Suara Karya

SEAMEO REFCON Luncurkan ‘Policy Brief’, Ungkap Kesenjangan Gizi Anak Indonesia

JAKARTA (Suara Karya): SEAMEO Regional Centre for Food and Nutrition (SEAMEO RECFON) meluncurkan tiga ‘policy brief’ yang menerjemahkan hasil penelitian dan pengalaman implementasi menjadi rekomendasi kebijakan untuk memperkuat pemenuhan gizi anak di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.

Peluncuran tiga policy brief tersebut menjadi bagian dari rangkaian Governing Board Meeting SEAMEO RECFON 2026. Ketiga dokumen menegaskan peran RECFON sebagai Centre of Excellence pangan dan gizi yang menjembatani science, policy, dan practice.

Direktur SEAMEO RECFON, Prof Dr dr Rini Sekartini, Sp.A(K) mengatakan, rekomendasi yang dihasilkan tidak hanya berangkat dari kajian ilmiah, tetapi juga diarahkan agar dapat diterapkan dalam kebijakan dan program di lapangan.

“Peluncuran policy brief ini merupakan wujud nyata mandat kami sebagai SEAMEO Centre of Excellence di bidang pangan dan gizi, khususnya dalam menjembatani science, policy and practice,” kata Prof Rini dalam peluncuran ‘policy brief’ tersebut, di Jakarta, Rabu (9/9/26).

Salah satu policy brief yang diluncurkan membahas penguatan Survei Gizi Indonesia (SGI) melalui sistem biomarker zat gizi mikro yang lebih efisien dan akurat.

RECFON mendorong integrasi pemeriksaan biomarker, agar pemetaan anemia dan defisiensi zat gizi mikro dapat dilakukan secara lebih lengkap.

Menurut Rini, penguatan pemeriksaan laboratorium penting agar pemerintah memiliki data yang lebih kuat dalam menentukan prioritas dan mengevaluasi kebijakan perbaikan gizi.

“Dengan demikian, kita lebih tahu penyebabnya, sehingga solusinya menjadi lebih tepat,” katanya.

RECFON juga merekomendasikan penguatan kapasitas laboratorium serta dukungan laboratorium rujukan nasional, agar hasil pemeriksaan biomarker lebih konsisten dan dapat dibandingkan antarwilayah.

Tak Bisa Disamaratakan

Policy brief kedua mengangkat penerapan Panduan Gizi Seimbang Berbasis Pangan Lokal (PGS-PL) dalam kebijakan gizi sekolah.

Kajian yang menjadi dasar dokumen tersebut melibatkan 4.219 siswa usia 7-18 tahun di 12 kabupaten/kota yang tersebar di enam wilayah Indonesia.

Penelitian dilakukan dengan melihat pola konsumsi makanan anak dan pemeriksaan laboratorium untuk mengidentifikasi kesenjangan zat gizi mikro.

Hasil penelitian menunjukkan, kebutuhan gizi anak tidak dapat dipenuhi dengan pendekatan yang seragam, karena kondisi pangan dan persoalan gizi berbeda antarwilayah.

Dengan menggunakan Linear Programming dan WHO Optifood, RECFON menyusun rekomendasi pangan dan rancangan menu sekolah berdasarkan kebutuhan gizi, masalah gizi, ketersediaan pangan, pola konsumsi, serta konteks budaya setempat.

Rini mengatakan pendekatan tersebut memungkinkan pangan lokal dimanfaatkan untuk mengisi kesenjangan zat gizi anak.

“Ketika kita akan memperbaiki status gizi pada anak, seharusnya disesuaikan dengan kekurangan zat gizi mikro tersebut. Jadi tidak bisa disamaratakan,” ujarnya.

RECFON menyusun contoh menu tujuh hari untuk 12 wilayah penelitian dengan memanfaatkan bahan pangan yang tersedia dan lazim dikonsumsi masyarakat setempat.

Menurut Rini, pendekatan tersebut dapat menjadi masukan bagi penguatan kebijakan gizi sekolah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, pemenuhan gizi tidak cukup hanya melalui pemberian makanan.

“Anak tidak hanya memperoleh makanan bergizi, tetapi juga memahami, memilih, dan membiasakan pola makan sehat sejak dini,” katanya.

Deputi Direktur Program SEAMEO RECFON, Dr dr Brian Sri Prihastuti, mengatakan hasil penelitian mengenai kebutuhan gizi anak akan menjadi salah satu bahan dalam agenda kerja RECFON ke depan.

Temuan tersebut juga akan disampaikan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai masukan untuk memperkuat pemenuhan kebutuhan gizi anak sesuai usia dan karakteristik wilayah.

“Kami punya rencana 5 tahun ke depan. Ini salah satu yang akan kami sampaikan ke Badan Gizi Nasional mengenai temuan kami,” ujar Brian.

Ia menilai data berbasis penelitian penting agar intervensi gizi dapat diarahkan secara lebih tepat, terutama ketika kebutuhan anak berbeda berdasarkan usia dan kondisi wilayah.

Sementara itu, policy brief ketiga berfokus pada penguatan implementasi ASEAN School Nutrition Package melalui pendekatan regional untuk penjaminan mutu dan pemantauan.

Deputi Direktur Administrasi SEAMEO RECFON, Dr M Dzaky F Surapranata mengatakan, kebijakan gizi sekolah di negara-negara ASEAN perlu didukung mekanisme yang memastikan program tidak berhenti pada dokumen kebijakan, tetapi benar-benar diterapkan dan dipantau dampaknya.

Kajian RECFON terhadap program gizi berbasis sekolah di negara-negara ASEAN menemukan masih terdapat sejumlah standar minimum yang belum terpenuhi secara optimal.

Karena itu, RECFON merekomendasikan kerangka kerja regional, mekanisme monitoring, serta penguatan kapasitas negara-negara ASEAN dalam menjalankan program gizi sekolah.

“Rekomendasi yang kami keluarkan adalah kerangka kerja yang bisa memandu setiap negara di Asia Tenggara, agar program gizi berbasis sekolah yang mereka lakukan dapat memenuhi standar ASEAN,” kata Dzaky.

Pengalaman Indonesia melalui program Gizi untuk Prestasi/Nutrition Goes to School (NGTS) menjadi salah satu praktik baik yang dapat dibagikan ke negara-negara ASEAN.

RECFON juga memiliki pengalaman mendampingi sejumlah negara, termasuk Filipina, dalam penguatan program school meal dan school garden.

Melalui tiga policy brief tersebut, SEAMEO RECFON memperkuat perannya sebagai pusat pengetahuan regional bidang pangan dan gizi.

Hasil riset tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan evidence, tetapi juga diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan dan solusi yang dapat diterapkan di tingkat nasional maupun kawasan Asia Tenggara. (Tri Wahyuni)

Related posts