JAKARTA (Suara Karya): Laju inflasi tahunan Provinsi DKI Jakarta terus melandai pada Juli 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat inflasi Ibu Kota sebesar 2,50% secara tahunan (year on year/yoy), menjadikannya sebagai provinsi dengan inflasi terendah kedua di Pulau Jawa setelah Banten, sekaligus lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 2,88% (yoy).
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Bambang Arianto, mengatakan capaian tersebut menunjukkan inflasi di Jakarta tetap terkendali dan berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional.
“Inflasi DKI Jakarta tetap terjaga dalam kisaran sasaran. Kondisi ini didukung oleh membaiknya pasokan pangan serta sinergi pengendalian inflasi yang erat antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Bank Indonesia, dan seluruh pemangku kepentingan,” kata Bambang dalam keterangan tertulisnya, Selasa (4/3/2026).
Secara bulanan, DKI Jakarta mencatat deflasi sebesar 0,15% (month to month/mtm) pada Juli 2026, lebih dalam dibandingkan deflasi nasional sebesar 0,14% (mtm). Realisasi tersebut juga berbalik dari bulan sebelumnya yang masih mengalami inflasi sebesar 0,41% (mtm).
Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang utama deflasi dengan penurunan sebesar 1,07% (mtm). Penurunan harga terutama terjadi pada komoditas cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah seiring meningkatnya pasokan dari sejumlah daerah sentra produksi, seperti Brebes, Kendal, dan Jawa Barat.
Harga daging ayam ras dan telur ayam ras juga mengalami penurunan karena pasokan dari Jawa Barat, Blitar, dan Lampung meningkat, sementara permintaan masyarakat relatif stabil.
Selain kelompok pangan, kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya mencatat deflasi sebesar 0,83% (mtm) akibat turunnya harga emas perhiasan yang mengikuti koreksi harga emas global.
Di sisi lain, penurunan inflasi tertahan oleh kenaikan harga pada kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran yang mengalami inflasi sebesar 0,51% (mtm) akibat penyesuaian biaya operasional sejumlah pelaku usaha makanan. Kelompok Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga juga mencatat inflasi sebesar 0,42% (mtm), terutama dipengaruhi kenaikan harga deterjen cair.
Sementara itu, inflasi kelompok transportasi melandai menjadi 0,02% (mtm). Penurunan ini dipengaruhi turunnya tarif angkutan udara setelah berakhirnya masa libur sekolah dan penurunan harga avtur untuk penerbangan domestik, meski masih tertahan oleh dampak lanjutan kenaikan harga BBM nonsubsidi.
Menurut Bambang, TPID Provinsi DKI Jakarta akan terus memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui implementasi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas harga di tengah risiko global maupun domestik, termasuk ketidakpastian geopolitik dan potensi cuaca kering yang dapat memengaruhi produksi pangan. (Boy)

