JAKARTA (Suara Karya): Lembaga Sensor Film (LSF) resmi meluncurkan maskot baru, iklan layanan masyarakat (ILM), dan telop klasifikasi usia dengan konsep yang lebih modern, segar, dan ramah anak muda.
Peluncuran yang digelar di Jakarta, pada Kamis (11/12/25) itu menjadi langkah strategis LSF dalam menguatkan kampanye Budaya Sensor Mandiri (BSM) di tengah pesatnya pertumbuhan industri perfilman nasional.
Ketua LSF, Naswardi dalam sambutannya mengatakan, sepanjang Januari 2024 hingga November 2025, LSF telah menerbitkan 36.926 Surat Tanda Lulus (STL) Sensor, dengan 500 judul film tayang di bioskop dan 246 diantaranya adalah film nasional.
“Film nasional kita tumbuh secara signifikan. Tugas LSF kini tak lagi memotong adegan seperti era sebelum tahun 2009, tetapi meneliti, menilai, dan mengklasifikasikan film agar penonton mendapat panduan sesuai usia,” ujarnya.
Terkait maskot baru LSF yang menggunakan karakter badak Jawa, Naswardi menjelaskan, hewan tersebut menggambarkan perlindungan terhadap kelompok rentan dari konten sensitif.
‘Filosofi badak yang melindungi anaknya dari ancaman, dipilih sebagai representasi kampanye ‘Nonton Sesuai Usia’,” katanya.
Karakter badak Jawa bernama ‘Mama Culla’ itu merupakan akronim dari Masyarakat Sensor Mandiri: Sadar dan Cerdas untuk Memilah-Memilih Film Sesuai Klasifikasi Usia.
“Melalui Mama Culla, kami ingin menghadirkan cara edukasi yang lebih menyenangkan. Tak sekadar formalitas, tetapi benar-benar mengajak masyarakat memilih tontonan dengan bijak,” tegas Naswardi.
Karakter Mama Culla dirancang bersama beberapa konten kreator dan animasi lokal seperti Si Nopal, Emak-Emak Matic, Si Juki, serta melibatkan Lola Maria Productions dan tim dari Nikita Willy Studio.
Naswardi menyebut, tiga hal baru dari LSF tersebut akan diterapkan secara nasional mulai 1 Januari 2026. Penonton di seluruh bioskop Indonesia akan disambut telop klasifikasi usia dalam format baru.
“Telop yang baru bentuknya tidak lagi statis, tetapi lebih interaktif, cerah, dan dekat dengan selera penonton muda. Diharapkan, telop tersebut bisa menjadi hiburan bagi penonton tentang pentingnya menonton sesuai klasifikasi usia,” katanya.
Telop menjadi bagian dari upaya LSF memperbarui wajah edukasi tontonan, agar selaras dengan maskot dan ILM terbaru.
Ketua Bidang Hukum GPBSI, Albert Tanoso dalam kesempatan yang sama menyampaikan, apresiasi atas transformasi besar yang dilakukan LSF.
“Bagi kami, LSF adalah partner strategis. Mama Culla tampil lebih segar, elegan, dan dekat dengan generasi muda. Walaupun badak, dia tetap terlihat lucu dan menggemaskan,” ujarnya.
Albert menilai telop baru LSF akan membuat penonton lebih memperhatikan informasi klasifikasi usia. Desainnya sekarang bikin orang ingin menonton ulang.
“Penonton jadi tahu film sudah dicek oleh ahlinya. Kalau nanti emosinya ikut naik setelah nonton, itu murni karena ceritanya, bukan salah LSF,” kata Albert yang disambut tawa hadirin.
LSF juga menyiapkan iklan layanan masyarakat (ILM) yang akan tayang secara luas, tak hanya di bioskop, tetapi juga di kereta api, bis Transjakarta, pesawat Garuda Indonesia, hingga platform OTT seperti Netflix, Disney+, Vidio, dan YouTube.
“Kami ingin budaya menonton sesuai usia hadir di semua ruang publik, termasuk media sosial,” kata Naswardi.
Kerja sama lintas kreator, pelaku industri, hingga penyelenggara bioskop menjadi bukti keseriusan LSF memperkuat ekosistem perfilman nasional.
Dengan potensi penonton mencapai lebih dari 100 juta per tahun, menurut Naswardi yang mengutip hasil riset Universitas Indonesia, edukasi tentang tontonan sehat dinilai semakin krusial.
“Dunia perfilman tidak bisa bergerak sendiri. Dengan inovasi ini, LSF semakin relevan, adaptif, dan komunikatif,” ucap Albert Tanoso menegaskan. (Tri Wahyuni)
