JAKARTA (Suara Karya): Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menegaskan perannya sebagai kampus berdampak, yang tak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
Komitmen itu ditegaskan Wakil Rektor I UNJ, Ifan Iskandar dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema ‘Diseminasi Pengabdian kepada Masyarakat Program EQUITY LPDP’, di Aula Bung Hatta Kampus Rawamangun, Kamis (23/4/26).
Ifan menambahkan, penguatan riset dan pengabdian kini diarahkan tak hanya pada output akademik, tetapi juga pada skala dampak yang dirasakan publik.
“Kami dorong Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) dan unit terkait untuk terus memetakan dan mengukur kontribusi nyata kampus di berbagai sektor kehidupan,” kata Ifan menandaskan.
Hal senada disampaikan Ketua LPPM UNJ, Iwan Sugihartono. Ia menegaskan, pengabdian kepada masyarakat merupakan instrumen transformasi sosial, bukan sekadar hilirisasi riset.
“Pengabdian adalah implementasi pengetahuan yang diharapkan mampu menyelesaikan persoalan sosial dan membantu para pemangku kepentingan,” jelasnya.
Ia menambahkan, ke depan UNJ akan fokus pengabdian pada tiga pilar utama, yakni pemberdayaan masyarakat, kewilayahan, dan kewirausahaan, dengan dukungan integrasi riset yang lebih kuat serta kemitraan strategis yang diperluas.
Sementara itu, Direktur Inovasi, Sistem Informasi dan Pemeringkatan (InSIP) UNJ, RA Murti Kusuma memaparkan, capaian signifikan UNJ sebagai salah satu dari 23 perguruan tinggi penerima pendanaan program EQUITY dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Menurutnya, diseminasi itu penting untuk menunjukkan visibilitas dan dampak nyata UNJ. Dalam satu tahun terakhir, performa global UNJ meningkat tajam, ditandai lonjakan peringkat Webometrics dari 3.858 menjadi 2.145.
UNJ juga mencatat posisi dalam berbagai pemeringkatan internasional, seperti QS World University Rankings dan Times Higher Education, serta menempati peringkat 767 dunia pada UI GreenMetric.
“UNJ meraih peringkat ke-5 nasional dalam ajang Indonesia SDGs Action Award 2025, setelah membangun SDGs Center sebagai bagian dari program EQUITY,” tuturnya.
Dari sisi internasionalisasi, mobilitas sivitas akademika meningkat signifikan. Mahasiswa asing (inbound) naik dari 110 menjadi 400 orang, mahasiswa outbound dari 107 menjadi 230 orang, serta jumlah profesor tamu melonjak dari 2 menjadi 15 orang.
Dukungan terhadap kiprah UNJ juga datang dari para mitra. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Depok, Dadang Wihana. Ia terkesan dengan transformasi UNJ yang kini semakin adaptif dan kolaboratif.
“Kami undang UNJ untuk hadir di Kota Depok, berharap bisa dijadikan sebagai living lab bagi riset dan pengabdian,” ujarnya.
Dadang juga mendorong UNJ memperluas kontribusi pada isu-isu strategis seperti kesetaraan gender, kependudukan, hingga pemanfaatan bonus demografi.
Apresiasi lain disampaikan Purna Bakti Kepala UPRS VII, Ageng Darmintono. Ia menilai program pengabdian UNJ benar-benar memberi dampak nyata, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
“Ada 3 prinsip yang saya lihat dari UNJ: berdata, berdaya, dan berdampak. Ini nyata dirasakan warga, bahkan mampu meningkatkan martabat dan ekonomi mereka,” katanya.
Menurut Ageng, keberhasilan program di Rusunawa Jatinegara Kaum layak direplikasi ke wilayah lain, termasuk Bekasi. Ia bahkan mengundang UNJ untuk mengembangkan program seperti sekolah lansia di Jatiasih.
Rangkaian apresiasi dan undangan kolaborasi itu sekali menegaskan posisi UNJ sebagai mitra strategis pembangunan berbasis ilmu pengetahuan.
Melalui program EQUITY LPDP, UNJ tak hanya memperkuat reputasi global, tetapi juga memastikan kehadirannya benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas. (Tri Wahyuni)
