JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah mempertegas peran strategis perguruan tinggi sebagai motor penggerak swasembada pangan nasional. Tak sekadar menghasilkan riset, kampus kini ditantang menghadirkan inovasi yang siap diterapkan di lapangan.
Bahkan, teknologi tersebut siap dibeli langsung oleh pemerintah untuk mempercepat modernisasi sektor pertanian.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026, yang digelar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Sabtu (27/6/26).
Forum yang dihadiri sekitar 2.600 guru besar, rektor, dosen, dan peneliti dari seluruh Indonesia itu menjadi wadah memperkuat kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat dalam mendukung program prioritas nasional.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, keberhasilan Indonesia mendekati swasembada pangan, tidak lepas dari kontribusi perguruan tinggi melalui inovasi riset, teknologi, hingga pengembangan varietas unggul.
“Tanpa dukungan perguruan tinggi, kami tidak akan mencapai swasembada berkali-kali,” tegasnya.
Ditambahkan, kolaborasi Kementerian Pertanian dengan berbagai kampus telah menghasilkan capaian yang belum pernah terjadi sebelumnya. Stok beras nasional kini mencapai 5,1 juta ton, melampaui kapasitas gudang Bulog sebesar 3 juta ton.
“Nilai Tukar Petani (NTP) juga menembus angka 127, tertinggi dalam 34 tahun terakhir. Sementara kesejahteraan petani tumbuh 5,74 persen, tertinggi dalam 25 tahun berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS),” ucapnya.
Amran menyebut lompatan produktivitas pertanian tak mungkin tercapai, tanpa inovasi yang lahir dari kampus. Salah satunya adalah teknologi budidaya padi hasil riset perguruan tinggi yang mampu meningkatkan produktivitas dari rata-rata nasional 5,5 ton per hektare menjadi 9 hingga 13,9 ton per hektare.
“Kalau ingin Indonesia kuat, bahkan menjadi superpower pangan, tumpuannya adalah inovasi dari kampus,” ujarnya.
Ia memaparkan, sejumlah contoh hasil riset perguruan tinggi yang telah dimanfaatkan pemerintah, mulai dari benih padi unggul Institut Pertanian Bogor (IPB). Benih tersebut dibeli pemerintah sebesar Rp250 miliar, traktor dan alat panjat kelapa dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
Selain itu, ada pengembangan benih jagung dari Universitas Hasanuddin (Unhas), komoditas gambir dari Universitas Andalas (Unand), ubi dari Universitas Lampung (Unila), hingga teknologi pengering (dryer) dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
Dari Universitas Gadjah Mada (UGM), lanjut Andi Amran, diperoleh teknologi peternakan yang mampu meningkatkan bobot sapi dari sekitar 500 kilogram menjadi hampir satu ton.
Selain peningkatan produktivitas, mekanisasi pertanian yang dikembangkan melalui kolaborasi riset juga mampu memangkas biaya produksi hingga 50 persen, dan meningkatkan hasil panen hampir 2 kali lipat dibanding metode konvensional.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menyambut tantangan tersebut. Pemerintah ingin memastikan hasil penelitian kampus tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi benar-benar menjadi solusi bagi kebutuhan nasional.
“Menteri Pertanian menantang seluruh perguruan tinggi untuk menunjukkan hasil penelitian yang siap dihilirkan. Bahkan beliau meminta daftar produk-produk inovasi kampus yang siap didukung maupun langsung dibeli oleh Kementerian Pertanian,” ujar Brian.
Ia mengatakan Kemdiktisaintek akan segera menginventarisasi berbagai inovasi dari perguruan tinggi yang siap diterapkan di sektor pertanian, mulai dari varietas unggul, teknologi pertanian presisi, alat dan mesin pertanian modern, hingga produk-produk pendukung lainnya.
“Pola kolaborasi itu menjadi model baru hubungan pemerintah dengan perguruan tinggi, di mana hasil riset tak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga produk yang memberi dampak langsung terhadap peningkatan produksi pangan nasional,” tutur Brian.
Ke depan, kolaborasi riset akan difokuskan untuk mengejar swasembada sejumlah komoditas strategis yang masih bergantung pada impor, seperti bawang putih, kedelai, gandum, dan daging.
Pemerintah berharap ekosistem pendidikan tinggi mampu menghadirkan inovasi yang memperkuat ketahanan sekaligus kedaulatan pangan Indonesia.
Sarasehan KSTI 2026 menjadi momentum untuk memperkuat peran perguruan tinggi sebagai mitra strategis pemerintah dalam menghadirkan solusi berbasis sains, riset, dan inovasi guna mempercepat terwujudnya pembangunan nasional. (Tri Wahyuni)
