BOGOR (Suara Karya): Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) menegaskan pentingnya penguatan kapasitas kepemimpinan dalam menghadapi dinamika global melalui Executive Training Program 2026 yang berlangsung pada 13–24 April 2026. Program ini menjadi bagian dari upaya strategis dalam memperkuat ketahanan nasional Indonesia di tengah tantangan yang semakin kompleks.
Ketua Umum PYC, Filda C Yusgiantoro, menyampaikan bahwa program ini dirancang untuk merespons berbagai spektrum ancaman modern yang tidak lagi terbatas pada aspek militer semata.

“Program ini menjadi salah satu inisiatif strategis dalam meningkatkan kapasitas kepemimpinan di bidang pertahanan dan keamanan nasional,” ujar Filda dalam keterangannya, Minggu (26/4/2026).
Ia menjelaskan, kolaborasi antara PYC, BPSDM Kementerian Pertahanan, serta S. Rajaratnam School of International Studies di bawah Nanyang Technological University mencerminkan sinergi nasional dan internasional dalam pengembangan kapasitas strategis.
Sebanyak 28 perwira menengah TNI dari tiga matra serta tiga perwakilan Dewan Pertahanan Nasional mengikuti program ini. Para peserta berasal dari jabatan strategis seperti Komandan Distrik Militer hingga Komandan Pangkalan, yang membutuhkan kemampuan analisis dan kepemimpinan yang kuat dalam pengambilan keputusan.

Menurut Filda, materi yang diberikan mencakup geopolitik Indo-Pasifik hingga ancaman keamanan non-tradisional di Asia Tenggara. “Ancaman modern mencakup kejahatan transnasional, perubahan iklim, hingga ketahanan sosial, sehingga membutuhkan pendekatan yang komprehensif,” jelasnya.
Selain itu, isu keamanan siber, terorisme, ekstremisme, serta keamanan maritim juga menjadi fokus pembahasan. Aspek ketahanan energi, ekonomi pembangunan, dan infrastruktur strategis turut ditekankan sebagai pilar penting dalam menjaga stabilitas nasional.
Sebagai bagian dari pembelajaran praktis, peserta melakukan kunjungan ke PLTS Terapung Cirata untuk melihat langsung implementasi pengelolaan energi dalam mendukung ketahanan nasional. Pengalaman ini diharapkan mampu menghubungkan pemahaman konseptual dengan praktik di lapangan.
Di akhir program, peserta menyusun rencana aksi nyata bela negara yang dapat diimplementasikan di lingkungan kerja masing-masing. Filda menegaskan bahwa program ini diarahkan untuk mencetak pemimpin yang adaptif dan berwawasan global.
“Pada akhirnya, kepemimpinan yang kuat harus mampu mengambil keputusan strategis dengan berlandaskan kepentingan nasional,” tegasnya.
Penutupan program dilaksanakan pada 24 April 2026 di Pusat Kompetensi Bela Negara, Rumpin, Bogor, oleh Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Han Kementerian Pertahanan, Ketut Gede Wetan Pastia. Penutupan juga dihadiri oleh Ketua Umum PYC Filda C Yusgiantoro, Sekretaris PYC Amelia Yusgiantoro, Bendahara PYC Febria Oroh dan perwakilan dari S. Rajaratnam School of International Studies Eddie Lim. Ketut Gede Wetan Pastia menyampaikan bahwa di tengah dinamika tantangan bangsa yang semakin kompleks, prinsip cinta tanah air, persatuan dan kesatuan, serta kepentingan negara menjadi landasan untuk menentukan keputusan strategis bangsa. (Boy)
