JAKARTA (Suara Karya): Guna mencegah terjadinya kasus salah jurusan di perguruan tinggi, Sekolah Pribadi School Depok memiliki cara unik, dimana setiap anak sejak kelas 10 diajak membuat ‘career planning’ (CP).
“CP ini penting agar anak fokus dan tidak bingung saat memilih jurusan di perguruan tinggi. CP juga berguna untuk karir di masa depan,” kata Kepala Sekolah (Kepsek) SMA Pribadi, Depok, Bibit Wiyana di sekolah yang berlokasi di Jalan Margonda, Depok, Senin (27/5/24).
Hadir dalam kesempatan yang sama, Kepsek SMP Pribadi Depok, yang juga Koordinator Pendidikan SMP-SMA Pribadi Depok, Maman Firmansyah; Kepsek SD Pribadi Depok, Mikawati; Kepsek Pribadi Premiere GDC, Depok, Husen Abdillah; dan General Manager Sekolah Pribadi Depok dan Pribadi Premiere GDC, Fatih Pasaoglu.
Bibit menjelaskan, sekolah melakukan serangkaian tes untuk melihat potensi dan bakat anak. Data itu kemudian digunakan sebagai pijakan dalam membuat CP agar hasilnya optimal.
“Dalam diskusi dengan orangtua dibahas soal bakat, potensi dan sederet pilihan karir yang akan berkembang di masa depan. Anak suka, orangtua mendukung,” tuturnya.
Jika anak memiliki pilihan karir berbeda dari potensi dan bakatnya, Bibit mengatakan, hal itu bisa terjadi. Karena itu, CP dibuat di awal kelas 10, sehingga siswa memiliki satu tahun untuk memantabkan pilihan karirnya.
“Dalam satu tahun itu, anak diberi pilihan pembelajaran dan keahlian yang diinginkan. Jika dirasakan tidak sesuai, siswa boleh mengubah CP-nya,” ucapnya.
Pembuatan CP, menurut Bibit, sekaligus mengajarkan siswa untuk bertanggung jawab atas pilihannya tersebut, yang ditunjukkan lewat semangat belajar, fokus, tekun dan tak kenal lelah.
“CP ini tak melulu soal profesi yang hebat, seperti menjadi dokter, insinyur atau ahli IT. Tetapi bagaimana karirnya itu bisa membuatnya bahagia, bermanfaat bagi orang lain, dan tentu saja memberi kesejahteraan,” katanya.
Dalam pembuatan CP, siswa didampingi seorang ‘college counselor’ yang akan mengarahkan kursus tambahan apa yang harus diambil siswa.
“Ada siswa yang ingin jadi polisi. Kami arahkan dia untuk ambil kursus menembak. Berkat dukungan orangtua, ia berhasil meraih medali Piala Kapolri dalam dua tahun terakhir ini,” katanya.
Begitupun dengan para siswa yang berbakat di bidang olahraga, musik atau komunikasi. Semua diarahkan untuk meningkatkan kemampuannya, meski tidak pintar secara akademik.
“Semua prestasi siswa baik akademik maupun non-akademik terlihat dalam portofolio siswa. Termasuk kursus-kursus yang diambil untuk pengembangan diri dan kegiatan sosial yang diikuti siswa untuk pengabdian masyarakat,” tutur Bibit.
Soal portofolio, Kepsek SMP Pribadi Depok, Maman Firmansyah menambahkan, hal itu diperkenalkan ke siswa sejak kelas awal. Lewat kegiatan sosial, anak diajarkan untuk terbiasa berbagi dan bersikap santun di masyarakat.
“Hidup ini kan harus seimbang. Selain berprestasi, anak harus memahami apa yang ada di masyarakat. Membantu sesama dan bersikap santun merupakan karakter yang harus dibangun sejak dini,” katanya.
Hal itu dibenarkan Kepsek SD Pribadi Depok, Mikawati. Sejak dini anak diajarkan keahlian dasar atau life skill sebagai kebiasaan sehari-hari.
“Meski di rumah ada asisten rumah tangga, siswa kami diajarkan bagaimana menyapu, melipat pakaian, memasang sprei atau mencuci piring. Keahlian dasar ini penting, agar mereka mandiri yang akan berguna saat dewasa. Anak-anak terlihat senang melakukan hal itu,” tuturnya.
Sebagai sekolah SPK (Satuan Pendidikan Kerja Sama), Sekolah Pribadi menerapkan kurikulum nasional dan kurikulum Cambridge khusus untuk mata pelajaran STEM Science, Technology, Engineering, and Mathematics.
Kurikulum Cambridge tersebut hanya untuk jenjang SD dan SMP. Sedangkan jenjang SMA, sepenuhnya menggunakan kurikulum nasional untuk persiapan siswa masuk jenjang kuliah.
Ditanya persentase lulusan SMA Pribadi masuk ke perguruan tinggi ternama di Indonesia, Bibit Wiyana menyebut sekitar 50 persen.
“Sisanya memilih kuliah di luar negeri, atau non perguruan tinggi untuk mengejar karir impiannya,” kata Bibit seraya menyebut SMA Pribadi telah berdiri cukup lama di Indonesia, sejak 29 tahun lalu. (Tri Wahyuni)
