Suara Karya

Indonesia Bagikan Praktik Baik Transformasi Digital PAUD di Forum Asia Tenggara

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) membagikan praktik baik transformasi digital dalam Konferensi Centre Policy Research Network (CPRN) 2026 yang digelar
bersama SEAMEO CECCEP dan SEAMEO Secretariat, di Jakarta, pada 9-11 Juni 2026.

Dalam forum tersebut, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, Nonformal, dan Informal (Dirjen PAUD Dikdas PNFI), Gogot Suharwoto memaparkan hasil riset nasional, yang memperlihatkan transformasi digital PAUD di Indonesia telah berjalan secara terukur dan memberi dampak nyata.

“Kami ingin menghubungkan kebijakan, penelitian, dan praktik. Karena itu, setiap langkah digitalisasi PAUD kami bangun di atas data lapangan dan kebutuhan nyata di sekolah,” kata Gogot dalam paparannya, Selasa (9/6/26).

Dalam sesi bertema ‘Evidence-Based Inclusive Digital Learning in Indonesia’s Early Childhood Education’, Gogot memaparkan hasil 4 studi nasional yang melibatkan lebih dari 67.000 responden dari 38 provinsi.

Riset tersebut mencakup survei tata kelola di 5.997 sekolah, survei kepala sekolah terhadap 22.519 responden, kunjungan lapangan ke 28 sekolah di 11 provinsi, hingga survei guru yang menjangkau 39.567 tenaga pendidik.

Basis data tersebut menjadi salah satu potret implementasi digitalisasi PAUD berskala nasional yang mencakup hampir seluruh provinsi di Indonesia.

Paparan tersebut juga menunjukkan sejumlah capaian konkret sepanjang 2025. Sebanyak 63.842 sekolah telah menerima perangkat ‘Interactive Flat Panel’ (IFP), 64.191 sekolah memperoleh laptop dan perangkat penyimpanan data, serta 168 sekolah di daerah terpencil telah terhubung dengan layanan internet.

Pada 2026, program itu akan diperluas ke lebih dari 2.300 sekolah tambahan, termasuk dukungan panel surya untuk wilayah yang belum terjangkau listrik.

Transformasi digital juga diikuti dengan peningkatan kapasitas pendidik. Sebanyak 99,1 persen guru peserta pelatihan mengaku mengalami peningkatan praktik pembelajaran, sementara 93,8 persen di antaranya telah memanfaatkan IFP secara rutin dalam proses belajar mengajar.

Dari sisi konten, platform Ruang Murid kini menyediakan ratusan materi interaktif PAUD yang dapat diakses secara luring, sehingga mendukung pemerataan layanan pendidikan di berbagai wilayah.

Teknologi dalam PAUD bukan dirancang untuk menghilangkan aktivitas fisik, melainkan sebagai stimulus singkat untuk memicu kreativitas dan rasa ingin tahu anak.

Terkait hal tersebut, Gogot menegaskan, perangkat digital hadir justru untuk memperkaya ruang eksplorasi tanpa menggeser dunia bermain mereka.

“Teknologi dalam PAUD tidak dimaksudkan untuk menggantikan bermain. Teknologi kami gunakan untuk membantu anak mengeksplorasi hal-hal baru dan memperkaya pengalaman belajar mereka,” ucapnya.

Gogot melanjutkan, seluruh langkah tersebut merupakan bagian dari arah kebijakan pemerintah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Paparan Kemendikdasmen mendapat penguatan dari berbagai narasumber di forum CPRN 2026 yang menekankan pentingnya pendidikan inklusif.

Pemanfaatan teknologi yang ramah bagi semua peserta didik serta perlunya kebijakan yang lahir dari hasil penelitian dan pengalaman lapangan.

Semangat tersebut sejalan dengan langkah Indonesia yang terus mengembangkan kebijakan berbasis data untuk menjangkau peserta didik di seluruh wilayah, termasuk daerah terdepan terluar dan tertinggal.

Keikutsertaan Kemendikdasmen dalam CPRN 2026 menegaskan, Indonesia tidak hanya menjadi peserta dalam forum internasional, tetapi juga berkontribusi melalui praktik baik dan bukti nyata yang dapat menjadi referensi bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

“Melalui pendekatan berbasis data, pemerintah berkomitmen menghadirkan pendidikan yang lebih komprehensif, inklusif, dan bermutu, sehingga tidak ada lagi anak Indonesia yang tertinggal dalam memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas,” tegas Gogot. (Tri Wahyuni)

Related posts