JAKARTA (Suara Karya): Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menunjukkan perkembangan positif pada kemampuan literasi membaca dan sains siswa Indonesia.
Kedua bidang tersebut masing-masing mengalami kenaikan 6 poin dibandingkan hasil PISA sebelumnya. Di sisi lain, perluasan akses pendidikan Indonesia juga menunjukkan kemajuan signifikan.
Coverage index atau indeks cakupan pendidikan bagi anak usia 15 tahun meningkat dari sekitar 46 persen pada 2003 menjadi 90 persen pada 2025.
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan, Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Kemdikdasmen, Dr Rahmawati mengatakan, peningkatan coverage index menjadi salah satu gambaran penting dalam membaca hasil PISA Indonesia.
Menurutnya, cakupan yang semakin luas membuat peserta PISA berasal dari latar belakang sosial ekonomi dan wilayah yang semakin beragam.
“Coverage index kita pada 2003 sekitar 46 persen, sementara pada 2025 sudah mencapai 90 persen,” ujar Rahmawati dalam taklimat media hasil PISA 2025 di Jakarta, Selasa (8/9/26).
Menurut Rahmawati, perluasan cakupan tersebut menunjukkan semakin banyak peserta didik dari berbagai latar belakang yang terwakili dalam pengukuran PISA. Karena itu, hasil PISA tidak cukup dibaca hanya berdasarkan posisi peringkat Indonesia dibandingkan negara atau ekonomi lainnya.
PISA 2025 sendiri mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam membaca, matematika, dan sains.
Di Indonesia, peserta berasal dari jenjang SMP, MTs, SMA, SMK, dan MA, dengan pengumpulan data dilakukan pada April-Mei 2025.
Secara global, PISA 2025 melibatkan 91 negara dan ekonomi, terdiri atas 38 negara anggota OECD dan 53 negara non-OECD. Lebih dari 760.000 siswa berpartisipasi dalam asesmen yang merepresentasikan sekitar 33 juta anak usia 15 tahun di seluruh dunia.
Literasi dan Sains Menguat
Kenaikan 6 poin pada literasi membaca dan sains menjadi catatan positif dalam hasil PISA 2025 Indonesia. Perkembangan tersebut menunjukkan adanya penguatan kemampuan siswa dalam memahami informasi dan menggunakan pengetahuan sains.
Namun, hasil tersebut tetap perlu dibaca dalam konteks perubahan karakteristik peserta dan sistem pendidikan. Perluasan coverage index hingga 90 persen membuat cakupan peserta PISA Indonesia jauh lebih besar dibandingkan dua dekade lalu.
Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD, Andreas Schleicher, sebelumnya menilai Indonesia berhasil memperluas akses pendidikan tanpa mengorbankan kualitas secara keseluruhan.
Partisipasi anak usia 15 tahun dalam pendidikan hampir berlipat ganda, sementara capaian PISA relatif tetap stabil. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan cakupan pendidikan tidak serta-merta menyebabkan penurunan kualitas capaian secara keseluruhan.
Sebaliknya, perluasan akses dapat menjadi fondasi penting untuk mendorong peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan.
Pemerintah menilai hasil PISA 2025 perlu dimanfaatkan sebagai instrumen diagnostik untuk menentukan langkah perbaikan pembelajaran.
Kenaikan literasi dan sains menjadi modal positif, sementara hasil matematika yang turun dua poin menjadi perhatian untuk memperkuat kemampuan bernalar dan memecahkan masalah.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Prof Toni Toharudin, menegaskan hasil PISA tidak semestinya hanya dilihat sebagai angka atau peringkat internasional.
Menurut dia, data PISA perlu digunakan untuk melihat kemampuan siswa secara lebih menyeluruh sekaligus mengidentifikasi aspek pembelajaran yang masih membutuhkan penguatan.
Pemerintah selanjutnya akan memperkuat kompetensi guru, meningkatkan kualitas pembelajaran, mengoptimalkan sistem asesmen sebagai alat diagnostik, serta memberikan pendampingan kepada satuan pendidikan yang membutuhkan penguatan.
Perluasan akses pendidikan hingga coverage index 90 persen juga menjadi tantangan baru. Ketika cakupan semakin luas, pemerintah perlu memastikan peningkatan akses berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pembelajaran.
Dengan demikian, capaian PISA 2025 tidak hanya menjadi gambaran posisi Indonesia secara internasional, tetapi juga menjadi pijakan untuk memperkuat mutu pendidikan, meningkatkan kemampuan literasi dan sains, serta membangun kemampuan bernalar dan memecahkan masalah yang dibutuhkan siswa dalam menghadapi perubahan dunia. (Tri Wahyuni)

