Suara Karya

LLDikti Wilayah III Dorong Kampus di Bawah Yayasan Trisakti Perkuat Budaya Mutu

JAKARTA (Suara Karya): Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III, Henri Tambunan menegaskan, pentingnya membangun budaya mutu yang berkelanjutan di lingkungan perguruan tinggi, khususnya kampus-kampus di bawah naungan Yayasan Trisakti.

Penegasan tersebut disampaikan dalam kegiatan bertajuk ‘Sosialisasi Instrumen APT 4.1’ yang digelar Yayasan Trisakti di kampus Institut Pariwisata Trisakti, Kamis (26/2/2026).

Hadir dalam kesempatan yang sama, Ketua Majelis Akreditasi BANPT, Prof Dr Imam Buchori, dan Direktur Dewan Eksekutif BAN-PT, Prof Dr Ari Purbayanto.

Kegiatan itu menjadi momentum strategis untuk menyamakan persepsi, sekaligus memperkuat kesiapan perguruan tinggi dalam menghadapi Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT).

Dalam sambutannya, Henri mengapresiasi inisiatif Yayasan Trisakti yang dinilai menunjukkan komitmen kuat dalam memastikan seluruh satuan pendidikan memiliki pemahaman selaras terhadap kebijakan dan teknis penyusunan akreditasi.

“Akreditasi perguruan tinggi saat ini tidak lagi dipahami sekadar proses administratif atau kewajiban periodik. Instrumen APT 4.1 itu menuntut perubahan cara pandang. Fokusnya bukan hanya kelengkapan dokumen, tetapi konsistensi praktik mutu yang benar-benar hidup di dalam perguruan tinggi,” ujarnya.

Henri mengungkapkan, hasil evaluasi yang dilakukan LLDikti Wilayah III selama ini menunjukkan, tantangan utama perguruan tinggi bukan pada minimnya program, melainkan pada keterhubungan antarproses.

“Banyak kampus memiliki penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga kerja sama industri yang baik. Namun belum seluruhnya terdokumentasi secara sistematis dan terintegrasi dalam kerangka penjaminan mutu institusi,” tuturnya.

Karena itu, sosialisasi APT 4.1 menjadi penting untuk membangun pemahaman bersama terkait indikator, eviden, dan mekanisme evaluasi. Sehingga perguruan tinggi dapat bergerak lebih efektif, tanpa harus menunggu masa reakreditasi untuk melakukan pembenahan.

“Budaya mutu dibangun melalui kebiasaan harian, perencanaan realistis, pelaksanaan konsisten, serta evaluasi yang jujur terhadap capaian institusi,” tegas Henri.

Ia juga menyoroti dinamika pendidikan tinggi yang semakin kompleks, mulai dari perubahan kebutuhan tenaga kerja, percepatan transformasi digital, hingga meningkatnya tuntutan akuntabilitas publik.

“Institusi pendidikan tinggi kini dituntut tidak hanya relevan, tetapi juga adaptif,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Henri menyampaikan tiga pesan utama kepada peserta sosialisasi.
Pertama, menjadikan proses akreditasi sebagai momentum konsolidasi internal, bukan sekadar persiapan menghadapi penilaian eksternal.

“Keterlibatan seluruh unit kerja dinilai menjadi kunci agar mutu menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Kedua, memperkuat fungsi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Dokumen yang baik, tidak akan bermakna tanpa siklus evaluasi yang berjalan rutin dan objektif.

Ketiga, memanfaatkan forum sosialisasi sebagai ruang berbagi praktik baik antarperguruan tinggi guna mempercepat peningkatan mutu secara kolektif.

Henri berharap, kegiatan tidak berhenti pada pemahaman konseptual, tetapi berlanjut pada langkah konkret dalam penyusunan dokumen AIPT yang matang, kredibel, dan mencerminkan kondisi riil institusi.

Ia juga mengungkapkan sebagian besar perguruan tinggi di bawah Yayasan Trisakti telah meraih akreditasi Unggul. “Tinggal satu kampus lagi yang perlu didorong agar menjadi Unggul. Semoga kegiatan ini dapat mencapai tujuan sosialisasi,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor Institut Pariwisata Trisakti, Fetty Asmaniati dalam sambutannya menegaskan, sosialisasi Instrumen APT 4.1 memiliki arti penting dalam penguatan mutu perguruan tinggi di lingkungan Yayasan Trisakti.

“Akreditasi institusi adalah momentum refleksi dan transformasi, bukan sekadar memenuhi standar. Tetapi bagaimana membangun sistem yang memastikan mutu tumbuh dan terjaga secara konsisten,” katanya.

Ia menekankan pentingnya persiapan yang matang, sistematis, dan selaras dengan standar yang ditetapkan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dalam proses reakreditasi institusi.

“Kami ingin memastikan setiap tahapan reakreditasi dipersiapkan secara terstruktur, berbasis data, dan mencerminkan kondisi riil institusi,” ujarnya.

Di tengah dinamika pendidikan tinggi yang semakin kompetitif, Fetty menilai penguatan sistem penjaminan mutu menjadi kunci agar institusi tetap relevan dan dipercaya publik.

Kegiatan itu juga diharapkan menjadi ruang konsolidasi sekaligus penguatan sinergi antara satuan pendidikan di bawah naungan Yayasan Trisakti, sehingga peningkatan mutu berjalan terintegrasi dan berkelanjutan. (Tri Wahyuni)

Related posts