Suara Karya

Sorot Isu Lingkungan, LLDikti Wilayah III Targetkan Kampus Jakarta Bebas Sampah

JAKARTA (Suara Karya): Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III menargetkan seluruh perguruan tinggi di Jakarta bebas sampah mulai tahun depan.

Target tersebut akan didorong melalui pembentukan Konsorsium Sampah yang melibatkan perguruan tinggi untuk mengembangkan pusat pengelolaan sampah berbasis riset dan inovasi.

“Konsorsium tersebut akan menjadi wadah kolaborasi perguruan tinggi dalam mencari dan menerapkan solusi atas persoalan sampah yang semakin kompleks,” kata Kepala LLDikti Wilayah III Dr Henri Tambunan kepada media, di Jakarta, Senin (17/8/26).

Pernyataan tersebut disampaikan usai upacara bendera memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di kampus Institut Tarumanagara (ITARU), Jakarta Selatan.

Hadir dalam kesempatan yang sama, Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Sesjen Kemdiktisaintek), Prof Badri Munir Sukoco; Ketua Pengurus Yayasan Tarumanagara, Prof Ariawan Gunadi; dan Rektor Universitas Tarumanagara, Prof Dr Amad Sudiro.

Menurut Henri, persoalan sampah tidak dapat lagi dipandang hanya sebagai masalah kebersihan. Pengelolaan sampah membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif dengan melibatkan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, perubahan perilaku, serta kolaborasi berbagai pemangku kepentingan.

“Persoalan sampah saat ini menjadi perhatian pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Karena itu, tahun depan kami menargetkan kampus di Jakarta akan bebas sampah,” ujarnya.

Ia menilai, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam menjawab persoalan sampah, karena kampus merupakan pusat pendidikan, penelitian, pengembangan teknologi, sekaligus pengabdian kepada masyarakat.

“LLDikti Wilayah III mendorong isu pengelolaan sampah menjadi bagian dari budaya akademik di perguruan tinggi. Pendidikan tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran dan tanggung jawab terhadap lingkungan,” ucapnya.

Melalui kegiatan penelitian, perguruan tinggi juga didorong menghasilkan berbagai inovasi pengelolaan sampah, mulai dari teknologi pengolahan, pemanfaatan kembali limbah, hingga pengembangan model ekonomi sirkular yang dapat diterapkan di lingkungan kampus maupun masyarakat.

“Hasil penelitian dan inovasi itu diharapkan tidak berhenti di lingkungan akademik, tetapi bisa diterapkan untuk membantu masyarakat mengatasi persoalan sampah secara langsung melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM),” tuturnya.

Langkah tersebut dinilai Henri Tambunan penting, mengingat persoalan sampah menjadi salah satu tantangan lingkungan yang semakin besar. Pertumbuhan penduduk, urbanisasi, serta perubahan pola konsumsi masyarakat turut meningkatkan volume sampah yang harus dikelola.

“Dalam kondisi ini, kampus diharapkan tak hanya menjadi tempat menghasilkan teori dan pengetahuan, tetapi juga menjadi contoh nyata penerapan gaya hidup berkelanjutan,” ujarnya.

LLDikti Wilayah III juga mendorong mahasiswa mengambil peran sebagai agen perubahan dalam gerakan pengelolaan sampah. Kesadaran tersebut dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti memilah sampah dari sumbernya, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, mengurangi sampah makanan, serta menggunakan kembali barang yang masih layak.

“Jika dilakukan secara konsisten dan melibatkan seluruh sivitas akademika, kebiasaan tersebut akan membentuk budaya baru di lingkungan perguruan tinggi,” ucapnya.

Lebih jauh, mahasiswa diharapkan membawa budaya peduli lingkungan tersebut ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Dengan begitu, gerakan kampus bebas sampah tidak berhenti pada persoalan internal perguruan tinggi, tetapi dapat berkembang menjadi gerakan sosial yang lebih luas.

“Bagi LLDikti Wilayah III, target kampus bebas sampah juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan berkelanjutan,” pungkasnya.

Perguruan tinggi memiliki sumber daya manusia, jaringan, serta kapasitas riset yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan solusi konkret terhadap berbagai persoalan lingkungan. (Tri Wahyuni)

Related posts