JAKARTA (Suara Karya): Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2026 menjatuhkan sanksi tegas terhadap peserta yang terbukti melakukan pelanggaran dalam pelaksanaan UTBK-SNBT 2026.
Sebanyak 38 peserta resmi masuk daftar hitam atau blacklist nasional, sementara total peserta yang didiskualifikasi mencapai sekitar 1.750 orang.
Ketua Umum Tim Penanggung Jawab Panitia SNPMB 2026, Eduart Wolok mengatakan, peserta yang terbukti menggunakan joki maupun alat komunikasi terlarang dikenakan sanksi paling berat berupa ‘blacklist’ dari seluruh jalur penerimaan perguruan tinggi negeri (PTN).
“Ada 27 peserta SNBT 2026 yang terbukti menggunakan joki, dan 11 peserta lainnya menggunakan alat terlarang. Nama mereka sudah kami ‘blacklist’,” kata Eduart dalam konferensi pers pengumuman hasil SNBT 2026, di Jakarta, Senin (25/5/26).
Nama 38 peserta itu, lanjut Eduart, akan diserahkan ke seluruh PTN agar tidak bisa mengikuti seleksi mandiri maupun jalur penerimaan lainnya. Sanksi tersebut berlaku hingga kapan pun. “Sanksi ini berlaku pada PTN mana pun, hingga kapan pun,” ucapnya.
Selain blacklist, panitia juga mencatat sekitar 1.750 peserta didiskualifikasi sepanjang proses UTBK 2026. Pelanggaran yang ditemukan beragam, mulai dari dugaan kecurangan, penggunaan perangkat ilegal, manipulasi identitas, penggantian foto peserta, hingga ketidaksesuaian dokumen.
“Peserta yang didiskualifikasi tahun ini, masih boleh mendaftar lagi ke PTN tahun depan,” kata Eduart.
Ia menyebut, jumlah pelanggaran tahun ini berhasil ditekan dibanding tahun sebelumnya karena sistem pengawasan kini jauh lebih ketat.
“Sistem kami perketat dengan beragam cara, mulai dari penggunaan teknologi AI, face recognition, metal detector, hingga pengawasan berlapis,” ungkapnya.
Panitia juga mengacak lokasi, jadwal, dan sesi ujian untuk mempersempit ruang gerak sindikat joki. Peserta hanya dapat memilih kota pelaksanaan UTBK, tanpa mengetahui kampus maupun sesi ujian hingga mendekati hari pelaksanaan.
“Strategi tersebut efektif untuk mengganggu pola operasi kelompok perjokian, yang sebelumnya memanfaatkan celah pemilihan lokasi ujian,” ucapnya.
Eduart mengungkap hampir seluruh praktik joki yang terdeteksi tahun ini menyasar program studi kedokteran dan kedokteran gigi. Karena itu, peserta dengan pilihan prodi kedokteran sengaja dijadwalkan mengikuti ujian pada hari pertama dan kedua.
“Data tahun lalu menunjukkan hampir 100 persen praktik joki menyasar kedokteran. Maka, tahun ini peserta kedokteran ditempatkan di hari awal pelaksanaan UTBK,” ujarnya.
Ia menambahkan, sebagian sindikat bahkan memilih membatalkan aksinya setelah panitia mulai mengumumkan temuan kecurangan sejak hari pertama pelaksanaan UTBK.
“Kalau tahun lalu ada kecurangan yang baru diketahui setelah ujian selesai, tahun ini hampir semuanya bisa dideteksi sejak awal,” katanya.
Panitia juga masih mendalami sejumlah laporan terkait peserta yang diduga menggunakan joki, namun telanjur dinyatakan lolos SNBT 2026. Seluruh temuan akan diverifikasi bersama perguruan tinggi terkait sebelum keputusan final diambil.
“Karena ini menyangkut masa depan peserta, maka semua data diverifikasi sangat hati-hati,” kata Eduart menegaskan.
Seluruh data terkait dugaan sindikat perjokian tersebut telah diserahkan kepada aparat penegak hukum untuk diproses lebih lanjut.
Mendiktisaintek Brian Yuliarto memberi apresiasi pelaksanaan UTBK-SNBT 2026 karena dinilai berjalan lebih tertib, akuntabel dan berintegrasi.
Ditambahkan, pendidikan adalah proses menyiapkan masa depan. Karena itu, Kemdiktisaintek tidak akan menoleransi sekecil apa pun bentuk pelanggaran integritas dalam proses seleksi nasional ini.
“Pendidikan tidak boleh dibangun melalui praktik yang melanggar aturan dan nilai kejujuran,” ucapnya.
Ia juga mengaku bangga melihat animo anak bangsa untuk mengikuti SNBT terus meningkat. Hal itu menjadi kabar baik atas upaya pemerintah dalam menyiapkan talenta unggul.
Data SNBT 2026 menunjukkan jumlah pendaftar mencapai 871.496 peserta, meningkat sekitar 10.520 peserta dibanding tahun 2025 yang mencapai 860.976 peserta, dan tahun 2024 sebanyak 785.058 peserta.
Peningkatan terjadi di hampir seluruh jenis sekolah, dengan jumlah pendaftar dari Sekolah Menengah Atas (SMA) mencapai 597.849 peserta, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebanyak 141.330 peserta, dan Madrasah Aliyah (MA) sebanyak 126.505 peserta.
Kemdiktisaintek juga menegaskan komitmennya dalam memperluas akses pendidikan tinggi melalui program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.
Pada jalur SNBT 2026, jumlah peserta dari pendaftar KIP Kuliah mencapai 251.991 peserta, dengan total penerima sebanyak 86.118 peserta atau sekitar 33,59 persen dari total peserta yang diterima.
Penyaluran KIP Kuliah tahun ini mengacu pada arahan Presiden Republik Indonesia melalui Instruksi Presiden terkait penggunaan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), sehingga bantuan pendidikan lebih tepat sasaran dan menyasar kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan. (Tri Wahyuni)
