TANGSEL (Suara Karya): Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Terbuka (FEB-UT) mendorong usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kelurahan Kademangan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan ‘naik kelas’, melalui pelatihan manajemen keuangan dan inovasi kemasan produk.
Kegiatan yang menjadi bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Nasional Universitas Terbuka itu dilaksanakan secara kolaboratif oleh tiga fakultas, selain FEB, ada Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP), serta Fakultas Sains dan Teknologi (FST).
Kolaborasi lintas disiplin tersebut dirancang untuk memberi pendampingan yang komprehensif sesuai dengan kebutuhan pelaku UMKM. Diharapkan mereka berkembang secara berkelanjutan di tengah persaingan ekonomi yang semakin kompetitif dan terdigitalisasi.
Acara pembukaan pada Rabu (17/6/26) dihadiri Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Tangerang Selatan, yang diwakili Sekretaris Dinas, Maya Elsera, S.STP, MSi; Lurah Kademangan, Madsuki SH; serta Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Terbuka, Prof Dewi Artati Padmo Putri.
Hadir pula Dekan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UT, Dr Subekti Nurmawati, MSi; Dekan Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) UT, Dr Meita Istianda, SIP, MSi; Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Layanan
Pembelajaran dan Kerja Sama pada FEB, Olivia Idrus, SE, MSc; dosen pelaksana PkM; serta anggota Perkumpulan UMKM Kademangan.
Kegiatan itu juga dikuti Ketua Tim PkM Nasional dari FEB, Muhammad Adam Sudaryanto, SE, MBA; anggota kelompok tim yaitu Dr Deni Surapto, SE, MSi; Dina Noval Madurani,
MSM; Fikri Hizryan, SE, MSc; dan Ledy Yolanda, MSM.
Ketua LPPM-UT, Prof Dewi Artati Padmo Putri menjelaskan, kegiatan bertema ‘Penguatan Daya Saing Perkumpulan UMKM Kademangan, Setu melalui Pelatihan Manajemen Keuangan dan Peningkatan Nilai Tambah Produk dengan Inovasi Kemasan’.
“Tema tersebut dipilih karena banyak pelaku UMKM masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan usaha, mulai dari pencatatan keuangan hingga pengemasan produk yang mampu menarik minat pasar,” ujarnya.
Pelatihan manajemen keuangan menjadi materi utama yang diberikan kepada peserta. Para pelaku UMKM dibekali pengetahuan tentang pentingnya pembukuan sederhana, pemisahan keuangan pribadi dan usaha, penyusunan laporan arus kas, perhitungan biaya produksi, hingga strategi menentukan harga jual yang memberi keuntungan tanpa mengurangi daya saing produk.
“Lewat pengelolaan keuangan yang lebih tertib, pelaku usaha diharapkan mampu mengetahui kondisi usaha secara akurat, merencanakan pengembangan bisnis, serta memiliki kesiapan ketika ingin mengakses pembiayaan dari lembaga keuangan,” tutur Prof Dewi.
Selain penguatan aspek keuangan, FEB juga memberi pendampingan mengenai inovasi kemasan produk. Dalam persaingan pasar saat ini, kemasan tak hanya berfungsi sebagai pelindung, tetapi juga menjadi identitas merek sekaligus media promosi yang mampu meningkatkan daya tarik konsumen.
Peserta memperoleh wawasan mengenai desain kemasan yang menarik, pemilihan bahan kemasan yang sesuai, penyusunan informasi produk, hingga strategi membangun citra produk melalui tampilan visual.
“Lewat inovasi kemasan diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk UMKM sehingga lebih kompetitif di pasar modern maupun platform digital,” pungkasnya.
Sementara itu, FHISIP memberi pendampingan mengenai aspek hukum usaha, termasuk pentingnya legalitas usaha dan penguatan identitas produk lokal.
Di sisi lain, FST memberi bekal peserta dengan strategi pemasaran digital berbasis teknologi, agar pelaku UMKM mampu memanfaatkan media digital untuk memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan penjualan.
Sinergi ketiga fakultas tersebut menunjukkan komitmen UT dalam menghadirkan solusi yang tidak hanya menyentuh aspek produksi, tetapi juga tata kelola usaha, legalitas, hingga transformasi digital yang kini menjadi kebutuhan utama pelaku UMKM.
“Kolaborasi perguruan tinggi dengan pemerintah daerah, dan komunitas UMKM ini diharapkan memberi dampak nyata bagi peningkatan kualitas usaha masyarakat,” ucap Prof Dewi.
Pendampingan yang dilakukan tidak berhenti pada pemberian materi pelatihan, tetapi menjadi langkah awal lahirnya pelaku UMKM yang lebih mandiri, profesional, inovatif, dan adaptif terhadap perubahan pasar.
Dengan penguatan manajemen keuangan, inovasi kemasan, serta pemanfaatan teknologi digital, Prof Dewi Artati optimistis, UMKM Kademangan dapat naik kelas, memperluas pasar, meningkatkan nilai tambah produk, sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. (Tri Wahyuni)
