Suara Karya

Pontjo Sutowo Titip Pesan Kebangsaan kepada Suyudi, Persatuan Harus Terus Dirawat

Screenshot

JAKARTA (Suara Karya): Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo menyambut terpilihnya Komjen Pol. Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri. Ia berharap pengalaman panjang Suyudi di kepolisian, termasuk saat memimpin Badan Narkotika Nasional (BNN), menjadi bekal untuk menghadapi tantangan keamanan sekaligus menjaga spirit kebangsaan.

Menurut Pontjo, kepercayaan kepada Suyudi memiliki dasar yang kuat. Selain memiliki rekam jejak panjang di kepolisian, Suyudi sebelumnya memimpin BNN yang menghadapi persoalan narkotika dengan karakter ancaman yang kompleks.

“Terpilihnya Komjen Pol. Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri merupakan pilihan yang patut diapresiasi. Saya menilai, kepercayaan yang diberikan kepadanya memiliki dasar yang kuat,” ujar Pontjo dalam keterangannya, Jumat (2/10/2026).

Pontjo menyoroti pengalaman Suyudi selama memimpin BNN. Di bawah kepemimpinannya, BNN menjalankan pemberantasan narkotika melalui penindakan, pencegahan hingga rehabilitasi.

Dalam laporan kinerja 2025, BNN mencatat pengungkapan 773 kasus tindak pidana narkotika dengan 1.214 tersangka. Barang bukti yang disita antara lain 4,01 ton sabu, 2,19 ton ganja, dan 1,2 ton ketamin.

Di sisi pencegahan dan pemulihan, BNN juga membentuk 214 Desa/Kelurahan Bersinar, melibatkan 1.910 remaja sebagai teman sebaya antinarkotika, serta memberikan layanan rehabilitasi kepada 14.527 orang.

Pontjo menilai data tersebut menunjukkan besarnya tantangan yang dihadapi Suyudi ketika memimpin BNN. Menurut dia, pemberantasan narkotika tidak hanya membutuhkan ketegasan dalam penindakan, tetapi juga kerja sama dengan berbagai elemen masyarakat.

Ia menyebut Suyudi memiliki pengalaman menjalin hubungan dengan berbagai kalangan, termasuk tokoh agama, tokoh masyarakat, dan unsur masyarakat lainnya.

Namun, setelah dipercaya memimpin Polri, Pontjo berharap perhatian Suyudi tidak berhenti pada persoalan keamanan dan penegakan hukum. Ia secara khusus menitipkan agenda menjaga dan memelihara spirit kebangsaan.

“Persatuan dan kesatuan bukan sesuatu yang dapat dianggap selesai. Ia harus terus dirawat, terutama ketika perbedaan kepentingan, ketegangan sosial, dan arus informasi yang mudah memecah belah dapat memperbesar kerentanan bangsa,” katanya.

Pontjo mengingatkan potensi ancaman terhadap persatuan tetap perlu menjadi perhatian. Karena itu, ia meminta para elite, pemimpin lembaga, dan seluruh pemangku kepentingan menjaga komunikasi serta menghindari langkah maupun pernyataan yang dapat memperuncing perbedaan.

Menurutnya, menjaga persatuan bukan berarti menghilangkan kritik. Kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab dan direspons secara bijak justru dapat menjadi bagian dari kehidupan berbangsa.

“Persatuan tidak berarti meniadakan kritik. Justru, kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab dan ditanggapi dengan bijak dapat memperkuat kehidupan berbangsa,” ujar Pontjo.

Ia juga mengaitkan tantangan tersebut dengan situasi global yang penuh ketidakpastian. Konflik dan ancaman perang, tekanan terhadap energi dan pangan, serta krisis ekologi disebut dapat memengaruhi kehidupan masyarakat dan stabilitas nasional.

Dalam situasi tersebut, kata Pontjo, kesiapsiagaan, kerja sama lintas lembaga, dan kemampuan menjaga ketenangan publik menjadi penting.

Pontjo menilai posisi Kapolri memiliki peran strategis dalam konteks tersebut. Polri tidak hanya menjalankan tugas memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam penegakan hukum, pelayanan kepada masyarakat, serta memastikan warga memiliki ruang yang aman untuk menyampaikan aspirasi.

Karena itu, ia menyambut kepemimpinan Suyudi dengan harapan agar pengalaman di BNN dan kepolisian dapat menjadi modal dalam menghadapi tantangan yang semakin beragam.

“Semoga di bawah kepemimpinan Komjen Pol. Suyudi Ario Seto, Polri semakin kuat menjaga keamanan, merawat kepercayaan masyarakat, dan turut memelihara persatuan Indonesia,” kata Pontjo. (Boy)

Related posts