Suara Karya

Gandeng MPR, UT Kenalkan Leaderpreneurship ke Kalangan Muda

JAKARTA (Suara Karya): Menggandeng lembaga MPR RI, Universitas Terbuka (UT) memperkenalkan ‘leaderpreneurship’ kepada kalangan muda. Konsep tersebut penting untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.

“Pemimpin yang mampu menggabungkan semangat berwirausaha dan inovasi menjadi kunci dalam mengarahkan negara menuju kemakmuran,” kata Rektor UT, Prof Ojat Darojat dalam acara bertajuk ‘studium generale’ atau kuliah umum di Gedung MPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (22/11/23).

Pembicara kunci dalam acara yang dihadiri ratusan mahasiswa itu adalah Ketua MPR, Bambang Soesatyo. Narasumber lainnya adalah Walikota Madiun, Dr Maidi, Guru Besar Fakultas Hukum Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FHISIP) UT, Prof Effendi Wahyono dan tokoh muda yang juga pengusaha, Atta Halilintar.

Melalui Studium Generale, Prof Ojat berharap muncul banyak ide, gagasan, dan pemikiran, serta menjadi ajang diskusi agar semua dapat berkontribusi bagi kemajuan pengembangan SDM unggul terutama dalam menyikapi bonus demograsi yang ada.

“Para civitas akademika UT ikut mengembangkan riset inovasi yang dibutuhkan agar Indonesia menjadi negara maju. Sekaligus menjadi inkubator pembukaan industri dan kewirausahaan yang digawangi oleh para leadership tangguh,” ucapnya.

Ditambahkan, entreprenuership juga perlu dikenalkan ke mahasiswa agar tidak lagi sibuk mencari pekerjaan setelah lulus, tetapi membuat bisnis sendiri. Sehingga tersedia lebih banyak lapangan kerja.

“UT memiliki kurikulum wirausaha yang diharapkan bisa mendorong lulusan untuk membuka usaha. Apalagi di era sosial media saat ini, dimana banyak peluang usaha baru yang bisa dikembangkan,” ucapnya.

Hal senada dikemukakan Ketua MPR, Bambang Soesatyo. Pria yang akrab dipanggil Bamsoet itu sibuk berdagang bahan pangan sejak mahasiswa. “Ketika saya jadi wartawan pun setelah lulus, bisnis jualan masih terus dilakukan disela-sela kerja,” katanya.

Berdagang atau wirausaha, lanjut Bamsoet, merupakan pekerjaan yang bisa digeluti mahasiswa, karena waktunya yang fleksibel. Keuntungan dari wirausaha juga bisa diinvestasikan untuk masa depan.

Ditambahkan, kegiatan studium generale bersama UT pernah dilakukan tahun-tahun sebelumnya dengan mengundang beberapa tokoh muda seperti Bams dan Irfan Hakim. Tahun ini mengundang Atta Halilintar.

“Kehadiran tokoh muda ini semua memberi inspirasi bagi kalangan muda. Terutama mereka yang ingin masuk ke bisnis kreatif. Karena Atta itu tak hanya youtuber, tetapi juga punya banyak bisnis lain yang menghasilkan cuan,” ujar Bamsoet.

Soal leaderpreneurship, Dekan FHISIP UT, Muhammad Husni Arifin menjelaskan, leaderpreneur akan muncul sebagai mercusuar perubahan, mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan peluang kerja, dan menyulut percikan inovasi.

“Kemampuan mereka untuk menghadapi tantangan, menginspirasi tim, dan mendorong praktik bisnis yang berkelanjutan menjadi landasan perjalanan Indonesia menuju kejayaan,” ucapnya.

Ditegaskan, sinergi antara kepemimpinan dan kewirausahaan bukanlah hanya strategi bisnis semata, melainkan suatu keharusan nasional.

Menurut Muhammad Husni Arifin, membudayakan pola pikir yang merangkul risiko, menghargai kreativitas, dan membayangkan masa depan di mana Indonesia berdiri sebagai kekuatan ekonomi global.

“Kami yakin, perpaduan kepemimpinan dan kewirausahaan bisa menjadi katalis untuk transformasi Indonesia menjadi era emas pada 2045,” ujarnya.

Ditambahkan, leaderpreneur adalah arsitek kemajuan, membangun fondasi untuk sebuah bangsa yang tangguh dan berkembang. (Tri Wahyuni)

Related posts