitas mahasiswa, validasi data, hingga mendukung tutorial daring dan pembelajaran digital.

“Kami menggunakan AI sebatas alat bantu, bukan untuk menggantikan peran dosen. Yang terpenting adalah integritas akademik. AI digunakan untuk mendukung proses belajar, bukan menggantikan nilai kejujuran dan tanggung jawab akademik,” tegasnya.

Prof Ali menambahkan, keberhasilan belajar di UT sangat ditentukan oleh kedisiplinan mahasiswa dalam mengelola waktu dan menjalani sistem pembelajaran mandiri.
“Dengan disiplin, mahasiswa akan mampu menyelesaikan studi tepat waktu dan menjadi pembelajar sepanjang hayat,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur UT Jakarta, Drs Mohammad Muzammil, MM, mengungkapkan jumlah mahasiswa UT Jakarta saat ini berhasil menembus angka 100 ribu orang, dan diperkirakan bertambah hingga lebih dari 120 ribu mahasiswa.

“Tingginya angka mahasiswa baru di UT Jakarta menunjukkan semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap sistem pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh yang fleksibel serta berkualitas,” katanya.

UT Jakarta menargetkan mahasiswa baru pada 2027 menembus angka 190 ribu mahasiswa, seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan tinggi yang dapat diakses, tanpa harus meninggalkan pekerjaan.

“Keberhasilan UT bukan hanya menghasilkan lulusan, tetapi melahirkan learner sejati yang terus belajar, berkembang, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

OSMB Tahap I yang digelar di UTCC tersebut diikuti 2.529 mahasiswa baru dari berbagai wilayah layanan UT Jakarta. Peserta berasal dari beragam latar belakang, mulai dari lulusan SMA dan SMK, aparatur sipil negara, pekerja swasta, pelaku usaha, hingga masyarakat yang kembali melanjutkan pendidikan setelah sempat berhenti kuliah.

Mengusung tema ‘UT Jakarta Tekankan Kebanggaan Berkuliah di PTN-BH Berakreditasi Unggul’, kegiatan tersebut merupakan bagian dari Layanan Pendukung Kesuksesan Belajar Jarak Jauh (LPKBJJ).

Mahasiswa dibekali pemahaman mengenai sistem pembelajaran UT, registrasi mata kuliah dan ujian, perpustakaan digital, pemanfaatan MyUT dan UT Online, integritas akademik, hingga penguatan karakter.

Muzammil menegaskan, mahasiswa baru patut bangga menjadi bagian dari UT yang telah berstatus Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) dengan Akreditasi Unggul.

“UT adalah kampus negeri yang memiliki kualitas tinggi, tata kelola yang baik, serta pengakuan nasional maupun internasional. Karena itu mahasiswa harus bangga menjadi bagian dari Universitas Terbuka,” kata Muzammil menandaskan.

Ditanya soal program studi (prodi) yang paling banyak diminati mahasiswa baru UT, ia menyebut, prodi Manajemen dan Ilmu Hukum, karena kedua prodi tersebut memiliki cakupan pekerjaan yang luas. (Tri Wahyuni)

Related posts