JAKARTA (Suara Karya): Bahasa Indonesia terus memperluas kiprahnya di panggung dunia. Sebanyak 542 peserta dari 79 negara ambil bagian dalam Festival Handai Indonesia (FHI) 2026, ajang internasional yang menjadi wadah apresiasi, sekaligus bukti bahasa Indonesia semakin diminati warga dunia.
Dari ratusan peserta tersebut, setelah melalui proses seleksi berjenjang, terpilih 25 finalis dari 21 negara untuk mengikuti babak final di Jakarta. Mereka berasal dari Afghanistan, Australia, Botswana, Filipina, Honduras, India, Jepang, Jerman, Kanada, Korea Selatan, Malaysia, Mesir, Nigeria, Palestina, Republik Dominika, Sudan, Thailand, hingga Uzbekistan.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Hafidz Muksin menjelaskan, FHI merupakan bagian dari Program Internasionalisasi Bahasa Indonesia yang dijalankan Badan Bahasa.
Program tersebut menjadi salah satu bentuk diplomasi bahasa melalui jalur pendidikan yang dinilai efektif dalam memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat dunia.
Demikian dikemukakan Hafidz Muksin dalam laporannya pada acara puncak FHI 2026 di Jakarta, Jumat (21/8/26).
Ditambahkan, FHI diselenggarakan rutin sejak 2020. Tahun ini, kompetisi mempertandingkan lima cabang, yakni bercerita, berpidato, berpantun, berpuisi, dan bernyanyi.
Seleksi dilakukan secara bertahap, mulai dari penyaringan peserta, pengiriman karya secara daring, hingga babak final dan penampilan secara luring di Jakarta.
Hafidz menyebut jumlah peserta tahun ini menunjukkan semakin luasnya ketertarikan masyarakat internasional terhadap bahasa Indonesia. Cakupannya bahkan melampaui jumlah negara yang saat ini menyelenggarakan program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), yang mencapai 62 negara.
“Hal ini menunjukkan, tingkat peminat terhadap bahasa Indonesia semakin besar dan tersebar di seluruh dunia,” katanya.
Selama berada di Indonesia, para finalis tak hanya mengikuti kompetisi. Mereka juga mendapat pengalaman mengenal Indonesia melalui berbagai kegiatan, termasuk kunjungan ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Museum Nasional, dan Monumen Nasional (Monas).
Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono dalam sambutan virtualnya menegaskan, pembelajaran bahasa Indonesia bagi warga asing bukan semata persoalan kemampuan berkomunikasi, tetapi juga menjadi pintu untuk memahami budaya dan cara berpikir masyarakat Indonesia.
“Belajar bahasa Indonesia berarti juga belajar untuk memahami budaya, cara berpikir, dan cara hidup masyarakat Indonesia,” katanya.
Karena itu, menurut Sugiono, para penutur asing bahasa Indonesia layak disebut sebagai handai, istilah yang mencerminkan kedekatan dan persahabatan yang tulus.
Ia berharap FHI terus diperluas sehingga, semakin banyak warga dunia mengenal dan menggunakan bahasa Indonesia. “Bahasa dapat memperkuat hubungan antarnegara melalui komunikasi langsung antarmasyarakat. Inilah tujuan utama diplomasi bahasa,” ujarnya.
Sugiono menilai, semakin banyak warga dunia yang menjadi penutur bahasa Indonesia, semakin kuat pula jembatan persahabatan antara Indonesia dan negara-negara lain.
Bahasa Indonesia di Panggung Dunia
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dalam sambutan penutupnya mengatakan, penguatan bahasa Indonesia di tingkat global telah memasuki babak penting.
Ia mengingatkan, pada 20 November 2023, bahasa Indonesia mendapat pengakuan sebagai bahasa resmi ke-10 dalam Sidang Umum UNESCO.
Kemudian, pada 4 November 2025, untuk pertama kalinya bahasa Indonesia digunakan dalam Sidang Umum UNESCO di Samarkand, Uzbekistan.
“Saya berpidato menggunakan bahasa Indonesia di forum tersebut. Ini adalah momen bersejarah yang menempatkan bahasa Indonesia setara dengan bahasa-bahasa besar dunia lainnya,” kata Abdul Mu’ti.
Menurut dia, capaian tersebut merupakan hasil sinergi berbagai pihak, terutama Kemendikdasmen dan Kementerian Luar Negeri, serta para pemangku kepentingan dan para handai Indonesia di berbagai negara.
Abdul Mu’ti menegaskan, diplomasi tidak selalu harus dilakukan melalui dokumen atau perjanjian antarnegara. Bahasa dan kebudayaan juga dapat menjadi instrumen diplomasi yang efektif.
“Bahasa adalah alat diplomasi yang paling lembut, namun paling kuat,” tegasnya.
Ia menjelaskan, istilah handai dipilih karena hubungan yang dibangun Indonesia dengan para penutur asing bukanlah hubungan transaksional.
Para handai Indonesia diposisikan sebagai sahabat baik Indonesia, yakni warga dunia yang mampu berbahasa Indonesia sekaligus memahami peradaban masyarakat dan kebudayaan Indonesia.
Selain FHI 2026, puncak kegiatan tersebut juga menandai penutupan Kelas Bahasa Indonesia bagi Diplomat Negara Sahabat yang berlangsung sejak 15 September 2025 hingga 31 Mei 2026 secara luring dan daring.
Program tersebut diperuntukkan anggota korps diplomatik negara sahabat serta perwakilan organisasi internasional yang bertugas di Jakarta.
Kelas dibagi menjadi 2 program, yakni 50 jam pembelajaran dan 100 jam pembelajaran. Sebanyak 181 peserta dari 67 perwakilan negara sahabat dan organisasi internasional mengikuti program tersebut.
Dari jumlah itu, 63 peserta menuntaskan program 50 jam, sedangkan 42 peserta menyelesaikan program 100 jam pembelajaran.
Abdul Mu’ti menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Luar Negeri atas dukungan dan kolaborasi dalam penyelenggaraan program tersebut.
“Penguatan kedaulatan bahasa Indonesia dalam konteks nasional dan global melalui diplomasi kebahasaan pada jalur pendidikan akan meraih hasil yang lebih bermutu dengan semangat partisipasi semesta,” katanya.
Ia menilai kerja sama Kemendikdasmen dan Kementerian Luar Negeri menjadi contoh nyata bagaimana bahasa dapat menjadi instrumen diplomasi untuk memperkuat hubungan Indonesia dengan masyarakat internasional. (Tri Wahyuni)

