Suara Karya

Andri Paranoan Berikan Kepelatihan Dasar pada 32 Pelatih di KONI Jakarta Utara

JAKARTA (Suara Karya) : Menjadi pelatih dalam dunia olahraga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Upaya menjadikan seseorang sebagai pelatih, Andri Paranoan M. Pd memulai dari tinggkat dasar yang diberikan pada 32 pelatih dari 18 Pengurus Kota Cabang Olahraga naungan KONI Jakarta Utara.

“Penataran pelatih tingkat dasar yang diberikan pada Pelatih di KONI Jakarta Utara itu erat hubungannya dengan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), ” jelas Dosen Olahraga Prestasi Nasional (AKORNAS) Andri Paranoan M. Pd di Jakarta, kemarin.

Melalui ilmu yang diperoleh dalam penataran pelatih dasar selama dua hari, ilmunya dapat diterapkan pada atletnya masing – masing, baik disekolah maupun di klub yang dibinanya.

Adapun materi – materi yang didapat para pelatih selama mengikuti penataran seperti ilmu kepelatihan, baik penggunaan dan meningkatkan VO2Max. Dengan harapan para pelatih dapat memberikan arahan dasar saat atlet akan memulai latihan.

Menurutnya, para atlet harus dipersiapkan secara matang dan berkala, serta tidak bisa diforsir sekaligus. Tata cara melakukan gerak, sangat berpengaruh pada peningkatan stamina dan kelincahan seorang atlet.

Bila VO2 Max nya rendah maka ketahanan fisik dan tenaga seorang atlet itu cepat mengalami penurunan. Seperti halnya di cabang sepakbola, biasanya di babak pertama seorang pemain cukup lincah. Namun memasuki babak kedua tenaganya tidak stabil atau mengalami penurunan bila VO2 Max nya rendah.

Begitu juga atlet dari cabang lain, baik bela diri maupun permainan harus memiliki VO2 Max memadai. Semua itu bisa dimiliki dengan melakukan latihan intensif yang ditunjang arahan yang tepat dari seorang pelatih.

Andri melanjutkan, selain menguasai dan mengetahui kondisi stamina atlet. Seorang pelatih juga harus mempunyai program latihan melalui proposal yang diajukan keinduk organisasinya dalam pelaksanaan latihan.

Menurutnya, para pelatih sangat berperanan dalam mengasah prestasi atlet sesuai dengan jenjang yang dimiliki atau periodenisasinya.

Para pelatih yang belum pernah mengikuti penataran dijenjang dasar harus mengikuti arahan program yang ada. Sementara para pelatih yang sudah pernah ikut penataran tinggal mengulang dan mempertajam ilmu yang sudah dimilikinya.

Dikatakannya, berbagai cara dalam meningkatkan prestasi atlet, baik melalui latihan dasar maupun latihan individu. Karena peluang meraih prestasi juga bertumpu pada diri si atlet dalam menggapainya.

” Kemauan kuat dari seorang atlet dalam meningkatkan prestasi yang dimiliki sangat berperanan. Baru dukungan dari pelatih, sarana dan prasarana yang ada. Bila kedua faktor itu tertanam pada diri atlet, niscaya untuk meraih prestasi puncak terbuka lebar, “tegasnya.

Selain itu seorang pelatih harus mengetahui karakter dan kebiasaan atlet. Dengan begitu, sudah tahu dan memprediksikan sejauh mana prestasi yang dimiliki saat memberikan tempaan pada anak didiknya.

“Peningkatan segi mental dan non teknis yang dimiliki atlet harus diketahui dari awal. Hal ini sama juga artinya dengan mengenal sport intelejen yang harus dimiliki para pelatih, “tegas Andri lagi. (Warso)

Related posts