JAKARTA (Suara Karya): Universitas Pertamina (UPER) menggelar workshop bagi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Guru Kimia Se-DKI Jakarta. Kegiatan itu diharapkan mengubah persepsi ilmu kimia di kalangan siswa dari sulit menjadi menyenangkan.
“Kami ingin bantu guru kimia di Jakarta untuk meningkatkan kompetensi mengajarnya, agar ilmu kimia yang diajarkan lebih menyenangkan bagi siswa,” kata Ketua Program Studi Kimia UPER, Dr Nila T Berghuis di Jakarta, Kamis (1/2/24).
Nila menjelaskan, ilmu kimia penting karena memiliki kontribusi yang besar dalam kemaslahatan umat, lewat penciptaan beragam produk inovatif. Ilmu tersebut juga memiliki prospek cemerlang untuk pengembangan karir seseorang di masa depan.
“Ilmu kimia kurang diminati, karena ilmu tersebut berada di bawah bayang-bayang popularitas disiplin ilmu lainnya. Padahal kontribusi ilmu kimia untuk kemaslahatan manusia tidak sedikit,” ucap Nila menegaskan.
Ia mencontohkan peran ilmu kimia dalam pengembangan vaksin dan obat untuk penanganan covid-19. Ilmu kimia juga mampu mendeteksi virus SARS-CoV-2 dan pengembangan produk seperti desinfektan serta sanitizer, yang efektif dalam membunuh virus SAR-CoV-2.
Kurang populernya ilmu kimia, menurut Nila, disebabkan persepsi di kalangan siswa jika ilmu tersebut sulit dipelajari. Selaras dengan penelitian Priliyanti pada 2021, yang menyebut 48 persen siswa SMA menganggap ilmu kimia tergolong cukup sulit.
Faktor eksternal ditengarai banyak dipengaruhi metode mengajar guru, pengaruh negatif teman sebaya, serta keadaan dan waktu pembelajaran yang kurang kondusif.
Melihat kendala itu, UPER mengambil inisiatif dengan menggelar workshop untuk guru kimia se-DKI Jakarta. Workshop tersebut tak hanya pembelajaran, tetapi juga implementasi ilmu dalam pembuatan berbagai proyek kimia.
Pelatihan yang diikuti sekitar 100 guru kimia itu fokus pada proyek keberlanjutan, seperti pembuatan solar panel sederhana dan pembuatan tisu dari limbah tanaman jagung.
“Partisipasi merupakan langkah awal dalam pembelajaran kimia yang inovatif dan berkelanjutan,” tutur Nila.
Pada workshop pembuatan tisu dari limbah tanaman jagung, tim Prodi Kimia UPER menyiapkan sampah kulit jagung, ekstrak kulit manggis dan larutan kitosan. Sampah kulit jagung yang telah dihaluskan seperti bubur dicampur dengan ekstrak kulit manggis dan larutan kitosan.
“Adonan tersebut kemudian dikeringkan selama 12 jam untuk berubah wujud menjadi tisu,” katanya.
Untuk pelatihan pembuatan solar panel sederhana, tim Prodi Kimia UPER menggunakan Dye Sensitized Solar Cell (DSSC), yaitu alat penyerap cahaya dan pemisah muatan listrik melalui molekul pewarna.
Dalam kegiatan itu pewarna yang digunakan merupakan pasta blueberry dan pasta buah naga. Hasilnya, pasta blueberry mampu membantu menyerap cahaya dan menghasilkan listrik lebih banyak.
Workshop yang digelar di Laboratorium Kimia Integrasi dan Kimia Dasar UPER berhasil menarik antusiasme peserta. Workshop juga membagikan pengetahuan mengenai prospek karir di bidang kimia, pentingnya ilmu kimia di berbagai bidang seperti kesehatan, industri, lingkungan, teknologi, hingga kehidupan sehari-hari.
“Ilmu kimia dalam kehidupan sehari-hari bisa dilihat dari produk yang ada di sekitar kita, seperti kosmetik, deterjen, dan berbagai bahan konstruksi lainnya,” ucap Dr Nila.
Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan UPER, Prof Rudy Sayoga Gautama Benggolo menyampaikan, Program Studi Kimia UPER menyusun kurikulum yang bersinergi dengan kebutuhan riil masyarakat dan industri.
“Meski kental dengan orientasi ilmu ke ranah sains, ilmu kimia mampu menjawab kebutuhan riil industri. Karena itu, kurikulum Program Studi Kimia UPER disusun untuk mencapai pembangunan berkelanjutan,” kata Prof Rudy.
Ditambahkan, Indonesia memiliki aumber daya unggul dalam bidang bioteknologi, kimia migas, kimia medisinal, dan teranyar kehadiran mata kuliah kimia kosmetik. Setiap pembelajaran didukung dosen ahli dan praktisi dari masing-masing bidang kimia.
“Itulah alasan kenapa Prodi Kimia UPER lebih unggul dalam menjawab berbagai tantangan dan permasalahan di sosial dan industri,” kata Prof Rudy menandaskan. (Tri Wahyuni)
