JAKARTA (Suara Karya): Sebanyak 30 guru sekolah menengah kejuruan (SMK) akan mengikuti program magang selama 3 bulan di Jerman untuk memperkuat kompetensi, sekaligus menyerap pengalaman langsung dari lingkungan pendidikan vokasi dan industri global.
Pengalaman mengenai teknologi, praktik kerja, hingga budaya industri yang diperoleh selama magang akan dibawa pulang dan diterapkan di sekolah masing-masing.
Dengan demikian, manfaat program diharapkan tidak berhenti pada peserta, tetapi ikut mendorong peningkatan kualitas pembelajaran vokasi di Indonesia.
Program tersebut merupakan kolaborasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dengan menggandeng Technische Universität Dresden (TU Dresden) dan Festo sebagai mitra pendidikan dan industri.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti mengatakan, pengalaman yang diperoleh para guru selama tiga bulan di Jerman harus memberi manfaat lebih luas, setelah mereka kembali ke Indonesia.
Para peserta diharapkan mampu mentransformasikan pengalaman dan keahlian yang diperoleh kepada guru SMK lainnya, sehingga terjadi efek berantai dalam peningkatan mutu pendidikan vokasi.
“Setelah mendapat pengalaman dan keahlian selama tiga bulan, diharapkan ada trickle down effect dengan mentransformasikan pengalaman ke guru-guru SMK yang lainnya,” kata Abdul Mu’ti saat melepas peserta Program Magang Luar Negeri Guru SMK Tahun 2026 di Jakarta, Selasa (1/9/26).
Abdul Mu’ti berharap, proses tersebut dapat meningkatkan mutu pendidikan, seiring dengan pengalaman para guru selama mengikuti program magang di Jerman.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmensus), Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin mengatakan, pengalaman internasional menjadi bagian penting dalam pengembangan kompetensi dan profesionalisme guru SMK.
Pengalaman tersebut juga dapat membuka peluang bagi SMK untuk membangun jejaring dengan industri, termasuk perusahaan-perusahaan Jerman yang beroperasi di Indonesia.
Jejaring tersebut diharapkan berkembang menjadi kerja sama, yang mendukung pembelajaran serta memperkuat kesiapan lulusan SMK menghadapi kebutuhan dunia kerja.
Selama berada di Jerman, para guru akan mendapat pengalaman tentant perkembangan teknologi dan praktik industri, termasuk otomasi dan mekatronika.
“Mereka juga akan mempelajari budaya kerja yang diterapkan dalam lingkungan pendidikan vokasi dan industri,” kata Tatang.
Perwakilan Festo, Safri Susanto mengatakan, peserta akan memperoleh gambaran tentang teknologi yang digunakan dalam manufaktur, khususnya otomasi industri dan mekatronika.
Menurut Safri, kolaborasi Festo dengan pendidikan vokasi Indonesia telah berlangsung sejak 2015. Setelah sempat terhenti akibat pandemi, kerja sama kembali dilanjutkan pada 2026 melalui program magang guru SMK.
Guru Teknik Otomasi Industri SMK Negeri 1 Cilegon, Banten, Lingganu Rahman mengatakan, program tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat pendidikan vokasi Indonesia agar mampu bersaing secara global.
Lingganu secara khusus ingin mendalami perkembangan teknologi kontrol otomasi selama mengikuti program. Sekembalinya ke Indonesia, ia berencana membagi pengetahuan dan praktik baik yang diperolehnya ke rekan-rekan guru.
Saya akan mendiseminasikan praktik-praktik baik yang saya pelajari di sana ke rekan-rekan sejawat, di lingkungan internal maupun eksternal,” tuturnya.
Hal serupa disampaikan Guru SMK Negeri 1 Sanga-Sanga, Kalimantan Timur, Astri Damayanti. Ia berharap pengalaman magang dapat menghasilkan perubahan yang dirasakan langsung oleh siswa, sekolah, maupun daerah.
Astri juga ingin mempelajari bagaimana sekolah membangun hubungan yang lebih erat dengan industri. Karena kemitraan yang kuat antara sekolah dan industri penting agar kompetensi lulusan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. (Tri Wahyuni)

