Suara Karya

JAKARTA (Suara Karya) : Sebagian besar guru-guru ingin membuat lagu sendiri untuk anak didiknya, tetapi mereka bingung harus mulai dari mana. Bahkan, Seorang guru taman kanak-kanak idealnya mempunyai bank lagu anak yang cukup agar dapat digunakan sesuai tema yang akan disampaikan kepada anak melalui lagu. Namun kenyataannya, tidak semua lagu anak sesuai dengan tema, sehingga guru sering kali hanya mengganti kata-kata atau lirik untuk melodi lagu yang sudah ada.

Guru ingin membuat lagu dengan tema binatang, sayang keluarga, menjaga kebersihan, tetapi tidak tahu bagaimana membuat melodinya, karena memang rata-rata guru TK tidak berlatar belakang sarjana Pendidikan music. Apalagi membuat lagu yang sekaligus mengajar anak melompat, bertepuk tangan, dan bergerak mengikuti irama, guru sering mendapat kesulitan membuat melodi dan lirik yang pas dengan tema yang diperlukan.

Namun dengan perkembangan teknologi, persoalan tersebut memiliki kemungkinan Solusi baru yaitu menggunakan Artificial Intelligence (AI). Melalui aplikasi generative music seperti Suno AI, guru dapat memulai proses penciptaan lagu hanya dari sebuah instruksi, perintah, atau yang lebih popular prompt. Banyak penelitian yang sudah membahas tentang pengintegrasion teknologi AI seperti Suno AI ke dalam kurikulum Pendidikan music  (Wardani & Fachrurrazy 2025).

Kemampuan guru membuat prompt menjadi sangat penting. Penulis membuat penelitian yang focus pada penciptaan Gerak dan lagu berbasis prompt engineering menggunakan aplikasi Suno AI. Penulis mengadopsi lima variable kerangka kerja oleh Choi (2025) yang menawarkan elemen prompt ditentukan berdasarkan  genre, tempo, Mood, instrument, dan struktur Musik.

Promt Engineering dalam Musik

Berbeda dengan prompt teks ilmiah, prompt music memiliki karakteristik khusus karena harus memuat informasi musical yang dapat diterjemahkan AI menjadi komposisi. Setiap elemen prompt memberi “panduan” bagi Suno AI untuk menerjemahkannya ke dalam komposisi lagu anak.

Elemen prompt Genre berfungsi untuk menentukan gaya musical yang diinginkan. Contoh: “buatkan lagu anak dengan gaya music pop/klasik/dangdut…”. Elemen prompt Tempo berfungsi untuk mengatur kecepatan lagu, terutama bila ada Gerakan dalam lagu. Jadi, beat lagu menyesuaikan dengan kemampuan motorik anak. Contoh : “Buatkan lagu anak dengan tempo lambat/cepat/sedang”.

Elemen prompt Mood untuk mengarahkan emosi dan ekspresi, Contoh : “Buatkan lagu anak yang ceria dan energik.”. Elemen prompt Instrument untuk menghasilkan instrument music yang nyata, apakah gitar, keyboard, kendang, atau suling. Contoh: “ buatkan lagu anak dengan menggunakan instrument music gitar dan piano..”. Elemen prompt terakhir yaitu Teknik struktur music. Hal ini ditujukan untuk mengontrol produksi, birama, bentuk music dan dinamika. Contoh : “Buatkan lagu anak birama 4/4, nada mayor, bentuk music AABA, dengan variasi dinamika di dalamnya”.

Kemampuan guru membuat prompt yang detail sangat penting, agar lagu yang dihasilkan sesuai dengan yang diinginkan.  Pembuatan prompt sendiri dapat menggunakan bantuan AI yang banyak tersedia sekarang ini. Prompt yang efektif memiliki karakteristik seperti harus spesifik, kontekstual, pembatasan, iterative (pengulangan revisi berdasarkan hasil generasi AI), dan terintegrasi yang menghubungkan aspek musical, lirik, da Gerak dalam satu kesatuan. Setelah itu prompt disalin dan dipindahkan ke dalam aplikasi Suno AI. Contoh:

“Buatkan lagu anak yang ceria dengan genre pop, tempo cepat (100 bpm), menggunakan alat music piano, gitar, dan kendang. Lagu anak untuk usia 54-7 tahun dengan tujuan pembelajaran menguatkan perkembangan musical dan motorik siswa. Gunakan lirik sederhana yang memasukkan unsur Gerak seperti melompat, bertepuk tangan, dan menggelengkan kepala. Buatkan lirik dengan persamaan kata (Rhyme) dengan bentuk AABA. Lagu harus dapat membantu perkembangan musical dan motorik anak dalam suasana bermain yang menyenangkan” (Rien, 2026)

Pertanyaan berikutnya, apakah prompt pertama akan langsung menghasilkan lagu yang sempurna atau sudah mendekati keinginan kita? Belum tentu! Disinilah proses iterative atau revisi berulang kali harus dilakukan. Bisa lagunya tempo terlalu lambat, melodi terlalu rumit, lirik terlalu Panjang, atau musiknya terdengar seperti lagu untuk orang dewasa.

Oleh karena itu dalam proses penciptaan menggunakan Suno AI, guru tidak harus menerima hasil pertama begitu saja. Lagu yang dihasilkan dapat didengarkan, kemudian di evaluasi. Di sinilah para guru perlu memperbaiki prompt secara lebih spesifik, agar Suno AI menghasilkan lagu yang lebih mendekati kebutuhan guru.

Dalam penelitian berbasis Practice-Based Research, prompt engineering tidak dipandang sebagai aktivitas satu kali, tetapi sebagai proses kreatif yang bersifat siklus. Siklus  meliputi:

Perancangan prompt awal : berdasarkan tujuan pembelajaran dan karakteristik anak.

Generate Lagu : Menggunakan Suno AI

Mendengarkan : Dengarkan dengan seksama hasil lagu

Evaluasi Hasil : mencakup kesesuaian lirik, struktur music, tempo, kualitas vocal, dan integrasi Gerakan.

Refleksi : mendokumentasikan dan menganalisis kelebihan dan kekurangan hasil.

Revisi prompt: dengan menambah, mengurangi atau memperjelas instruksi

Generate Ulang : hingga diperoleh lagu yang memenuhi kriteria artistic dan pedagogis.

Dengan mengikuti pola sederhana: 

Prompt→Llagu→Dengarkan→Evaluasi→Refleksi→Perbaiki→Buat kembali, guru tidak hanya belajar menggunakan AI, tetapi juga belajar menerjemahkan gagasan kreatifnya menjadi prompt / instruktis yang jelas. Justru pada proses membuat pola sederhana inilah guru belajar.

Kesimpulan

Kualitas lagu yang dihasilkan Suno AI sangat dipengaruhi oleh kualitas prompt. Prompt yang hanya berisi tema menghasilkan lagu dengan karakter kurang spesifik, sedangkan prompt yang mencantumkan genre, tempo, mood, instrument, dan struktur music serta Gerakan menghasilkan lagu yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.

Suno AI berperan sebagai partner kreatif guru. Jadi Suno AI tidak menggantikan peran pencipta, namun sebagai mitra kreatif yang menyediakan alternatif musical, sementara Keputusan artistic, pedgogis dan etis tetap berada pada manusia. Kolaborasi ini menghasilkan proses penciptaan yang lebih cepat, tetapi tetap memerlukan reflektif untuk mengevaluasi dan memperbaiki hasil.

Oleh: Rien Safrina, Elindra Yetti, Hery Budiawan, R.M Aditya Andriyanto, Andi R. Karo-Karo, Indiego Kasabian, N.

 

 

Related posts