JAKARTA (Suara Karya): Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III mendorong Institut Pariwisata (IP) Trisakti untuk melahirkan lebih banyak guru besar baru. Dengan harapan, setiap program studi memiliki satu guru besar.
Hal itu dikemukakan Direktur Kelembagaan, Ditjen Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Diktiristek), Kemdikbudristek yang juga Pelaksana Tugas (Plt) Kepala LLDikti Wilayah III, Lukman dalam acara Dies Natalis ke-54 IP Trisakti, di Jakarta, Senin (5/6/23).
Lukman mengaku optimis atas capaian itu, karena IP Trisakti telah memiliki 10 lektor kepala. Hanya butuh satu langkah lagi menuju guru besar.
“Jika gerak cepat, saya optimis target guru besar bisa diraih IP Trisakti dalam dua tahun. Jika tidak, kami targetkan selama 5 tahun,” tutur Lukman yang juga menjabat sebagai Ketua Pembina Yayasan Trisakti.
Keoptimisan Lukman bukan tanpa dasar. Ia melihat sistem pembelajaran di IP Trisakti sudah terbilang bagus. Hal itu terlihat pada status akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).
“Kendala terbesar dalam pencapaian status guru besar, yang dihadapi semua perguruan tinggi di Indonesia karena dosen kita kurang narsis di dunia internasional,” ujarnya.
Kurang narsis itu, lanjut Lukman, dosen di Indonesia minim penelitian yang hasilnya terindeks jurnal internasional. Padahal salah satu syarat menjadi guru besar, namanya telah menjadi bagian dunia global.
“Ini yang akan kita dorong, agar mereka mulai mengembangkan penelitian yang terindeks jurnal internasional. Penelitian itu bisa dilakukan sendiri atau bergabung dengan peneliti asing,” katanya.
Lukman menyebut jumlah dosen dibawah kelola LLDikti Wilayah III sebanyak 25.497 orang. Dari jumlah itu, 346 berstatus guru besar. “Semoga jumlahnya terus meningkat untuk pendidikan tinggi Indonesia yang lebih baik,” ujar Lukman.
Terkait hal itu, Rektor IP Trisakti, Fetty Asmaniati akan mendukung staf pengajarnya yang berpotensi menjadi guru besar untuk mengembangkan keilmuannya.
“Karena keberadaan guru besar, tak hanya memenuhi standar pendidikan bermutu, tetapi juga memposisikan IP Trisakti sebagai kampus pariwisata terbaik,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Lukman menyaksikan pengukuhan Prof Dr Myrza Rahmanita sebagai Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Ekonomi Pariwisata IP Trisakti.
Pidato pengukuhan Doktor Ilmu Ekonomi lulusan Universitas Indonesia itu berjudul ‘Ekonomi Pariwisata Meta: Landasan dan Lompatan Melampaui Pariwisata Berkelanjutan’.
Myrza yang saat ini menjabat Kepala Departemen S2 Pariwisata IP Trisakti itu menjelaskan, pariwisata menumbuhkembangkan ekonomi, sosial, budaya masyarakat dan kelestarian lingkungan.
Tetapi di sisi lain terjadi degradasi lingkungan seperti deforestasi, erosi pantai, polusi udara dan suara; dampak negatif terhadap ekonomi seperti ketimpangan ekonomi dan overtourism.
Dampak negatif lainnya adalah tergerusnya budaya lokal, seperti komersialisasi atau komodifikasi budaya untuk kepentingan pariwisata.
“Berbagai inisiatif seperti pembangunan berkelanjutan, pariwisata berkelanjutan, pariwisata restoratif, maupun pariwisata regeneratif bermunculan, namun kondisi atas dampak negatif itu hadir secara signifikan, termasuk di kota-kota yang pariwisatanya sudah lama berkembang,” tuturnya.
Myrza menyebut konsep pariwisata meta, yang lahir dari refleksi kritis guna mengelevasi inisiatif pariwisata berkelanjutan dengan menambah dimensi keempat yaitu manusia sebagai entitas.
“Konsep pariwisata meta dan ekonomi pariwisata meta ini masih memerlukan kajian yang lebih komprehensif, riset yang serius serta refleksi kritis yang radikal agar menjadi rumusan yang lebih solutif untuk diterapkan dalam pengembangan pariwisata di Indonesia,” kata Myrza menandaskan. (Tri Wahyuni)
