JAKARTA (Suara Karya): Kolaborasi antara pemerintah dan organisasi masyarakat sipil (CSO) terus diperkuat, guna mendorong pemanfaatan energi terbarukan berbasis komunitas keagamaan.
Hal itu mengemuka dalam Rapat Koordinasi Wakaf dan Sedekah Energi yang digelar MOSAIC (Muslims for Shared Action on Climate Impact), di Jakarta, Rabu (15/4/26).
Rapat tersebut menjadi langkah awal penyusunan peta jalan solarisasi masjid dan pesantren di Indonesia.
Forum tersebut mempertemukan perwakilan Kementerian Agama Republik Indonesia, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, berbagai CSO, asosiasi, serta lembaga filantropi Islam.
Pertemuan membahas strategi integratif, termasuk penguatan ekosistem wakaf sebagai sumber pembiayaan transisi energi di sektor keagamaan.
Inisiatif solarisasi masjid dinilai sejalan dengan target nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto untuk membangun 100 gigawatt Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dalam beberapa tahun ke depan.
“Dengan jumlah lebih dari 800 ribu masjid di seluruh Indonesia, fasilitas keagamaan memiliki potensi besar sebagai lokasi pemasangan panel surya atap,” kata Direktur Program MOSAIC, Aldy Permana dalam pemaparannya.
Ia menegaskan, masjid dan pesantren memiliki peran strategis tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai ruang edukasi publik.
Aldy menyebut, adopsi energi surya di fasilitas keagamaan mampu memberikan dampak yang lebih luas dari sekadar efisiensi biaya operasional.
‘Program Sedekah Energi yang kami jalankan telah menjangkau 6 masjid dengan total kapasitas terpasang mencapai 23.525 WP,” ujarnya.
Hingga kini, lebih dari 21.000 masyarakat telah berpartisipasi sebagai donatur dalam program tersebut, dengan instalasi tersebar di Sembalun, Yogyakarta, Tasikmalaya, Garut, Dharmasraya, dan Sijunjung.
Dari sisi pemerintah, Kementerian ESDM menyoroti besarnya potensi energi terbarukan nasional, khususnya energi surya.
Perwakilan Direktorat Energi Terbarukan menyampaikan potensi tenaga surya Indonesia mencapai 3.294 gigawatt, tertinggi dibandingkan sumber energi lain.
Namun sayang, pemanfaatannya masih sangat rendah, baru sekitar 1,49 gigawatt.
Sementara itu, Kementerian Agama mendorong integrasi program solarisasi masjid dalam Rencana Aksi Ekoteologi 2026. Program itu mencakup pengembangan Hutan Wakaf, Taman Kota Wakaf, Eco Masjid, dan Eco Pesantren, dengan target awal 50 masjid yang siap mengadopsi teknologi hijau.
Kementerian Agama juga berencana mengoptimalkan peran masjid sebagai Unit Pengumpul Zakat (UPZ), guna mendukung pembiayaan solarisasi berbasis wakaf dan sedekah energi.
Upaya itu akan diperkuat melalui edukasi publik dengan melibatkan puluhan ribu penyuluh agama di seluruh Indonesia.
Forum koordinasi juga menyepakati sejumlah lokasi sebagai pilot project yang akan dikembangkan pada tahun ini. Lokasi-lokasi tersebut merupakan bagian dari program Kota Wakaf serta inisiatif pembangunan PLTS nasional.
Untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor, para pihak sepakat memanfaatkan platform wakafenergi.id sebagai wadah bersama dalam membangun ekosistem wakaf energi.
Kolaborasi juga melibatkan berbagai organisasi, termasuk Wakaf Al Azhar, Wakaf Energi, Enter Nusantara, Al Washliyah Kota Medan, Green Justice Indonesia, Forum Wakaf Produktif, Forum Zakat, Ruang Eskalasi, dan ActionLab.
Melalui sinergi ini, pemerintah dan CSO berharap solarisasi masjid tidak hanya menjadi bagian dari transisi energi nasional, tetapi juga gerakan sosial berbasis nilai keagamaan yang berkelanjutan. (Tri Wahyuni)
