Suara Karya

Gelar Edukasi Cegah Bullying, UNJ Ajak Ortu Desa Sukaharja Bijak Asuh Anak di Era Digital

BOGOR (Suara Karya): Program Studi Pendidikan Masyarakat Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk ‘Edukasi Gaya Pengasuhan dan Paparan Media Sosial untuk Mencegah Perilaku Bullying Remaja pada Ibu-Ibu di Desa Sukaharja Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor’.

Kegiatan itu menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan keluarga di era digital, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan bullying pada remaja.

Kegiatan diikuti 25 peserta yang terdiri atas ibu rumah tangga dan kader masyarakat desa. Hadir pula Koordinator Program Studi Pendidikan Masyarakat, dosen Pendidikan Masyarakat UNJ, serta Kepala Desa Sukaharja, Atikah.

Tim Pengabdian masyarakat yang dipimpin Dr Puji Hadiyanti, hadir bersama anggotanya Intan Purnama Dewi, MPd; Drs Sri Kuswantono, MSi; Dr Adi Irvansyah, MPd; dan Fitri Khoiriyah Parinduri, MKM.

Selain melibatkan dosen, kegiatan juga melibatkan mahasiswa sebagai bagian dari implementasi pembelajaran di perguruan tinggi.
Pelibatan mahasiswa diharapkan memberi dampak ganda. Tak hanya mengimplementasikan teori, tetapi juga memberi manfaat langsung bagi masyarakat Desa Sukaharja.

Rangkaian kegiatan pengabdian dilaksanakan melalui 3 sesi utama. Sesi pertama berupa observasi lapangan yang dilakukan sejak 30 April 2026. Tujuannya, pemetaan kondisi sosial masyarakat dan tantangan pengasuhan yang dihadapi keluarga Desa Sukaharja.

“Melalui observasi ini, tim pengabdian mendapat gambaran mengenai tingginya penggunaan media sosial pada remaja, serta perlunya penguatan komunikasi antara orang tua dan anak,” ujarnya.

Sesi kedua berupa pemberian materi edukasi pada 18 Mei 2026. Dalam sesi itu, peserta mendapat berbagai materi terkait pola pengasuhan, komunikasi empatik dalam keluarga, pengawasan penggunaan media sosial, hingga pencegahan cyberbullying pada remaja.

Tim pengabdian menjelaskan, masa remaja merupakan fase pencarian jati diri yang sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan sosial maupun digital. Remaja yang tidak mendapat dukungan emosional dan komunikasi yang sehat dari keluarga cenderung lebih mudah terlibat dalam perilaku bullying.

Para peserta juga diberi pemahaman mengenai pola pengasuhan otoritatif yang menekankan keseimbangan antara kasih sayang dan ketegasan. Pendekatan itu dinilai efektif dalam membentuk karakter anak yang mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki empati sosial.

Selain itu, materi mengenai dampak penggunaan media sosial dan gawai menjadi perhatian utama peserta. Tim pengabdian mengingatkan, penggunaan media sosial yang tidak terkontrol dapat memengaruhi kondisi emosional anak, menurunkan konsentrasi belajar, hingga memicu cyberbullying.

Setelah sesi pemberian materi, kegiatan berlanjut ke sesi ketiga, berupa pendampingan kepada ibu-ibu di Desa Sukaharja untuk melihat dampak implementasi materi yang telah diberikan.

Pendampingan dilakukan melalui pembentukan kelompok sosial ibu-ibu berbasis WhatsApp sebagai media komunikasi, diskusi, dan saling berbagi pengalaman dalam mendampingi anak di rumah.

Melalui kelompok ini, para peserta dapat berkonsultasi, berbagi solusi, serta memperkuat jejaring dukungan antarorang tua dalam menghadapi persoalan pengasuhan dan perilaku remaja di era digital.

Tim pengabdian berharap kegiatan tidak berhenti pada pemberian materi semata, tetapi mampu membangun gerakan bersama di masyarakat untuk menciptakan lingkungan keluarga yang lebih sehat, aman, dan bebas bullying.

‘Desa Sukaharja Bebas Bullying Dimulai dari Rumah Saya’ menjadi semangat yang diusung dalam kegiatan, sebagai bentuk komitmen bersama antara perguruan tinggi, pemerintah desa, mahasiswa, dan masyarakat dalam melindungi tumbuh kembang anak dan remaja. (Tri Wahyuni)

Related posts