Bahasa Indonesia Kian Mendunia, Program BIPA Diikuti 50 Negara

0

JAKARTA (Suara Karya): Bahasa Indonesia kini semakin mendunia. Hal itu terlihat dalam Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) yang dikelola Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kemdikbudristek yang kini sudah tersebar hingga 50 negara.

“Upaya internasionalisasi bahasa Indonesia kian membuahkan hasil. Dalam 6 tahun terakhir ada 142.484 pemelajar BIPA di seluruh dunia,” kata Kepala Badan Bahasa, Prof Endang Aminudin Aziz dalam acara bertajuk ‘Dua Tahun Badan Bahasa dalam Angka’, di Serpong, Jumat (1/7/22).

Prof Aminudin menjelaskan, Badan Bahasa telah melakukan beragam kerja sama dengan sejumlah pihak, seperti perguruan tinggi, pemerintah kota dan lembaga untuk penyelenggaraan BIPA. Pada 2021 lalu, jumlahnya mencapai 11 perjanjian kerja sama (PKS).

“Tahun ini jumlah PKS-nya melonjak hingga dua kali lipat untuk periode yang lebih singkat, yaitu Januari-Mei 2022. Jumlahnya mencapai 24 PKS,” tutur pria dengan jabatan terakhir sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI London tersebut.

Dengan demikian, Prof Aminudin menyebut, jumlah lembaga penyelenggara program BIPA sebanyak 428, jumlah penugasan pengajar BIPA untuk luar negeri mencapai 1.270 penugasan, jumlah pengajar BIPA yang ditugasi sebanyak 700 pengajar.

“Data fasilitasi program ke-BIPA-an dari 2015 hingga 2021 sebanyak 142.484 orang pemelajar BIPA yang terdiri atas Amerika-Eropa sebanyak 10.548 orang, Asia Tenggara sebanyak 61.448 orang, dan Asia-Pasifik-Afrika mencapai 70.490 orang ,” ucapnya.

Guna mendukung upaya tersebut, Badan Bahasa akan meluncurkan aplikasi ‘Halo Bahasa’ dengan sejumlah fitur unggulan, pada Agustus 2022. Aplikasi berbasis android itu memudahkan masyarakat dalam mendapat layanan kebahasaan

“Ada beragam fitur yang bisa diakses masyarakat, seperti tes Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI). Tak perlu lagi datang ke lembaga penyelenggara UKBI, tes bisa lewat ponsel pintar dari rumah,” tuturnya.

Jika ada orang yang ingin jadi guru BIPA baik di dalam maupun luar negeri, lanjut Prof Aminudin, bisa akses lewat Halo Bahasa. Syarat maupun pendaftarannya tersedia di aplikasi tersebut.

“Halo Bahasa juga punya ahli-ahli bahasa untuk penerjemahan atau ahli bahasa untuk saksi di pengadilan,” ucapnya.

Fitur lain yang bisa diakses di aplikasi adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang selalu dimutakhirkan dua kali dalam setahun. Data pokok kebahasaan dan kesastraan juga bisa diakses dengan mudah di aplikasi ini.

Ditambahkan, masyarakat juga bisa mengakses Senarai Padanan Asing Indonesia (SPAI) yang berisi padanan istilah, baik istilah asing maupun istilah teknis dari berbagai disiplin ilmu. Misalkan, ilmu dirgantara, ilmu psikologi, informatika, manajemen, dan kuliner.

Menu aplikasi penyuntingan ejaan bahasa Indonesia SIPEBI yang saat ini hanya bisa diaksea melalui komputer akan diintegrasikan ke Halo Bahasa ini sehingga bisa digunakan melalui ponsel.

“SIPEBI mampu melakukan penyuntingan teks berbahasa Indonesia secara otomatis. Sehingga pengguna bisa tahu ejaan dan penulisan yang baik dan benar. Misalkan penulisan kata adzan, yang benar pakai huruf d atau tidak. Contoh lain, yang benar itu resistan atau resisten,” tuturnya.

Prof Aminudin menyebut, melalui Kelompok Kepakaran dan Layanan Profesional (KKLP) Penerjemahan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menghasilkan produk unggulan di bidang penerjemahan, yaitu 5 Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).

Kelima SKKNI itu adalah SKKNI Penerjemah Teks Umum, SKKNI Juru Bahasa Lisan Konferensi, SKKNI Juru Bahasa Lisan Kemasyarakatan, SKKNI Juru Bahasa Isyarat Tuli, dan SKKNI Juru Bahasa Isyarat Dengar.

Tak hanya mengurus internasionalisasi bahasa Indonesia, Badan Bahasa juga melakukan upaya revitalisasi bahasa daerah agar semakin tak punah, karena kehilangan penuturnya.

Sasaran dari program adalah 1.491 komunitas penutur bahasa daerah, 29.370 guru, 17.955 kepala sekolah, 1.175 pengawas, dan 1,5 juta siswa di 15.236 sekolah.

Untuk komunitas penutur, Badan Bahasa akan melibatkan secara intensif keluarga, para maestro, dan pegiat pelindungan bahasa dan sastra dalam penyusunan model pembelajaran bahasa daerah, pengayaan materi bahasa daerah dalam kurikulum, dan perumusan muatan lokal kebahasaan dan kesastraan.

“Kami juga melatih para guru utama serta guru-guru bahasa daerah; mengadopsi prinsip fleksibiltas, inovatif, kreatif, dan menyenangkan yang berpusat kepada siswa; mengadaptasi model pembelajaran sesuai kondisi sekolah masing-masing; serta membangun kreativitas melalui bengkel bahasa dan sastra,” ujarnya.

Pada tahun 2022 ini, jumlah bahasa daerah yang akan menjadi objek revitalisasi sebanyak 38 bahasa daerah yang tersebar di 12 provinsi, yaitu Sumatra Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Maluku, Maluku Utara, dan Papua. (Tri Wahyuni)