JAKARTA (Suara Karya): Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta mencatat inflasi ibu kota sebesar 0,15 persen (month to month/mtm) pada Agustus 2026, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 0,21 persen. Secara tahunan, inflasi DKI Jakarta berada di level 2,71 persen (year on year/yoy), menjadi yang terendah di Pulau Jawa dan masih di bawah angka nasional sebesar 3,19 persen.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta Iwan Setiawan mengatakan inflasi pada Agustus berbalik arah setelah bulan sebelumnya mengalami deflasi 0,15 persen.
“Inflasi DKI Jakarta tetap lebih rendah dibandingkan inflasi nasional, baik secara bulanan maupun tahunan,” kata Iwan dalam pernyataan resminya, Kamis (3/9/2026).
Menurut Iwan, tekanan harga terutama berasal dari kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, yang mencatat inflasi 0,81 persen dan menjadi penyumbang terbesar terhadap kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) Jakarta pada Agustus.
Ia menjelaskan, lonjakan harga daging ayam ras dipengaruhi kenaikan biaya pakan ternak dan harga day old chick (DOC), kemudian diperkuat oleh meningkatnya permintaan setelah libur sekolah dan peringatan Hari Kemerdekaan RI. Harga kacang panjang dan buncis juga naik tajam, bahkan menjadi kenaikan bulanan tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Di sisi lain, Iwan menyebut meningkatnya pasokan bawang merah dan tomat dari daerah sentra panen, serta terjaganya pasokan jeruk, membantu menahan tekanan inflasi agar tidak semakin tinggi.
Selain pangan, kelompok Kesehatan mengalami inflasi 0,28 persen akibat kenaikan harga vitamin, obat resep, dan obat flu. Sementara kelompok Pendidikan mencatat inflasi 0,22 persen seiring kenaikan biaya pendidikan pada awal tahun ajaran baru, mulai dari PAUD hingga SMA serta bimbingan belajar.
Sebaliknya, kelompok Transportasi justru mengalami deflasi 0,45 persen. Penurunan tarif angkutan udara setelah penyesuaian fuel surcharge dan turunnya harga avtur, ditambah penurunan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamax Turbo, menjadi faktor utama yang meredam laju inflasi.
BI Waspadai Risiko Global dan Musim Kemarau
Iwan menegaskan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DKI Jakarta akan terus memperkuat strategi 4K yang meliputi keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif untuk menjaga stabilitas harga.
“Ke depan, implementasi strategi 4K akan terus diperkuat untuk memitigasi berbagai risiko inflasi yang bersumber dari faktor global maupun domestik,” ujar Iwan.
Ia mengingatkan, ketidakpastian geopolitik berpotensi memengaruhi harga energi, nilai tukar, dan harga komoditas global, sementara puncak musim kemarau dapat menekan produksi pangan di sejumlah daerah sentra.
“Melalui sinergi yang semakin erat antara TPID Provinsi DKI Jakarta dan seluruh pemangku kepentingan, inflasi DKI Jakarta diharapkan tetap terjaga dalam kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen pada tahun 2026,” tutup Iwan. (Boy)

