Situasi Sulit Saat Pandemi, Undip – BI Bersinergi Bangkit dan Optimis Majukan Bangsa Ini

0

SEMARANG (Suara Karya): Universitas Diponegoro (Undip) Semarang menggelar upacara akademik dalam rangka Dies Natalis ke-64 pada 15 Oktober 2021. Memperingati usianya yang ke-64 Undip memberikan penghargaan kepada mahasiswa berprestasi, tenaga penddik berprestasi, dan tenaga kebersihan. Selain itu, juga disematkan beberapa nama mantan rektor Undip sebagai nama jalan di lingkungan kampus Undip Semarang.

Hal lain yang yang sangat penting, Undip juga menggelar orasi ilmiah dari Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. Orasi yang mengambil tema Bangkit dan Optimis, Sinergi dan Inovasi untuk Kemajuan Negeri dilaksanakan pada Jumat (15/10) diharapkan dapat memberikan gambaran dan meningkatkan sinergi antara Undip dan BI.

“Ini artinya orasi Gubernur BI sejalan dengan salah satu tagline Undip, kolaborasi,” ucap Prof.Dr. Yos Johan Utama, SH.,M.Hum selaku Rektor Universitas Diponegoro.

“Untuk itu, mari kita terus tingkatkan kerja sama dengan berbagai pihak, sehingga Undip dapat memberikan bakti-nya dalam berbagai bidang, terutama di situasi sulit saat ini,” imbuh Prof Yos begitu ia akrab disapa.

Selanjutnya, dalam paparannya Gubernur BI menyampaikan menghadapi pandemi dan memulihkan ekonomi harus bersinergi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak. “Ada 3 esensi dalam memahami apa dampak dari pandemi yang dapat kita pelajari,” ungkapnya.

Pertama, bahwa ekonomi global ternyata berjalan tidak seimbang, negara maju lebih cepat dan negara -negara berkembang mengalami ketertinggalan karena kemampuan untuk menyediakan vaksinasi dan fasilitas kesehatan serta korporasi yang memar karena pandemi.

Kedua, peradaban digitalisasi, digitalisasi di bidang ekonomi, keuangan, pendidikan, kesehatan di dalam setiap aspek kehidupan kita. Pandemi Covid-19 menghadirkan di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Ketiga adalah agar kita lebih bersahabat dengan alam, yaitu tuntutan untuk ekonomi dan keuangan hijau lebih ramah lingkungan dan lebih berkelanjutan.

“Respon yang harus kami lakukan, ternyata memang kita tidak bisa sendiri, kita tidak boleh sendiri, sinergi, kolaborasi, berjamaah, bersilaturahmi, itulah yang terus kami lakukan,” tambah Gubernur BI.

Pertama adalah sinergi pemulihan ekonomi dan keuangan antara pemerintah, BI, OJK, LPS, dan berbagai pihak bagaimana bersama mengatasi pandemi dan memulihkan ekonomi. Yang kedua, BI mengembangkan 5 instrumen kebijakan agar bisa lebih berkontribusi, bermanfaat bagi ekonomi negeri dan masyarakat untuk bersama menjaga stabilitas, mendorong pertumbuhan termasuk juga solidaritas untuk ikut membiayai negeri di masa pandemi ini.

Ketiga adalah digitalisasi sistem pembayaran, keempat adalah turut mendukung pemerintah dalam transformasi sistem riil dan keuangan. Kelima, mempersiapkan ekonomi dan keuangan hijau” tuturnya.

Lebih lanjut Perry menyampaikan mengenai ketahanan, pemulihan, digitalisasi yang merupakan tiga pelajaran penting dari pandemi Covid-19 yakni tantangan utama perekonomian adalah perekonomian global tidak merata, scaring effect mempengaruhi SSK (Stabilitas Sistem Keuangan), akselerasi ekonomi dan keuangan digital, dan adopsi ekonomi.

Pada tahun 2021, ekonomi global diperkirakan akan tumbuh sebesar 5.8% namun pemulihan tersebut tidak merata. Negara dengan akses vaksin (terutama negara maju) akan pulih lebih cepat, sementara negara EMEs (Emerging Market Economies) syang memiliki keterbatasan akses vaksin akan pulih lebih lambat. The Fed akan memulai tapering-off pada akhir 2021. Hal ini akan membuat kebijakan di EMEs menjadi lebih kompleks, terutama apabila kondisi domestik masih membutuhkan kebijakan makroekonomi yang longgar/akomodatif.

Digitalisasi sistem pembayaran, meningkatnya preferensi dan akseptasi masyarakat terhadap teknologi digital akan semakin mendorong pesatnya transaksi ekonomi digital, akselerasi perkembangan fintech, dan digital banking ke depan. Pandemi Covid-19 berdampak pada peningkatan leverage dari korporasi non-keuangan yang menyebabkan peningkatan risiko kegagalan korporasi. Pada tahun 2020, jumlah kegagalan korporasi (corporate defaults) mencapai level tertinggi sejak Global Financial Crisis. Sehingga perlu langkah jangka pendek pemulihan korporasi.

“Segala sesuatu bisa dilakukan secara hybrid atau virtual dari tempat masing-masing, di mana dan kapan pun juga, mengajar, belajar dan bekerja dari mana-mana, dan itu mengurangi mobiltas manusia, mengurangi polusi, tentu saja semakin hijau dan perilaku kita ramah lingkungan,” ungkap Perry.

Dalam bidang science dan teknologi, bagaimana menghadirkan teknologi untuk sumber daya energi lebih ramah lingkungan.

Dirinya berharap Undip terus berkiprah, GOM atau Generator Ozon Medis adalah salah satu inovasi yang membanggakan Undip, saya yakin inovasi-inovasi akan banyak dihadirkan oleh Undip di bidang teknologi, kesehatan, farmasi, di bidang mana pun juga termasuk di bidang ekonomi dan keuangan, baik dalam kurikulum dan dalam praktek kehidupan.

“Pandemi boleh berlalu, tetapi pesan Tuhan selalu melekat di kalbu mendayakan akal pikiran kita untuk bersinergi, berinovasi bagi kemajuan negeri,” pungkas Gubernur BI. (Rizal Cahyono)