JAKARTA (Suara Karya): Universitas Terbuka (UT) memasang target ambisius untuk mempercepat peningkatan akses pendidikan tinggi nasional. Jika didukung pendanaan yang memadai dari pemerintah, UT siap mengelola hingga 3 juta mahasiswa.
Target tersebut merupakan bagian dari kontribusi UT dalam mendorong peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi menuju target nasional, sekaligus menyiapkan sumber daya manusia berkualitas untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.
“Kalau pemerintah percaya kepada kami dengan memberi dukungan anggaran, UT mampu mengelola hingga 3 juta mahasiswa. Kami siap menjadi instrumen percepatan peningkatan APK pendidikan tinggi,” kata Rektor UT, Prof Dr Ali Muktiyanto SE, MSI dalam acara Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) UT Jakarta, di Gedung Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Pondok Cabe, Minggu (26/7/26).
Ia dalam kesempatan itu didampingi
Direktur UT Jakarta, Drs Mohammad Muzammil, MM beserta jajarannya.
Prof Ali menjelaskan, UT saat ini
mengelola sekitar 1 juta mahasiswa aktif. Menurut Ali, jika kontribusi UT terhadap APK ingin meningkat sekitar 4 persen hingga target nasional tercapai pada 2029, maka dibutuhkan tambahan sekitar 2 juta mahasiswa baru. Sehingga total mencapai 3 juta orang.
Ditambahkan, Indonesia membutuhkan sedikitnya 48 juta lulusan perguruan tinggi yang memiliki kemampuan inovasi, adaptasi, dan resiliensi agar mampu bersaing dengan negara-negara maju pada 2045.
“Kalau bangsa ini memiliki kemampuan inovasi, adaptasi, dan resiliensi secara kolektif, maka Indonesia akan menjadi bangsa yang tangguh dengan akses pendidikan yang tidak terbatas,” ujarnya.
Prof Ali menilai UT memiliki keunggulan dalam menyediakan pendidikan tinggi yang berkualitas, relevan dengan kebutuhan masyarakat, serta memiliki skalabilitas besar melalui sistem pembelajaran jarak jauh.
“Profil mahasiswa UT saat ini didominasi generasi muda hingga 82 persen. Dari jumlah itu, 80 persen diantaranya telah bekerja,” ungkapnya.
Menurutnya, karakter mahasiswa saat ini berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka membutuhkan sistem belajar yang fleksibel, karena harus membagi waktu antara pekerjaan, aktivitas sosial, dan kuliah.
“Mereka bukan hanya mencari ijazah, tetapi melakukan reskilling dan upskilling agar mampu meningkatkan kompetensi serta jenjang karier,” katanya.
Ali menyebut banyak mahasiswa UT telah berprofesi sebagai content creator, pekerja kreatif, hingga profesional muda yang membutuhkan pendidikan tanpa harus meninggalkan pekerjaannya.
Dalam kesempatan itu, Prof Ali juga menjelaskan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di lingkungan UT.
AI digunakan mulai dari proses penerimaan mahasiswa baru, verifikasi identitas, pemeriksaan data yang terhubung dengan Dukcapil dan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PD-Dikti).
Menurutnya, AI juga dimanfaatkan untuk mendeteksi orisinalitas tugas mahasiswa, mendukung tutorial daring, hingga membantu sistem pengawasan ujian berbasis automated online proctoring.
Namun, Ali menegaskan AI tidak menggantikan peran dosen.
“Tutor AI tidak akan menggantikan tutor manusia. Keberadaan AI hanya menjadi partner untuk mendukung keberhasilan belajar mahasiswa,” tegasnya.
UT bahkan telah menerbitkan Peraturan Rektor mengenai kode etik pemanfaatan AI di lingkungan kampus. Mahasiswa diperbolehkan menggunakan AI sebagai alat belajar, tetapi tidak saat mengikuti ujian.
Terkait pelaksanaan OSMB, Prof Ali menekankan seluruh mahasiswa baru wajib mengikuti OSMB, karena menjadi bekal memahami sistem pembelajaran jarak jauh. Untuk itu,
mahasiswa UT harus memiliki disiplin tinggi karena pembelajaran tidak bergantung pada tatap muka.
“Kalau tidak siap disiplin, lebih baik mengundurkan diri. Kunci sukses kuliah di UT adalah disiplin,” ujarnya.
Ia menjelaskan fungsi dosen di UT tidak hanya dijalankan oleh tenaga pengajar, tetapi juga didukung teknologi digital, multimedia pembelajaran, dan bahan ajar sehingga layanan akademik tetap optimal.
Untuk mendukung ekspansi tersebut, UT memperkuat kapasitas dosen, infrastruktur digital, dan tata kelola kampus. Seluruh dosen diarahkan memiliki kualifikasi doktor (S3), sementara tenaga kependidikan didorong melanjutkan studi ke jenjang magister.
Di bidang teknologi informasi, sekitar 5 persen dari total anggaran UT dialokasikan untuk investasi penguatan sistem digital, pembelajaran daring, serta modernisasi infrastruktur.
Ali menegaskan, seluruh penguatan tersebut diarahkan agar UT mampu menjadi perguruan tinggi terbuka berskala dunia yang mendukung percepatan pembangunan sumber daya manusia Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Pernyataan senada disampaikan
Direktur UT Jakarta, Drs Mohammad Muzzamil MM. Ia berharap semakin banyak masyarakat memanfaatkan sistem pembelajaran fleksibel UT, sehingga mampu meningkatkan APK pendidikan tinggi Indonesia yang saat ini baru sekitar 32 persen.
“APK pendidikan tinggi Indonesia masih jauh di bawah negara seperti Singapura dan Korea Selatan, yang telah melampaui 90 persen,” tuturnya. (Tri Wahyuni)

