JAKARTA (Suara Karya): DKI Jakarta mencatat inflasi sebesar 0,41 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada Juni 2026. Meski meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,12 persen, laju inflasi ibu kota masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 0,44 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan, mengatakan secara tahunan inflasi DKI Jakarta juga tetap terkendali di level 2,78 persen (year on year/yoy). Angka tersebut menjadi yang terendah di antara seluruh provinsi di Pulau Jawa sekaligus berada di bawah inflasi nasional yang sebesar 3,34 persen.
Menurut Iwan, kenaikan inflasi pada Juni terutama dipicu oleh kelompok transportasi. Penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada 10 Juni 2026 serta meningkatnya tarif angkutan udara selama periode libur sekolah menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga.
“Di sisi lain, penurunan harga daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai rawit mampu menahan tekanan inflasi sehingga laju inflasi Jakarta tetap terkendali,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kelompok transportasi mencatat inflasi sebesar 2,54 persen (mtm), naik dari 0,55 persen pada bulan sebelumnya. Komoditas bensin memberikan andil inflasi sebesar 0,29 persen setelah penyesuaian harga BBM nonsubsidi, sementara tingginya permintaan perjalanan selama musim liburan mendorong kenaikan tarif angkutan udara.
Selain itu, imported inflation akibat pelemahan nilai tukar turut meningkatkan harga sejumlah barang impor, seperti suku cadang kendaraan dan komponen elektronik. Dampaknya, harga telepon seluler mengalami inflasi sebesar 4,01 persen (mtm), tertinggi dalam empat tahun terakhir, sehingga kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan mencatat inflasi sebesar 0,53 persen.
Sementara itu, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau mengalami deflasi. Penurunan harga daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, pepaya, dan ikan kembung terjadi seiring pasokan yang memadai dari daerah sentra produksi serta normalisasi permintaan setelah Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Namun, penurunan tersebut sebagian tertahan oleh kenaikan harga wortel dan cabai merah akibat cuaca panas yang mengganggu produktivitas.
Untuk menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat implementasi strategi 4K, yaitu Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif. Upaya tersebut dilakukan melalui pasar murah, Program Pangan Bersubsidi, penyaluran bantuan pangan, pengembangan urban farming, penguatan distribusi pangan, serta peningkatan koordinasi antarinstansi.
Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan risiko inflasi masih berasal dari ketidakpastian geopolitik global yang dapat memengaruhi harga energi dan nilai tukar, serta potensi El Niño yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Juli–Agustus 2026. Meski demikian, Iwan optimistis inflasi DKI Jakarta dapat tetap dijaga dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5±1 persen melalui sinergi yang erat antara TPID dan seluruh pemangku kepentingan. (Boy)
