Suara Karya

Tak Mau Cetak Pengangguran, UT Rancang Sekolah Vokasi dengan Target Kerja 100 Persen

JAKARTA (Suara Karya): Universitas Terbuka (UT) menyiapkan sekolah vokasi dengan konsep berbeda. Perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN-BH) tersebut ingin memastikan mahasiswa mendapat pengalaman praktik, magang, hingga akses ke dunia kerja.

Bahkan, UT menargetkan lulusan vokasi memiliki tingkat keterhubungan dengan pekerjaan yang mendekati 100 persen.

Rektor UT Prof Dr Ali Muktiyanto mengatakan, prinsip utama pengembangan sekolah vokasi adalah memastikan program studi yang dibuka benar-benar dibutuhkan masyarakat dan industri.

“Kami tidak ada buka prodi vokasi, jika tidak punya tempat praktik dan magang. Lulusan prodi vokasi UT harus ada akses ke dunia kerja,” kata Prof Ali Muktiyanto dalam perayaan Dies Natalis ke-42 UT di Gedung Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Jumat (4/9/26).

Ditambahkan, model pendidikan vokasi UT akan diarahkan menyerupai semi-ikatan dinas, sehingga mahasiswa sejak awal tak hanya mendapat teori, tetapi juga pengalaman langsung di dunia kerja.

Konsep tersebut sejalan dengan kebutuhan Indonesia menghadapi bonus demografi dan penciptaan lapangan kerja. Karena itu, UT tidak ingin membuka program vokasi dalam jumlah besar, tanpa mempertimbangkan kebutuhan pasar kerja.

“Kami tidak menargetkan mahasiswa vokasi UT berjumlah hingga 200 ribu orang. Mahasiswanya tidak terlalu besar, agar keterserapannya di dunia kerja 100 persen,” ujarnya.

UT telah menyusun cetak biru sekolah vokasi. Tahap awal sekolah vokasi akan membuka tiga program studi, yakni Akuntansi Bisnis Digital, Teknologi Informasi, dan Manajemen Logistik, dengan target perkuliahan pada Mei 2027.

Setelah tahap awal berjalan, UT menyiapkan pengembangan sekitar 4-5 program studi tambahan, yang disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan industri, khususnya teknologi digital, data dan logistik.

Untuk memastikan pendidikan vokasi tidak terputus dari dunia kerja, UT telah membangun jejaring dengan sekitar 200 lembaga. Mitra tersebut mencakup perguruan tinggi vokasi, politeknik, pemerintah daerah, Balai Latihan Kerja (BLK) hingga dunia industri.

Kerja sama juga diarahkan ke sektor strategis, termasuk otomotif dan kendaraan listrik.

UT sebelumnya telah menjalin kolaborasi dengan mitra di Tiongkok untuk menyiapkan talenta kendaraan listrik dan otomasi industri. Skema kerja sama memungkinkan mahasiswa memperoleh pengalaman belajar sekaligus praktik di Indonesia maupun Tiongkok.

Ali mengatakan, pengalaman internasional tersebut akan menjadi bagian penting dalam menyiapkan lulusan yang mampu beradaptasi dengan perkembangan industri global.

Konsep vokasi UT, lanjut Ali, sengaja dirancang berbeda dengan pendidikan yang hanya berorientasi pada kelulusan. Mahasiswa diarahkan memperoleh pengalaman praktik dan magang sejak masa studi.

Dengan demikian, ketika menyelesaikan pendidikan, mereka tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga kompetensi dan pengalaman yang relevan dengan kebutuhan industri.

“Begitu dia masuk maka dia sudah pasti akan kerja. Itu yang ingin kita lakukan,” katanya.

Program vokasi juga diarahkan untuk mendukung kebutuhan tenaga kerja pada sektor-sektor yang berkembang di Indonesia, termasuk industri digital, logistik, otomotif dan kendaraan listrik.

Pengembangan sekolah vokasi sekaligus menjadi bagian dari transformasi UT dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Bagi UT, pendidikan tinggi bukan hanya tentang memperluas akses kuliah, tetapi juga memastikan lulusan memiliki kompetensi yang relevan dan mampu memberikan kontribusi nyata di dunia kerja.

“Kita ingin program studi vokasi yang diluncurkan benar-benar keahlian yang dibutuhkan masyarakat,” pungkas Ali. (Tri Wahyuni)

Related posts