JAKARTA (Suara Karya) : Setelah berjuang mengalahkan lawan saat menjadi atlet nasional, kini mantan srikandi panahan Indonesia di Olimpiade Montreal 1976 dr. Leane Suniar Manurung MSc, SPGK (73 tahun) harus berjuang melawan penyakit kanker yang dideritanya sejak tahun 2019.
Dokter ahli gizi olahraga itu kini harus balak – balik dari rumah menuju Rumah Sakit Harapan Bunda Cijantung Jakarta Timur tempat menjalani perawatan dan pengobatan kemo.
Selama berjuang melawan penyakin yang dideritanya, Leane masih terhibur ketua rekan – rekannya yang datang dari kalangan olahraga memberi suport dan dukungan doa serta semangat agar wanita yang seluruh hidupnya diabadikan untuk olahraga Indonesia ini mampu melawan penyakit yang belum ada obatnya itu.
Salah satu di antara dukungan rekan-rekannya datang dari kalangan Perwosi Pusat. Mereka yang datang, Ibu Rini Hukom dan Ibu Nova. Para Ibu – Ibu yang datang itu adalah instruktur senam Perwosi. Kedatangan keduanya ini tentu memberikan suport. Hal itu pula tentu menjadi dorongan semangat dan menghibur wanita yang juga punya jasa besar terhadap olahraga di Indonesia.
Para sahabat yang.datang mengenang Leane dalam dunia olahraga tidak mengenal lelah. Bahkan, terus mengabdikan hidupnya untuk kemajuan olahraga di Tanah Air.
Sebagai contohnya di awal tahun 2020 lalu, meski dalam kondisi sakit, dia dipapah rekan-rekannya untuk mengikuti pertemuan atau rapat tahunan di KOI (Komite Olimpiade Indonesia), sebagai Direktur Medical & Doping Control Inasgoc (2018).
“Saya sakit, tapi ini saya paksakan saja. Belum sehat, saya selalu berusaha semangat untuk hadir dalam rapat tahunan KOI,”tutur Leane, mantan dosen Ilmu Gizi Kedokteran UKI (Univeristas Kristen Indonesia) lewat WhatsApp 5 Maret 2020 lalu.
Saat itu srikandi panahan yang meraih peringkat sembilan Olimpiade Montreal 1976 yang hasil skornya menyamai rekor dunia sudah terlihat sangat lemah. Jo Rumeser (almarhum) sebelum meninggal Desember 2020 karena serangan jantung, sempat memberikan spirit kepada Leane.
Jo Rumeser, mantan pemain tim nasional sofbol Indonesia yang juga seorang konsultan psikologi olahraga untuk Timnas sepakbola Indonesia dan juga hampir semua cabor itu, mengatakan, dr Leane adalah salah satu atlet nasional yang mengharumkan nama bangsa di Olimpiade Montreal.
Meski Leane belum mempersembahkan medali di kala itu, tetapi dia menjadi wanita Indonesia pertama yang mencapai peringkat mengagumkan bagi Indonesia berada di urutan sembilan dunia di Olimpiade itu.
Menurutnya, Leane bersama Donald Pandiangan di bagian putra menjadi ‘ikon’ panahan di kala Indonesia belum punya prestasi apa-apa di Olimpiade. Dokter Leane dan Donald Pandiangan boleh dibilang menjadi pembuka jalan prestasi panahan Indonesia di tingkat dunia.
Baru 12 tahun kemudian Trio Srikandi Indonesia (Lilies Handayani, Nufitriyana Saiman, dan Kusuma Wardhani) menyempurnakan prestasi itu dengan mempersembahkan medali perak di Olimpiade Seoul tahun 1988 di bawah asuhan pelatih Donald Pandiangan.
“Leanne menjadi pemanah putri yang harum namanya bersama Donald Pandiangan di bagian putra. Saya doakan semoga dapat segera pulih, dan kemonya dapat berjalan dengan baik”, sebut Jo Rumeser, pendiri Fakultas Psiiokologi BINUS saat WA ke Leane Suniar 5 Juli 2020 lalu.
Lain almarhum Jo Rumeser, lain pula Drs EckyTamtelahitu ketika mengetahui dr Leane tengah berjuang melawan kankernya. Dosen olahraga yang purna tugas dari FPOK – UNJ Jakarta pada tahun 2008 langsung menelpon rekannya Leane dari kampung halamannya di Soya, Ambon pada Minggu (12/9/2021).
“Leane menangis ketika mendengar suara saya menggemah di telinganya dari gagang telepon seluler miliknya,” sebut Ecky Tamtelahitu pada waktu mengisahkan tentang pembicaraan mereka berdua beberapa menit sebelumnya saat itu.
Sebagai rekan sesama atlet panahan tim PON DKI pada PON VIII/1973, Ecky Tamtelahitu yang kini sudah berusia 78 tahun tidak bisa menutupi kisah kehebatan dan kelebihan rekanya dr Leane Suniar.
Dia seorang atlet yang luar biasa pada masanya. Dia figur atlet hebat, fokus, disiplin, dan seorang pekerja keras. Sebelum sukses di Olimpiade Montreal 1976 ia sudah puluhan kali memecahkan rekor nasional.
Sementara itu, mantan lifter terbaik Indonesia era 1980-an yang kini menjadi pembina utama di PB PABSI (Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia), Ir Hadi Wihardja, mengatakan, dr Leane adalah pribadi yang penuh dedikaksi untuk dunia olahraga Indonesia.
“Dari sisi ilmu gizi olahraga yang menjadi bidang tugasnya ini, dr Leane, sebut Hadi Wihardja, adalah pribadi yang penuh tanggungjawab. Luar biasa,”sebut Ir Hadi Wihardja .
“Dia sering memberi motivasi pada atlet Indonesia. Di cabang angkat besi dia juga memberikan motivasi serupa. Hebatnya, motivasi yang diberikan adalah motivasi dari pengalamannya sendiri sebagai atlet hebat,” jelas Hadi.
“Itu yang luar biasa dari Leane. Dia adalah mantan atlet yang sangat menguasai ilmu gizi untuk atlet dan memberikan contoh serta aplikasi praktek yang baik. Pengalamannya yang luar biasa itu memberi motivasi lebih untuk semua atlet nasional” tambah Hadi Wihardja seraya mengatakan, cepat sembuh sobat. (Warso)
