Suara Karya

Tren Terkini, Orangtua Dorong Anak Masuk SMK Demi Raih Kursi di PTN Favorit

JAKARTA (Suara Karya): Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang selama ini dikenal sebagai jalur pendidikan untuk langsung bekerja, ternyata mulai mengalami pergeseran fungsi di mata sebagian masyarakat.

Kini, semakin banyak orangtua yang justru memilih menyekolahkan anaknya ke SMK dengan target melanjutkan pendidikan ke program studi (prodi) vokasi di perguruan tinggi negeri (PTN) favorit.

Tren terkini tersebut diungkapkan Direktur SMK Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Arie Wibowo Khurniawan, usai peluncuran Pelaksanaan Tracer Study (Penelusuran Tamatan) SMK 2026 di Jakarta, Kamis (30/7/26).

Arie mengungkapkan, hasil penelusuran lulusan dalam 5 tahun terakhir, ada sekitar 15-20 persen lulusan SMK melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Angka tersebut menunjukkan adanya perubahan pola pikir, terutama di kota-kota besar.

“Memang ada kecenderungan perubahan, terutama di kota-kota besar. Orangtua menyekolahkan anaknya di SMK, tetapi target akhirnya adalah kuliah. Mereka melihat jalur SMK juga memiliki peluang untuk masuk perguruan tinggi negeri, khususnya prodi vokasi di PTN ternama,” kata Ari.

Ia menilai, perubahan ini dipengaruhi semakin terbukanya akses lulusan SMK ke berbagai jalur seleksi masuk PTN. Tidak sedikit lulusan SMK yang diterima di sekolah vokasi perguruan tinggi ternama seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Pertanian Bogor (IPB), maupun politeknik negeri.

“Kalau lewat SMA persaingannya sangat ketat. Lewat SMK ada jalur keahlian yang menjadi keunggulan tersendiri. Saya melihat tren ini mulai tampak sekitar 2-3 tahun terakhir,” ujarnya.

Ari mencontohkan praktik yang berkembang di SMK Telkom Malang. Sekolah tersebut bahkan membuka kelas internasional yang dirancang bagi siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi luar negeri.

“Orangtua ingin anaknya mendapat keterampilan lebih dulu, misalkan, di bidang cybersecurity. Saat kuliah di bidang tersebut, anaknya tidak mulai dari nol. Jadi orientasinya bukan hanya langsung bekerja,” jelasnya.

Meski demikian, Ari menegaskan, mandat utama SMK tetap menyiapkan lulusan agar siap memasuki dunia kerja maupun berwirausaha. Karena itu, pemerintah tetap mengukur keberhasilan SMK melalui tingkat keterserapan lulusan di dunia kerja, kewirausahaan, dan pendidikan lanjutan.

Hal senada disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dikmensus) Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin. Katanya, keberhasilan lulusan SMK tidak lagi diukur dari jumlah yang bekerja, tetapi juga dari berapa banyak yang berwirausaha maupun melanjutkan pendidikan.

“Lewatvtracer study kita ingin memetakan berapa banyak lulusan yang bekerja, berwirausaha, dan melanjutkan kuliah. Kita juga ingin tahu berapa lama mereka memperoleh pekerjaan, serta apakah pekerjaan itu sesuai dengan kompetensi yang dipelajari di sekolah,” kata Tatang.

Data tersebut akan menjadi fondasi penting dalam penyusunan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy), mulai dari penyempurnaan kurikulum, penguatan kemitraan industri, hingga penyesuaian program keahlian agar sesuai kebutuhan pasar kerja.

Tracer Study SMK 2026 sendiri resmi dimulai pada 30 Juli hingga November 2026 dengan target tingkat respons 86 persen dari sekitar 1,5 juta lulusan SMK, mendekati total lulusan nasional yang rata-rata mencapai 1,6 juta orang setiap tahun.

Kemendikdasmen telah menyempurnakan pelaksanaan tracer study 2026 melalui perbaikan instrumen, perluasan metode sampling, pengembangan aplikasi, mekanisme verifikasi data, serta koordinasi lintas kementerian agar hasil yang diperoleh lebih akurat dan dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan nasional.

Berdasarkan data yang dipaparkan Tatang, tingkat pengangguran lulusan SMK juga terus menunjukkan tren positif. Angkanya turun dari sekitar 13 persen pada 2020, menjadi 9 persen pada 2024, dan kembali menurun menjadi sekitar 7-8 persen pada akhir 2025.

Meski demikian, pemerintah menilai tantangan berikutnya justru semakin besar karena penurunan berikutnya memerlukan intervensi yang lebih spesifik, terutama bagi SMK yang berada di daerah dengan akses industri terbatas.

Selain itu, hasil tracer study tahun sebelumnya menunjukkan kompetensi di bidang teknologi dan rekayasa, termasuk cybersecurity, Internet of Things (IoT), dan bidang berbasis literasi digital, menjadi kelompok keahlian yang paling banyak dibutuhkan dunia kerja.

Sebaliknya, kompetensi bisnis dan manajemen masih menjadi penyumbang terbesar angka pengangguran karena jumlah lulusannya sangat besar.

Untuk itu, Kemendikdasmen akan memperkuat kurikulum dengan materi kewirausahaan dan penyelarasan yang lebih erat dengan kebutuhan industri.

Fenomena meningkatnya minat lulusan SMK melanjutkan ke PTN favorit dinilai menjadi sinyal, bahwa SMK kini tidak lagi dipandang sebagai “jalur akhir” menuju dunia kerja, melainkan juga sebagai salah satu strategi untuk memperoleh pendidikan tinggi sekaligus bekal kompetensi yang lebih kuat sebelum memasuki pasar kerja. (Tri Wahyuni)

Related posts