Kampus Diminta Fokus ‘Learning Outcomes’ agar Lulusannya Kompeten

0
Pelaksana tugas Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Nizam. (suarakarya.co.id/ist)

JAKARTA (Suara Karya): Pelaksana tugas Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Nizam meminta perguruan tinggi (kampus) perhatikan ‘learning outcomes’ agar lulusannya menjadi lebih kompeten.

“Pengembangan kurikulum di perguruan tinggi tak boleh mengabaikan ‘learning outcomes’,” kata Nizam dalam acara Rembuk Nasional yang digelar Badan Kerjasama Penyelenggara Pendidikan Tinggi Teknik Industri (BKSTI) tentang Implementasi Kampus Merdeka secara daring, Selasa (12/5/2020).

Jika perkuliahan fokus pada ‘learning outcomes’, kata Nizam, maka kurikulum tak bisa lagi dilihat sebagai kumpulan mata kuliah, melainkan sebuah proses dan pengalaman secara keseluruhan dari seorang mahasiswa dalam meraih konpetensi sesuai program studinya.

“Semua itu harus dilihat bagaimana jatuh bangunnya mahasiswa hingga mereka berhasil lulus dengan kompetensi sesuai dengan bidang kesarjanaannya,” ucap Nizam menegaskan.

Ia menjelaskan hal teknis terkait pelaksanaan kegiatan mahasiswa di luar kampus, pengaruh pelaksanaan kegiatan mahasiswa pada susunan kurikulum, ‘assesment’ atas capaian belajar dan mekanisme sinkronisasi aturan pelaksanaan di kampus masing-masing.

“Kegiatan mahasiswa yang bisa dikembangkan dalam konsep ‘Merdeka Belajar’, antara lain mahasiswa dapat mengajar, membangun desa, melakukan program kemanusiaan, berwirausaha, pertukaran mahasiswa dan membuat proyek mandiri.

“Prinsip Merdeka Belajar adalah menyiapkan mahasiswa menjadi ‘actual learners’ hingga mereka menjadi ‘future pro’ di masa depan,” tuturnya.

Pada akhir diskusi, Nizam berharap teknik industri bisa menjadi penghela bagi industri di Indonesia. Sehingga konsep Merdeka Belajar dapat terlaksana dengan baik.

Sementara itu Ketua Rembuk Nasional, Wahyudi Sutopo menjelaskan, kegiatan bertujuan untuk indentifikasi kesenjangan dan mencari alternatif role model dalam implementasi dan akselerasi kebijakan hak belajar tiga semester di luar prodi.

“Rembuknas mendiskusikan berbagai problematika implementasi yang perlu diidentifikasi dan diupayakan alternatif solusinya”, ucap Wahyudi menandaskan. (Tri Wahyuni)