Suara Karya

Percepat Penambahan Dokter Spesialis, Kemdiktisaintek Gandeng RS Swasta

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menggelar pertemuan dengan sejumlah pengelola rumah sakit swasta untuk membahas langkah strategis percepatan penambahan jumlah dokter spesialis di Indonesia.

“Pertemuan ini diharapkan dapat dirumuskan strategi yang efektif untuk meningkatkan ketersediaan tenaga medis spesialis di Indonesia,” kata Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, di Jakarta, Kamis (11/9/25).

Brian menjelaskan, keterlibatan rumah sakit swasta dalam program ini karena pihaknya membutuhkan banyak rumah sakit sebagai ‘laboratorium’.

Ketua Tim Kajian Kebijakan Pendidikan Tinggi Tenaga Medis, Tri Hanggono Achmad menjelaskan, proses pendidikan dokter spesialis selama ini lebih banyak dilakukan di rumah sakit pemerintah.

“Padahal, Indonesia memiliki banyak rumah sakit swasta yang tersebar luas di seluruh negeri. Mereka pun butuh tenaga medis spesialis. Karena itu, kolaborasi dengan rumah sakit swasta akan menjadi kunci keberhasilan program ini,” ujar Tri Hanggono Achmad.

Tri menyoroti salah satu tantangan terbesar dalam pendidikan spesialis adalah masalah pembiayaan. Masalah tersebut akan disiasati lewat program beasiswa.

“Selain masalah dana, kita juga perlu banyak rumah sakit sebagai laboratorium. Kendala ini akan diatasi lewat kerja sama dengan rumah sakit swasta,” ucapnya.

Diharapkan, sistem tersebut dapat menjadi jaminan bagi rumah sakit swasta, yang selama ini kesulitan untuk mendapatkan tenaga dokter spesialis. “Selain mendorong akses lewat beasiswa, rumah sakit juga mendapat keuntungan berupa tenaga kerja medis spesialis,” ujarnya.

Tri juga menegaskan, tenaga medis spesialis akan menerima imbalan atas pelayanan yang diberikan, dalam bentuk insentif atau upah yang menjadi kewenangan rumah sakit.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua II Pimpinan Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU) Muhammadiyah, Syafak Hanung menyatakan dukungannya atas program itu.

“Saat ini kita punya 128 rumah sakit yang tentunya bisa dijadikan lahan untuk pendidikan spesialis,” ucap Syafak.

Sementara itu, Direktur Utama Rumah Sakit Hermina, Hasmoro menuturkan, RS Hermina memiliki visi sebagai rumah sakit yang tidak hanya berfokus pada pelayanan kesehatan, tetapi juga pendidikan dan riset.

“Hermina punya 51 rumah sakit dan ada satu rumah sakit pendidikan.  Selain itu, ada 9 rumah sakit sudah memiliki 300 tempat tidur. Jadi layak dijadikan tempat pendidikan,” jelas Hasmoro.

Sejalan dengan ini, Perwakilan Siloam juga mendukung program percepatan penambahan jumlah dokter spesialis. “Siloam memiliki 41 rumah sakit dari Medan hingga Ambon. Kerja sama telah dilakukan dengan beberapa Universitas, seperti UI, UNPAD, UNHAS,” kata Medical Managing Director, Siloam Hospital Group, Grace Frelita. (Tri Wahyuni)

Related posts