Suara Karya

Kemdiktisaintek Luncurkan SatuBeasiswa Indonesia, Akses Kuliah Gratis Semakin Mudah!

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) meluncurkan ‘SatuBeasiswa Indonesia’, portal digital yang menyatukan informasi beasiswa dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, filantropi, hingga negara sahabat dalam satu wadah.

Mendiktisaintek Brian Yuliarto mengatakan, portal tersebut dibangun untuk memperluas akses pendidikan tinggi bagi anak-anak Indonesia, khususnya dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

Platform tersebut akan mempertemukan pihak yang mencari beasiswa dengan lembaga atau pihak yang menyediakan beasiswa.

“Kalau pendidikan tinggi adalah pintu menuju kesejahteraan keluarga, maka beasiswa adalah kunci untuk membuka pintu tersebut,” kata Brian dalam acara bertajuk ‘Sarasehat Mitra Beasiswa: SatuBeasiswa Indonesia’, di Jakarta, Selasa (15/9/26).

Menurut Brian, pendidikan tinggi menjadi salah satu jalan penting untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Anak-anak dari keluarga kurang mampu sering menghadapi keterbatasan akses pendidikan, meski memiliki potensi untuk berkembang menjadi talenta terbaik di berbagai bidang.

Karena itu, pemerintah mengajak pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga filantropi, alumni penerima beasiswa, dan negara sahabat memperluas kontribusi melalui platform digital SatuBeasiswa Indonesia.

Disebutkan, pemerintah selama ini telah mengalokasikan anggaran lebih dari Rp15 triliun setiap tahun, untuk mendukung pendidikan mahasiswa dari keluarga kurang mampu.

Namun, dukungan itu bisa datang pemerintah daerah, dari perguruan tinggi negeri (PTN), PTS, yayasan perusahaan, lembaga filantropi, serta pemerintah negara sahabat yang juga memiliki berbagai program beasiswa.

Persoalannya, informasi tentang peluang beasiswa tersebut masih tersebar di berbagai tempat, sehingga calon penerima maupun pemberi beasiswa kerap kesulitan menemukan calon penerima yang tepat.

“Peluang beasiswa sebenarnya banyak, tapi terpencar di mana-mana. Jika disatukan dalam satu portal, maka para pencari beasiswa bisa dengan mudah mengakses,” ujarnya.

Brian mengungkapkan data per 11 September 2026, SatuBeasiswa Indonesia telah mencatat 445 program pemberi beasiswa dengan total nominal pendanaan sekitar Rp1,1 triliun.

Dari jumlah ity, 340 program berasal dari mitra, 54 dari filantropi, 27 dari pemerintah pusat, 27 dari perusahaan, dan sisanya 17 program dari pemerintah daerah.

“Jumlah itu terus bertambah. Hingga pertengahan September 2026, tercatat sekitar 460 program telah masuk dalam ekosistem SatuBeasiswa Indonesia,” tuturnya.

Brian juga mendorong pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat untuk mengembangkan inisiatif beasiswa baru setelah melihat kebutuhan yang masih tersedia.

Selain menghimpun informasi, SatuBeasiswa Indonesia juga membantu mengurangi potensi penerima mendapat beasiswa lebih dari satu. Padahal masih banyak mahasiswa yang membutuhkan beasiswa tersebut.

Dengan basis data yang terintegrasi, maka pemberi beasiswa dapat memperoleh gambaran lebih jelas tentang calon penerima dan peluang dukungan yang masih tersedia. Pemerintah juga dapat memetakan kebutuhan pembiayaan pendidikan secara lebih baik.

Brian bahkan mendorong para alumni penerima beasiswa yang telah berhasil dalam karier untuk ikut menjadi pemberi beasiswa. Semangat tersebut diharapkan membentuk siklus gotong royong untuk memajukan anak bangsa.

Ia juga membuka peluang agar skema beasiswa ke depan dibuat lebih terukur, termasuk informasi kebutuhan biaya pendidikan per mahasiswa hingga lulus. Dengan begitu, masyarakat maupun lembaga yang ingin berkontribusi dapat mengetahui besaran dukungan yang akan diberikan.

“Penerima beasiswa yang sudah sukses dalam karir, bisa patungan untuk membantu biaya kuliah mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Begitu seterusnya, sehingga nasib bangsa ini ikut berubah,” ucap Brian.

Bukan Pengelola Dana Beasiswa

Kepala Pusat Pembiayaan dan Asesmen Pendidikan Tinggi (PPAPT) Kemdiktisaintek, Prof Sandro Mihradi menegaskan, portal SatuBeasiswa Indonesia bukan lembaga yang mengelola atau menyalurkan seluruh dana beasiswa yang dihimpun.

Platform tersebut lebih difungsikan sebagai infrastruktur informasi dan kolaborasi untuk mempertemukan pencari beasiswa dengan penyedia beasiswa dalam satu portal nasional.

“Jadi kita tidak mengelola dan memegang uangnya. Program dipegang masing-masing pihak, hanya laporannya yang akan disatukan. Sehingga tidak ada lagi duplikasi beasiswa, dimana satu orang dapat beasiswa dari dua-tiga lembaga,” tuturnya.

Ia menjelaskan, SatuBeasiswaIndonesia dikembangkan dengan dua sisi layanan utama. Dari sisi pencari beasiswa, tersedia profil calon penerima berdasarkan latar belakang pendidikan, prestasi, minat, serta informasi relevan lainnya.

Bagi pengguna, dapat menyimpan dan memantau program beasiswa serta mencari peluang berdasarkan kriteria tertentu, termasuk bidang dan lokasi.

Sementara dari sisi pemberi beasiswa, tersedia profil instansi serta ruang untuk mempublikasikan program beasiswa melalui dashboard setelah melalui proses verifikasi informasi.

Kedua sisi tersebut kemudian dihubungkan melalui fitur pencocokan sehingga peluang beasiswa dapat ditemukan oleh calon penerima yang sesuai, sekaligus membantu penyedia program menemukan sasaran penerima secara lebih tepat.

Sandro mengatakan, pemerintah saat ini masih memperluas dan memverifikasi data sebelum portal dibuka lebih luas ke masyarakat.

Per 15 September 2026, lanjut Prof Sandro, terdapat 71 program beasiswa yang telah tayang secara resmi, dengan pendanaan dari berbagai kelompok penyedia.

“Data yang masuk terus dikonsolidasikan, baik dari pemerintah pusat, perguruan tinggi, pemerintah daerah, sektor swasta, dan berbagai mitra lainnya,” ujarnya.

Menurut Sandro, kelengkapan dan akurasi data menjadi fondasi penting sebelum SatuBeasiswa Indonesia diperluas. Proses dilakukan secara bertahap, sambil meningkatkan cakupan, kualitas, dan konsistensi informasi,” katanya.

Setelah proses pengumpulan dan pemutakhiran data, ada 2 tahapan yang akan dilakukan. Pertama, definisi dan validasi data untuk memastikan setiap entitas dan informasi yang masuk konsisten serta dapat dipertanggungjawabkan.

Kedua, pembukaan portal publik agar informasi beasiswa dapat diakses masyarakat, mulai dari calon mahasiswa hingga masyarakat umum.

Sandro menekankan, keterlibatan seluruh ekosistem menjadi kunci keberhasilan inisiatif tersebut. Pemerintah pusat dan daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, filantropi, maupun negara sahabat memiliki peran dalam memperluas akses pendidikan tinggi.

“Satu Beasiswa Indonesia hanya akan bermakna bila seluruh kelompok beasiswa dari skala nasional hingga inisiatif filantropi perorangan ikut ambil bagian dalam upaya ini,” ujarnya. (Tri Wahyuni)

Related posts