JAKARTA (Suara Karya); Institut Pariwisata Trisakti (IP Trisakti) kembali memperkuat perannya dalam meningkatkan sumber daya manusia (SDM) Timor Leste, melalui program pelatihan bersama Public Training Center (PTC) Senai Becora.
Pelatihan batch kedua diikuti empat instruktur muda Timor Leste. Mereka dibekali beragam kompetensi, mulai dari administrasi perkantoran modern berbasis digital, procurement (pengadaan barang dan jasa), hingga teknologi informasi dengan kecerdasan artifisial (AI).
Pelatihan berlangsung selama 10 hari dan dirancang sebagai program Training of Trainer (ToT). Dengan pola tersebut, pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti sebatas kapasitas pribadi, tetapi diteruskan ke peserta pelatihan di Timor-Leste.
Wakil Rektor I Bidang Akademik, dan Kemahasiswaan IP Trisakti, Agus Riyadi, SST.Par, MSc, PhD, CHIA mengatakan, program batch kedua ini memiliki cakupan yang berbeda dari pelatihan sebelumnya.
“Jika pelatihan sebelumnya terkait keahlian perhotelan dan pariwisata, pada batch kedua ini mencakup administrasi perkantoran modern secara digital, procurement, teknologi informasi perkantoran hingga AI,” kata Agus Riyadi usai penyerahan sertifikat kepada 4 peserta pelatihan, di Jakarta, Kamis (10/9/26).
Hadir dalam kesempatan yang sama, Wakil Rektor II Bidang Umum dan Keuangan IP Trisakti, Dr Nurbaeti, M.M, Q.R.G.P; Dekan Fakultas Pariwisata, Dr Surya Fajar Budiman, M.Par; Kepala Bagian Program Internasional, Dr Nurti Rahayu, M.Pd; dan segenap pengajar yang terlibat dalam pelatihan tersebut.
Agus Riyadi menjelaskan, peserta pelatihan tak hanya belajar di kampus, tapi juga mendapat pengalaman langsung melalui kunjungan industri dan pemaparan dari praktisi eksternal.
“Pendekatan ini dilakukan, karena kami ingin mempertemukan pengetahuan akademik dengan praktik yang berlangsung di dunia industri, khususnya sektor pariwisata,” ujarnya.
Dalam program tersebut, peserta mengunjungi dua hotel di Jakarta, yakni RA Suite Hotel dan Artotel Gelora Senayan. Selain dosen internal, IP Trisakti juga melibatkan pemateri eksternal untuk memperkaya perspektif peserta pelatihan.
Ditambahkan, program pengembangan kompetensi bersama Senai Bekora bukan kali pertama dilakukan IP Trisakti. Pada batch pertama yang berlangsung April hingga Mei 2026, 4 peserta dari Timor Leste mengikuti pelatihan selama satu bulan.
Fokus pelatihan pada bidang hospitality, seperti Housekeeping, Pastry, dan Food and Beverage Service. Sedangkan batch kedua diarahkan pada kompetensi nonteknis yang menunjang kapasitas instruktur, terutama di bidang administrasi, pengadaan barang dan jasa, pelayanan, serta teknologi digital.
Senai Bekora merupakan pusat pelatihan milik pemerintah Timor Leste yang memiliki bidang pelatihan teknis dan nonteknis. Para peserta yang dikirim ke IP Trisakti merupakan instruktur, yang nantinya diharapkan dapat mengembangkan kembali kompetensi tersebut di negara asal.
Karena itu, program tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga memberi pengalaman tentang bagaimana pengetahuan tersebut diterapkan di lingkungan kerja.
Salah satu peserta, Marcelino Pereira Alessio Da Silva, pengajar bidang teknologi informasi di Timor Leste, mengatakan, pelatihan di IP Trisakti memberinya wawasan baru yang dapat dikembangkan untuk memperkaya materi pembelajaran di Senai Bekora. Salah satu bidang yang menjadi perhatiannya adalah cybersecurity.
Menurut Marcelino, perkembangan teknologi informasi di Timor Leste, masih terus bertumbuh seiring proses pembangunan negara.
Karena itu, peningkatan kompetensi instruktur menjadi penting, agar materi yang diberikan ke peserta didik semakin relevan dengan kebutuhan perkembangan teknologi.
Marcelino menilai pengalaman para pengajar IP Trisakti juga menjadi nilai tambah dalam program tersebut. Pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan, kata dia, akan dibawa kembali untuk dikembangkan dalam proses pembelajaran di Timor Leste.
Senai Bekora sendiri memiliki dua kelompok besar pelatihan, yakni konstruksi dan nonkonstruksi. Bidang konstruksi mencakup antara lain welding, elektronik, dan pembangunan. Sedangkan bidang nonkonstruksi meliputi IT, administrasi, serta kompetensi lainnya.
Untuk pariwisata, Marcelino mengatakan bidang tersebut belum menjadi fokus utama di tempatnya bekerja. Namun, ia melihat peluang pengembangannya cukup terbuka pada masa mendatang.
Pertukaran Pengalaman
Proses pelatihan juga menjadi ruang pertukaran pengalaman antara instruktur Timor Leste dan pengajar IP Trisakti. Dosen IP Trisakti, Dr Amalia Mustika, SE, MM menilai, para peserta memiliki kemampuan yang baik dalam mengikuti materi.
“Diskusi selama pelatihan bahkan berkembang menjadi proses berbagi pengalaman karena peserta telah memiliki pengetahuan dan pengalaman kerja di bidang masing-masing,” kata perempuang yang akrab disapa Inong tersebut.
Sementara itu, pengajar IP Trisakti lainnya, yaitu Ir Anita Swantari, MM, mengatakan, salah satu peserta, Tarcisio Mendonca Tallo, bahkan telah memiliki pemahaman yang kuat mengenai pengadaan barang dan jasa.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi bahan diskusi karena terdapat perbedaan penerapan pengadaan antara institusi tempat peserta bekerja dengan industri hospitality.
Hal senada disampaikan pengajar IP Trisakti, Ariawan Aryapranata, S.Kom, M.Ti. Ia melihat interaksi antara pengajar dan peserta berjalan secara dua arah. Selain menerima materi, peserta juga berbagi pengalaman mengenai praktik kerja dan kondisi di Timor Leste.
Para peserta pun mengapresiasi pengalaman selama mengikuti program. Mereka tidak hanya mendapat materi di ruang kelas, tetapi juga berkesempatan mengenal lingkungan kampus, mengikuti kegiatan di luar kelas, serta membangun hubungan yang lebih dekat dengan para pengajar. (Tri Wahyuni)

