JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pertanian RI bersama International Fund for Agricultural Development [IFAD] berupaya memgembangkan wirausahawan milenial tangguh dan berkualitas melalui Program Youth Enterpreneurship And Employment Support Services [YESS]
Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman senantiasa mengingatkan bahwa pertanian merupakan sektor yang akan selalu menjadi andalan bagi perekonomian Indonesia.
“Tentunya perlu dukungan dari SDM pertanian usia produktif,” katanya.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi menguraikan tentang kunci utama pelaksanaan Program YESS Kementan.
“Pertama, hadir untuk meningkatkan kapasitas pemuda di pedesaan melalui pendidikan dan pelatihan untuk menjadi agen pembangunan pertanian,” katanya.
Kedua, kata Dedi Nursyamsi, sasarannya adalah pemuda yang harus memiliki jiwa kewirausahaan pertanian dari hulu hingga hilir.
Setelah pelaksanaan District Multi Stakeholder Forum [DMSF] pada tiga kabupaten di Kalimantan Selatan [Kalsel], kali ini Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan Negeri [SMK-PPN] Banjarbaru selaku Provincial Project Implementation Unit [PPIU] Kalsel menggelar DMSF di Kabupaten Hulu Sungai Selatan [HSS] Kalsel.
Kegiatan DMSF berlangsung Kamis [13/06] di Gedung Pramuka, Kandangan, HSS. Hadir PPIU Kalsel, Kepala Bappeda Litbang HSS, M Arliyan Syahrial; SKPD terkait, financial advisor, supporting staff DIT, mobilizer, fasilitator, offtaker, Penerima Manfaat Bantuan Agribisnis (HK), Organisasi Masyarakat Kadin, Hipmi, Iwapi, KNPI dan KTNA serta pihak perbankan.
Project Manager PPIU Kalsel, Angga Tri Aditia Permana memaparkan tentang capaian, evaluasi dan strategi keberlanjutan Program YESS di HSS juga tentang program magang bagi calon penerima manfaat.
“Forum DMSF menjadi sarana penting merumuskan kebijakan dan kontribusi dari berbagai SKPD, offtaker, perbankan dan Ormas untuk meningkatkan kesejahteraan petani,” katanya.
Angga Tri menambahkan, termasuk dukungan terhadap agrowisata dan suku adat yang turut diundang melalui dewan adat dan duta wisata.
Kepala SMK-PP Negeri Banjarbaru, Budi Santoso, menekankan bahwa DMSF merupakan pertemuan rutin dua kali setahun untuk berdiskusi dan menyampaikan usulan terkait Program YESS.
“2024 merupakan tahun terakhir pelaksanaan Program YESS, sehingga diskusi dalam forum ini sangat penting untuk perbaikan ke depan,” katanya.
Masalah kekurangan pangan akibat El Nino, ungkap Budi Santoso, dan pentingnya pemanfaatan lahan melalui Program Optimasi Lahan Rawa atau Opla, pompanisasi dan tumpang sisip atau Tusip padi dengan perkebunan.
“Program ini diharapkan dapat meningkatkan indeks pertanaman, satu kali menjadi dua kali setahun didukung Alsintan dan pompa,” katanya.
Selain itu, PPIU Kalsel sedang merekrut penerima manfaat untuk bergabung dalam Inkubator Bisnis SMKPP Negeri Banjarbaru dengan bantuan usaha hingga Rp 65 juta.
Kepala Bappedalitbang HSS, M Arliyan Syahrial membahas kesiapan pihaknya bagi keberlanjutan Program YESS melalui replikasi di SKPD.
“Kami siapkan alokasi dana untuj dinas pertanian dan dinas lain untuk pelatihan bagi petani milenial yang diintervensi YESS dengan data lengkap agar program berlanjut dan tepat sasaran,” katanya.
Kegiatan tersebut menghadirkan kesepakatan bersama SKPD yang akan diterbitkan dalam bentuk surat keputusan [SK] dari Bupati HSS.
Sebelumnya, PPIU Kalsel menggelar DMSF di tiga kabupaten yakni Kabupaten Banjar, Tanah Laut dan Tanah Bumbu. (Boy)
