JAKARTA (Suara Karya) : Berbagai macam cara kegunaan teknologi digital ditengah masyarakat. Bahkan transformasi digital bagi usaha mikro tidak cukup berhenti pada penggunaan media sosial. Pelaku usaha perlu mampu membaca kondisi usahanya melalui data, mengelola keuangan secara disiplin, serta memanfaatkan teknologi untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Gagasan tersebut menjadi dasar pelaksanaan kegiatan “Pemberdayaan Kewirausahaan Digital Berbasis Smartphone sebagai Strategi Penciptaan Lapangan Kerja dan Pertumbuhan Ekonomi” yang diselenggarakan oleh tim Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bersama Depok Kreatif Preneur di Kota Depok.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Reguler Tahun Pendanaan 2026 pada skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) yang diselenggarakan pada tanggal 24-25 Juli 2026. Program memperoleh dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Dukungan tersebut diarahkan untuk memperkuat penerapan hasil riset dan teknologi perguruan tinggi agar memberikan manfaat nyata bagi kelompok masyarakat produktif.
Mitra program adalah Depok Kreatif Preneur, komunitas pelaku usaha yang dipimpin Ade Sri Mulyani dan beranggotakan 33 orang. Anggotanya bergerak pada berbagai jenis usaha, antara lain kuliner, perdagangan, fesyen, kerajinan, serta jasa. Keragaman usaha tersebut menunjukkan besarnya potensi ekonomi komunitas, namun sekaligus memperlihatkan kebutuhan pendampingan yang berbeda-beda, khususnya dalam pencatatan keuangan, pengambilan keputusan usaha, penguatan merek, dan pemasaran digital.
Pengelolaan Keuangan sebagai Fondasi UMKM Naik Kelas
Pelatihan pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Gatot Nazir Ahmad, M.Si. dengan fokus pada urgensi pengelolaan keuangan bagi UMKM. Peserta diajak mengenali persoalan yang kerap terjadi dalam usaha mikro, seperti bercampurnya uang usaha dan uang rumah tangga, transaksi yang tidak tercatat secara konsisten, penetapan harga yang belum berbasis perhitungan biaya, serta kesulitan membedakan omzet, arus kas, dan laba.
Pengelolaan keuangan ditempatkan sebagai fondasi utama bagi UMKM untuk berkembang. Ketika transaksi dicatat dengan baik, pemilik usaha dapat mengetahui sumber pendapatan, struktur biaya, kebutuhan modal kerja, margin, dan kemampuan usaha menghasilkan laba. Informasi tersebut menjadi dasar untuk menetapkan target penjualan, menekan biaya yang tidak produktif, menilai kelayakan ekspansi, serta meningkatkan kesiapan usaha ketika membutuhkan pembiayaan dari lembaga keuangan.
Pembahasan juga menekankan bahwa perubahan lingkungan bisnis menuntut UMKM semakin siap menghadapi administrasi usaha yang berbasis data. Jejak transaksi melalui rekening, QRIS, marketplace, dan kanal digital membuat pelaku usaha perlu memiliki catatan internal yang rapi agar mampu menjelaskan kondisi usahanya secara objektif.
Smartpreneur: Smartphone sebagai Alat Pengelolaan Usaha
Dr. Muhammad Yusuf, M.M. melanjutkan sesi dengan materi Smartpreneur berbasis smartphone. Pendekatan ini diarahkan agar perangkat yang sudah dimiliki pelaku UMKM tidak hanya digunakan untuk komunikasi dan promosi, tetapi juga menjadi alat pencatatan dan pengambilan keputusan usaha.
Peserta diperkenalkan pada smartpreneursyariah.com sebagai media pendampingan digital untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran, memisahkan transaksi usaha dari kebutuhan pribadi, memantau arus kas, serta menyusun informasi keuangan sederhana. Praktik langsung dilakukan agar peserta memahami bahwa pencatatan usaha tidak harus dimulai dengan sistem yang rumit. Kebiasaan mencatat transaksi secara konsisten menjadi pintu masuk bagi terbentuknya pengelolaan usaha yang lebih profesional.
Pemanfaatan smartpreneursyariah.com juga menunjukkan proses hilirisasi teknologi yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan UMKM Indonesia. Penggunaan teknologi berbasis web-mobile memungkinkan peserta mengakses sistem menggunakan smartphone, sehingga hambatan perangkat dan kemampuan teknis dapat ditekan. Model ini mendukung tujuan pemberdayaan, karena pelaku usaha diarahkan menjadi pengguna aktif yang mampu mengelola data usahanya sendiri.
Digital Marketing untuk Memperluas Pasar
Sesi berikutnya disampaikan oleh Said Maulana, S.Tr., CT., CDM. dengan materi digital marketing. Peserta diajak melihat pemasaran digital sebagai proses yang terencana, bukan sekadar aktivitas mengunggah foto produk. Pelaku UMKM perlu memahami siapa target konsumennya, apa keunggulan produknya, bagaimana membangun identitas merek, serta bagaimana mengevaluasi efektivitas konten berdasarkan interaksi dan transaksi yang dihasilkan.
Materi mencakup pemanfaatan media sosial, WhatsApp Business, pembuatan konten, foto produk, penyusunan deskripsi yang lebih menarik, dan penggunaan perangkat digital untuk memperluas jangkauan pasar. Penguatan pemasaran ini menjadi bagian penting dari strategi peningkatan pendapatan karena pencatatan keuangan yang baik perlu diikuti kemampuan menciptakan penjualan yang lebih konsisten.
Rangkaian materi dirancang sebagai satu kesatuan: peserta terlebih dahulu memahami kondisi keuangan usahanya, kemudian belajar mencatat dan membaca data melalui smartphone, lalu memanfaatkan data dan teknologi untuk memperkuat pemasaran. Dengan alur tersebut, digitalisasi tidak diposisikan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas keputusan dan keberlanjutan usaha.
Kolaborasi Perguruan Tinggi, Pemerintah Daerah, dan Komunitas
Dalam pelaksanaannya, kegiatan memperoleh dukungan dari Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (DKUM) Kota Depok. Sambutan pemerintah daerah disampaikan oleh Dina Ratna Kartika, S.H., M.AP., Kepala Bidang Pengembangan Usaha Mikro pada DKUM Kota Depok. Keterlibatan pemerintah daerah memperkuat posisi program sebagai bagian dari kolaborasi untuk meningkatkan kapasitas, kemandirian, dan daya saing usaha mikro.
Dr. Mimi Nur Hajizah, M.Pd. selaku anggota tim pelaksana menegaskan pentingnya pendampingan yang berkelanjutan. Program tidak dirancang berhenti pada satu kali pelatihan, tetapi dilanjutkan dengan proses implementasi, monitoring, evaluasi, dan pendampingan agar perubahan pengetahuan dapat berkembang menjadi praktik usaha yang nyata.
Kegiatan juga melibatkan mahasiswa UNJ dalam analisis kebutuhan, persiapan, dokumentasi, pendampingan peserta, dan penyusunan luaran. Keterlibatan mahasiswa memberikan pengalaman pembelajaran berbasis masalah nyata sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam menjembatani ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat.
Mendorong Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Lokal
Program secara langsung mendukung SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Pemanfaatan inovasi digital dalam program juga memiliki relevansi dengan semangat SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Penerapan teknologi yang mudah diakses diharapkan membantu pelaku usaha memperbaiki produktivitas dan daya saing tanpa menambah kompleksitas operasional yang tidak diperlukan.
Bagi Depok Kreatif Preneur, program menjadi ruang untuk memperkuat komunitas usaha sebagai ekosistem belajar bersama. Anggota tidak hanya menerima materi, tetapi didorong untuk berbagi pengalaman, mengadopsi praktik yang sesuai dengan karakter usahanya, dan membangun kebiasaan menggunakan data dalam pengambilan keputusan.
Ade Sri Mulyani, Ketua Depok Kreatif Preneur, mengapresiasi pelaksanaan program tersebut. “Program ini sangat bermanfaat bagi anggota Depok Kreatif Preneur karena permasalahan pencatatan keuangan dan pemasaran digital memang masih banyak kami hadapi. Pendampingan dari tim UNJ memberikan cara yang praktis dan mudah diterapkan, khususnya melalui pemanfaatan smartphone. Kami berharap kerja sama dan pendampingan ini dapat terus dilanjutkan agar UMKM anggota semakin mandiri dan naik kelas.”
Sebagai tindak lanjut, tim pelaksana melanjutkan pendampingan dan evaluasi untuk melihat perubahan pada praktik pencatatan keuangan, penggunaan teknologi, aktivitas pemasaran digital, serta perkembangan usaha anggota. Hasil monitoring tersebut menjadi bagian penting untuk mengukur peningkatan level keberdayaan mitra secara lebih objektif.
Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Reguler Tahun Pendanaan 2026 ini, UNJ berharap Smartpreneur tidak berhenti sebagai pelatihan, tetapi berkembang menjadi kebiasaan baru bagi UMKM dalam mencatat transaksi, membaca kondisi usaha, mengambil keputusan berbasis data, dan memperluas pasar. Kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan komunitas diharapkan menjadi model pemberdayaan UMKM yang aplikatif, terukur, dan berkelanjutan. (Warso)

